<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Qur&#039;an dan Sunnah</title>
	<atom:link href="http://qurandansunnah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qurandansunnah.wordpress.com</link>
	<description>Agama itu Nasehat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 07:42:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='qurandansunnah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/75865d3bd544ff2a7a407d8557ab7f9f?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Qur&#039;an dan Sunnah</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/osd.xml" title="Qur&#039;an dan Sunnah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://qurandansunnah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>POLIGAMI BUKAN SUNNAH, TETAPI HUKUMNYA JAIZ (BOLEH)</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/07/12/poligami-bukan-sunnah-tetapi-hukumnya-jaiz-boleh/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/07/12/poligami-bukan-sunnah-tetapi-hukumnya-jaiz-boleh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 01:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Poligami bukan Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2656</guid>
		<description><![CDATA[- Apakah Disunnahkan poligami dalam Islam ? - Sebuah Petikan Tentang Keadilan Salaf - Peringatan bagi yang Tergesa-gesa Allah Ta&#8217;ala berfirman: وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا Dan jika kamu takut tidak akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2656&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">- Apakah Disunnahkan poligami dalam Islam ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">- Sebuah Petikan Tentang Keadilan Salaf</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">- Peringatan bagi yang Tergesa-gesa<span id="more-2656"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil [265], Maka (kawinilah) seorang saja [266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. (QS. An Nisa&#8217; : 4)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">[265] <strong>Berlaku adil </strong>ialah <em><span style="text-decoration:underline;">perlakuan yang adil dalam memenuhi isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah</span></em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">[266] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat Ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para nabi sebelum nabi Muhammad ayat Ini membatasi poligami sampai empat orang saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">- Apakah Disunnahkan Poligami Dalam Islam ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Poligami ini disunnahkan bila seorang laki-laki dapat berbuat adil di antara istri-istrinya berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">Namun bila kalian khawatir tidak dapat berbuat adil maka nikahilah satu wanita saja</span></em>&#8221; (QS. An Nisa: 3)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan juga bila ia merasa dirinya aman dari terfitnah dengan mereka dan aman dari menyia-nyiakan hak Allah dengan sebab mereka, aman pula dari terlalaikan melakukan ibadah kepada Allah karena mereka. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya istri-istri dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian maka berhati-hatilah dari mereka</em>&#8220;. (QS. At Taghabun: 14) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di samping itu ia memandang dirinya mampu untuk menjaga kehormatan mereka dan melindungi mereka hingga mereka tidak ditimpa kerusakan, karena Allah tidak menyukai kerusakan. Ia mampu pula menafkahi mereka. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Hendaklah mereka yang belum mampu untuk menikah menjaga kehormatan dirinya hingga Allah mencukupkan mereka dengan keutamaan dari-Nya</em>&#8221; . (QS. An Nur:33) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(Dinukil dari &#8220;Fiqh Ta&#8217;addud Az Zawjaat&#8221;, hal. 5)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi&#8217;i pernah ditanya <strong><em>tentang hukum poligami</em></strong>, apakah sunnah? beliau menjawab: &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">Bukan sunnah, akan tetapi hukumnya jaiz (boleh)</span></em>&#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebuah Petikan Tentang Keadilan Salaf</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnu Abi Syaibah Rahimahullah berkata dalam &#8220;Al Mushannaf&#8221; (4/387): Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Ath Thayalisi dari Harun bin Ibrahim is berkata: Aku mendengar Muhammad berkata terhadap seseorang yang memiliki dua istri: &#8220;<em>Dibenci ia berwudlu hanya di rumah salah seorang istrinya sementara di rumah istri yang lain ia tidak pernah melakukannya</em>&#8220;. (Atsar ini shahih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selanjutnya beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Mughirah dari Abi Muasyir dari Ibrahim tentang seseorang yang mengumpulkan beberapa istri : &#8220;<em>Mereka menyamakan di antara istri-istrinya sampaipun sisa gandum dan makanan yang tidak dapat lagi ditakar/ditimbang (karena sedikitnya) maka mereka tetap membaginya tangan pertangan</em>&#8220;. (Atsar ini shahih dan Abu Muasyir adalah Ziyad bin Kulaib, seorang yang tsiqah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Peringatan !!!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di antara manusia ada yang tergesa-gesa dan bersegera melakukan poligami tanpa pertimbangan dan pemikiran, sehingga ia menghancurkan kebahagiaan keluarganya dan memutus ikatan tali (pernikahannya) dan menjadi seperti orang yang dikatakan oleh seorang A&#8217;rabi (dalam bait syairnya):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku menikahi dua wanita karena kebodohanku yang sangat</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan apa yang justru mendatangkan sengsara</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tadinya aku berkata, ku kan menjadi seekor domba jantan di antara keduanya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Merasakan kenikmatan di antara dua biri-biri betina pilihan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun kenyataannya, aku laksana seekor biri-biri betina yang berputar di pagi dan sore hari diantara dua serigala</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Membuat ridla istri yang satu ternyata mengobarkan amarah istri yang lain</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hingga aku tak pernah selamat dari satu diantara dua kemurkaan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku terperosok ke dalam kehidupan nan penuh kemudlaratan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikianlah mudlarat yang ditimbulkan di antara dua madu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Malam ini untuk istri yang satu, malam berikutnya untuk istri yang lain, selalu sarat dengan cercaan dalam dua malam</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka bila engkau suka untuk tetap mulia dari kebaikan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">yang memenuhi kedua tanganmu hiduplah membujang</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">namun bila kau tak mampu, cukup satu wanita, hingga mencukupimu dari beroleh kejelekan dua madu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bait syairnya yang dikatakan A&#8217;rabi ini tidak benar secara mutlak, tetapi barangsiapa yang takalluf (<em><span style="text-decoration:underline;">memberat-beratkan dirinya</span></em>) <em>melakukan poligami tanpa disertai kemampuan memberikan nafkah, pendidikan dan penjagaan yang baik, maka dimungkinkan akan menimpanya apa yang dikisahkan oleh A&#8217;rabi itu yaitu berupa <span style="text-decoration:underline;">kesulitan dan kepayahan</span></em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Wallahu A&#8217;lam </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">(sumber dari kitab : Al Intishar lihuhuqil Mu&#8217;minat. Karya : Ummu Salamah As Salafiyyah Hal. 154 -. Penerbit darul Atsar Yaman Cet. I Th. 2002. Telah diterjemahkan dengan judul buku : Persembahan untukmu Duhai Muslimah Cet. <strong>Pustaka Al Haura&#8217;</strong> Yogyakarta)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Dikutip dari: Darussalaf.org offline Penulis: Ummu Salamah As Salafiyyah Judul: Catatan ringan tentang POLIGAMI</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2656/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2656&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/07/12/poligami-bukan-sunnah-tetapi-hukumnya-jaiz-boleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Wanita Haidh Masuk ke Masjid ?</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/21/bolehkah-wanita-haidh-masuk-ke-masjid/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/21/bolehkah-wanita-haidh-masuk-ke-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 02:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2651</guid>
		<description><![CDATA[Bolehkah Wanita Haidh Masuk ke Masjid ? Pertanyaan: Bagaimana hukumnya wanita yang sedang haidh masuk masjid untuk suatu keperluan, misalnya mengikuti taklim? Sementara ada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid kepada wanita yang haidh dan orang yang junub.” ‘Athiyyah, Purwokerto Jawab : Dalam permasalahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2651&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/21/bolehkah-wanita-haidh-masuk-ke-masjid/" target="_blank"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bolehkah Wanita Haidh Masuk ke Masjid ? </span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bagaimana hukumnya wanita yang sedang haidh masuk masjid untuk suatu keperluan, misalnya mengikuti taklim? Sementara ada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam bersabda:<span id="more-2651"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid kepada wanita yang haidh dan orang yang junub.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">‘Athiyyah, Purwokerto</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam permasalahan ini ada perselisihan pendapat di kalangan ulama, ada yang mengatakan boleh dan ada pula yang berpendapat tidak boleh. Kata Imam Asy Syaukani: “Zaid bin Tsabit berpendapat boleh bagi wanita haidh masuk ke dalam masjid kecuali bila dikhawatirkan darahnya menajisi masjid. Al Imam Al Khaththabi menghikayatkan kebolehan ini dari Malik, Asy Syafi`i, Ahmad dan Ahlu dzahir. Sedangkan yang berpendapat tidak boleh adalah Sufyan dan Ashabur Ra’yi, dan pendapat ini yang masyhur dari madzhabnya Al Imam Malik.” (Nailul Authar, 1/320).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun yang kuat dari pendapat yang ada, wallahu ta‘ala a‘lam bisshawwab, wanita haidh dibolehkan masuk masjid.</span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam kitab beliau Al Muhalla (2/184-187), karena tidak ada dalil yang menunjukkan larangan akan hal ini, sementara Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalamtelah bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Sesungguhnya orang mukmin itu tidaklah najis</em>.” (HR. Al Bukhari no. 283 dan Muslim no. 371)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di masa hidupnya Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam ada seorang wanita hitam bekas budak yang biasa membersihkan masjid Nabi dan ia memiliki tenda di dalam masjid. Sebagai seorang wanita tentunya ia mengalami haidh namun tidak didapatkan adanya perintah Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalamagar dia keluar dari masjid ketika masa haidhnya. (Haditsnya disebutkan Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya no. 439).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sementara hadits yang anda tanyakan adalah hadits yang dha’if (lemah),</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> dijelaskan pula oleh Ibnu Hazm sisi kelemahan hadits ini, sebagaimana dalam Al Muhalla. Demikian pula Asy Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (118-119).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">Batasan kufu dalam pernikahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apakah batasan kufu dalam pernikahan? Apakah adanya kecocokan hati, perasaan, cara berpikir, cara pandang dan kefaqihan dalam agama termasuk dalam kekufuan ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dianwati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ummuyusuf@myquran.com</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> ahli fiqih (fuqaha) berbeda pendapat tentang kafa’ah (kufu) dalam pernikahan, namun yang benar sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma‘ad (4/22), yang teranggap dalam kafa’ah adalah perkara dien (agama). Beliau t berkata tentang permasalahan ini diawali dengan menyebutkan beberapa ayat Al Qur’an, di antaranya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berkabilah-kabilah agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa</em>.” (Al Hujurat: 13)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Orang-orang beriman itu adalah bersaudara.”</em> (Al Hujurat: 10)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” (At Taubah: 71)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik…”</em> (An Nur: 26)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kemudian beliau lanjutkan dengan beberapa hadits, di antaranya sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Tidak ada keutamaan orang Arab dibanding orang ajam (non Arab) dan tidak ada keutamaan orang ajam dibanding orang Arab. Tidak pula orang berkulit putih dibanding orang yang berkulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dibanding orang kulit putih, kecuali dengan takwa. Manusia itu dari turunan Adam dan Adam itu diciptakan dari tanah</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wassalam bersabda kepada Bani Bayadlah: “<em>Nikahkanlah wanita kalian dengan Abu Hindun</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka merekapun menikahkannya sementara Abu Hindun ini profesinya sebagai tukang bekam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wassalam sendiri pernah menikahkan Zainab bintu Jahsyin Al Qurasyiyyah, seorang wanita bangsawan, dengan Zaid bin Haritsah bekas budak beliau. Dan menikahkan Fathimah bintu Qais Al Fihriyyah dengan Usamah bin Zaid, juga menikahkan Bilal bin Rabah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin `Auf.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari dalil yang ada dipahami bahwasanya penetapan Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wassalam dalam masalah kufu adalah dilihat dari sisi agama. Sebagaimana tidak boleh menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki kafir, tidak boleh pula menikahkan wanita yang menjaga kehormatan dirinya dengan laki-laki yang fajir (jahat/jelek).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al Qur’an dan As Sunnah tidak menganggap dalam kafa’ah kecuali perkara agama, adapun perkara nasab (keturunan), profesi dan kekayaan tidaklah teranggap. Karena itu boleh seorang budak menikahi wanita merdeka dari turunan bangsawan yang kaya raya apabila memang budak itu seorang yang ‘afif (menjaga kehormatan dirinya) dan muslim. Dan boleh pula wanita Quraisy menikah dengan laki-laki selain suku Quraisy, wanita dari Bani Hasyim boleh menikah dengan laki-laki selain dari Bani Hasyim. (Zaadul Ma‘ad, 4/22) .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Sumber: http://asysyariah.com Penulis : Pengasuh Rubrik Muslimah Bertanya <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank">Judul: Wanita Haidh Masuk ke Masjid dan batasan Kufu Dalam pernikahan</a></span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
1.<a title="Taut Tetap ke Apakah Sah Akad Nikah Ketika Sedang Haid?" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/apakah-sah-akad-nikah-ketika-sedang-haid/">APAKAH SAH AKAD NIKAH KETIKA SEDANG HAID?</a><br />
2.<a title="Taut Tetap ke Orang Tua Menolak Menikahkan Anak Perempuannya Karena Alasan Study" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/16/orang-tua-menolak-menikahkan-anak-perempuannya-karena-alasan-study/">Orang Tua Menolak Menikahkan Anak Perempuannya Karena Alasan Study</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/09/25/fiqih-tentang-masalah-wanita/" target="_blank">Fiqih Tentang Masalah Darah Wanita (Mengenal Darah-darah Wanita)</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/08/03/hukum-mengerik-bulu-alis/" target="_blank">Larangan Mencabut dan Mengerik Bulu Alis</a><br />
5.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/11/hukum-%e2%80%9canal-sex%e2%80%9d/" target="_blank"> BOLEHKAH MEYETUBUHI ISTRI DARI DUBURNYA KARENA ISTRI SEDANG HAID ?</a><br />
6.<a title="Permanent link to Bolehkah Bersetubuh Sebelum Istri Mandi Haid ?" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/12/12/bolehkah-bersetubuh-sebelum-istri-mandi-haid/">Bolehkah Bersetubuh Sebelum Istri Mandi Haid ?</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2651&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/21/bolehkah-wanita-haidh-masuk-ke-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGATASI KONDISI PERPECAHAN UMMAT ISLAM</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/14/bersatu-dan-berpisah-karena-allah-subhanahu-wa-taala/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/14/bersatu-dan-berpisah-karena-allah-subhanahu-wa-taala/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ciri ciri pengikut ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Janganlah Menyelisihi Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[pengikut nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Semua Mengaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah]]></category>
		<category><![CDATA[siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[umat islam tebagi 73 golongan]]></category>
		<category><![CDATA[umat islam terbagi 73 golongan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2645</guid>
		<description><![CDATA[Bersatu dan Berpisah Karena Allah Kondisi umat Islam yang berpecah sering memunculkan keprihatinan. Dari beberapa tokoh Islam sering muncul ajakan agar semua kelompok bersatu dalam satu wadah, tidak perlu mempermasalahkan perbedaan yang ada karena yang penting tujuannya sama yaitu memajukan Islam. Mungkinkah umat Islam bersatu dan bagaimana caranya? Persatuan dan perpecahan merupakan dua kata yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2645&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/14/bersatu-dan-berpisah-karena-allah-subhanahu-wa-taala/" target="_blank"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bersatu dan Berpisah Karena Allah</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kondisi umat Islam yang berpecah sering memunculkan keprihatinan. Dari beberapa tokoh Islam sering muncul ajakan agar semua kelompok bersatu dalam satu wadah, tidak perlu mempermasalahkan perbedaan yang ada karena yang penting tujuannya sama yaitu memajukan Islam. Mungkinkah umat Islam bersatu dan bagaimana caranya? <span id="more-2645"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Persatuan dan perpecahan merupakan dua kata yang saling berlawanan. Persatuan identik dengan keutuhan, persaudaraan, kesepakatan, dan perkumpulan. Sedangkan perpecahan identik dengan perselisihan, permusuhan, pertentangan dan perceraian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Persatuan merupakan perkara yang diridhai dan diperintahkan oleh Allah, sedangkan perpecahan merupakan perkara yang dibenci dan dilarang oleh-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.”</em> (Ali Imran: 103) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “<em>Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul.</em>” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/367) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “<em>Sesungguhnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita satu jalan yang wajib ditempuh oleh seluruh kaum muslimin, yang merupakan jalan yang lurus dan manhaj bagi agama-Nya yang benar ini</em>. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Dan bahwasanya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan kepada kalian agar kalian bertaqwa</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.” (Al-An’am: 153). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebagaimana pula Dia telah melarang umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari perpecahan dan perselisihan pendapat, karena yang demikian itu merupakan sebab terbesar dari kegagalan dan merupakan kemenangan bagi musuh. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai</em>.” (Ali Imran: 103) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan firman-Nya ta’ala: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu: ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya’. Amat berat bagi orang musyrik agama yang kalian seru mereka kepada-Nya</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.” (Asy-Syura: 13). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Mutanawwi’ah, 5/202, dinukil dari kitab Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, hal. 176) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asas dan Hakekat Persatuan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asas bagi persatuan yang diridhai dan diperintahkan oleh Allah, bukanlah kesukuan, organisasi, kelompok, daerah, partai, dan lain sebagainya. Akan tetapi asasnya adalah: Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As-Salafush Shalih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai</em>.” (Ali Imran: 103) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “<em>Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al Quran) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Ia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah secara keyakinan dan amalan, itulah sebab keselarasan kata dan bersatunya apa yang tercerai-berai, yang dengannya akan teraih maslahat dunia dan agama serta selamat dari perselisihan</em>…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “<em>Sebagaimana tidak ada generasi yang lebih sempurna dari generasi para shahabat, maka tidak ada pula kelompok setelah mereka yang lebih sempurna dari para pengikut mereka. Maka dari itu siapa saja yang lebih kuat dalam mengikuti hadits Rasulullah dan Sunnahnya, serta jejak para shahabat, maka ia lebih sempurna. Kelompok yang seperti ini keadaannya, akan lebih utama dalam hal persatuan, petunjuk, berpegang teguh dengan tali (agama) Allah dan lebih terjauhkan dari perpecahan, perselisihan, dan fitnah. Dan siapa saja yang menyimpang jauh dari itu (Sunnah Rasulullah dan jejak para shahabat), maka ia akan lebih jauh dari rahmat Allah dan lebih terjerumus ke dalam fitnah</em>.” (Minhaajus Sunnah, 6/368) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh karena itu, walaupun berbeda-beda wadah, organisasi, yayasan dan semacamnya, namun dengan syarat “tidak fanatik dengan ‘wadah’-nya dan berada di atas satu manhaj”, berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman para shahabat (As-Salafush Shalih), maka ia tetap dinyatakan dalam koridor persatuan dan bukan bagian dari perpecahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “<em>Tidak masalah jika mereka berkelompok-kelompok di atas jalan ini, satu kelompok di Ib dan satu kelompok di Shan’a, akan tetapi semuanya berada di atas manhaj salaf, mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, berdakwah di jalan Allah dan ber-intisab kepada Ahlus Sunnah Wal Jamaah, tanpa ada sikap fanatik terhadap kelompoknya. Yang demikian ini tidak mengapa, walaupun berkelompok-kelompok, asalkan satu tujuan dan satu jalan (manhaj)</em>.” (At-Tahdzir Minattafarruqi Wal Hizbiyyah, karya Dr. Utsman bin Mu’allim Mahmud dan Dr. Ahmad bin Haji Muhammad, hal. 15). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “<em>Bila kita anggap bahwa di negeri-negeri kaum muslimin terdapat kelompok-kelompok yang berada di atas manhaj ini (manhaj salaf, pen), maka tidak termasuk kelompok-kelompok perpecahan. Sungguh ia adalah satu jamaah, manhajnya satu dan jalannya pun satu. Maka terpisah-pisahnya mereka di suatu negeri bukanlah karena perbedaan pemikiran, aqidah dan manhaj, akan tetapi semata perbedaan letak/tempat di negeri-negeri tersebut. Hal ini berbeda dengan kelompok-kelompok dan golongan-golongan yang ada, yang mereka itu berada di satu negeri namun masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya.</em>” (Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, hal. 180). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa bila suatu persatuan berasaskan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman para shahabat (As-Salafush Shalih) maka itulah sesungguhnya hakekat persatuan yang diridhai dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, walaupun terpisahkan oleh tempat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bahaya Perpecahan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bila kita telah mengetahui bahwa hakekat persatuan yang diridhai dan diperintahkan oleh Allah adalah yang berasaskan Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman As-Salafush Shalih, maka bagaimana dengan firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang ada di masyarakat kaum muslimin, yang masing-masing berpegang dengan prinsip dan aturan kelompoknya, saling bangga satu atas yang lain, loyalitasnya dibangun di atas kungkungan ikatan kelompok, apakah sebagai embrio persatuan umat, ataukah sebagai wujud perpecahan umat? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “<em>Tidak diragukan lagi bahwa banyaknya firqah dan jamaah di masyarakat kaum muslimin merupakan sesuatu yang diupayakan oleh setan dan musuh-musuh Islam dari kalangan manusia</em>.” (Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Mutanawwi’ah, 5/204, dinukil dari kitab Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, hal. 177). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beliau juga berkata: “<em>Adapun berkelompok untuk Ikhwanul Muslimin atau Jama’ah Tabligh atau demikian dan demikian, kami tidak menasehatkannya, ini salah! Akan tetapi kami nasehatkan mereka semua agar menjadi satu golongan, satu kelompok, saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, serta bersandar kepada Ahlus Sunnah Wal Jamaah.</em>” (At-Tahdzir Minattafarruqi wal Hizbiyyah, hal. 15). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “<em>Tidaklah asing bagi setiap muslim yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah serta manhaj As-Salafush Shalih, bahwasanya bergolong-golongan bukan dari ajaran Islam, bahkan termasuk yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat dari Al Qur’anul Karim</em>, di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em><span style="text-decoration:underline;">Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka</span></em>.” (Ar-Rum: 31-32).[Fataawa Asy-Syaikh Al-Albani, karya ‘Ukasyah Abdul Mannan, hal. 106, dinukil dari Jama’ah Wahidah Laa Jama’at, hal. 178] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “<em>Dan tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok ini menyelisihi apa yang telah diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan menyelisihi apa yang selalu dihimbau dalam firman-Nya: </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka bertakwalah kepada-Ku</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.” (Al-Mu’minun: 52) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lebih-lebih tatkala kita melihat akibat dari perpecahan dan bergolong-golongan ini, di mana tiap-tiap golongan mengklaim yang lainnya dengan kejelekan, cercaan dan kefasikan, bahkan bisa lebih dari itu. Oleh karena itu saya memandang bahwa bergolong-golongan ini adalah perbuatan yang salah.” (At-Tahdzir Minattafarruqi wal Hizbiyyah, hal. 16). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “<em>Agama kita adalah agama persatuan, dan perpecahan bukanlah dari agama. Maka berbilangnya jamaah-jamaah ini bukanlah dari ajaran agama, karena agama memerintahkan kepada kita agar menjadi satu jamaah.</em>” (Muraja’at fii Fiqhil Waaqi’ As Siyaasi wal Fikri, karya Dr. Abdullah bin Muhammad Ar-Rifa’i rahimahullah, hal. 44-45). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beliau juga berkata: “<em>Hanya saja akhir-akhir ini, muncul kelompok-kelompok yang disandarkan kepada dakwah dan bergerak di bawah kepemimpinan yang khusus, masing-masing kelompok membuat manhaj tersendiri, yang akhirnya mengakibatkan perpecahan, perselisihan dan pertentangan di antara mereka, yang tentunya ini dibenci oleh agama dan terlarang di dalam Al Qur’an dan As Sunnah</em>.” (Taqdim/Muqaddimah kitab Jama’ah Wahidah Laa Jama’at). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bukankah mereka juga berpegang dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah? Demikian terkadang letupan hati berbunyi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi berkata: “<em>Jika benar apa yang dinyatakan oleh kelompok-kelompok yang amat banyak ini, bahwa mereka berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya mereka tidak akan berpecah belah, karena kebenaran itu hanya satu dan berbilangnya mereka merupakan bukti yang kuat atas perselisihan di antara mereka, suatu perselisihan yang muncul dikarenakan masing-masing kelompok berpegang dengan prinsip yang berbeda dengan kelompok lainnya. Tatkala keadaannya demikian, pasti terjadi perselisihan, perpecahan, dan permusuhan</em>.” (An-Nashrul Azis ‘Alaa Ar Raddil Waziz, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali rahimahullah, hal. 46) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/14/bersatu-dan-berpisah-karena-allah-subhanahu-wa-taala/" target="_blank"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan Penting </span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1.Bagaimanakah masuk menjadi anggota kelompok-kelompok yang ada dengan tujuan ingin memperbaiki dari dalam ? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Abdul ‘Azis bin Baaz rahimahullah berkata: “<em>Adapun berkunjung untuk mendamaikan di antara mereka, mengajak dan mengarahkan kepada kebaikan dan menasehati mereka, dengan tetap berpijak di atas jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah maka tidak apa-apa. Adapun menjadi anggota mereka, maka tidak boleh. Dan jika mengunjungi Ikhwanul Muslimin atau Firqah Tabligh dan menasehati mereka karena Allah seraya berkata: ‘Tinggalkanlah oleh kalian fanatisme, wajib bagi kalian (menerima) Al Qur’an dan As Sunnah, berpegang teguhlah dengan keduanya, bergabunglah kalian bersama orang-orang yang baik, tinggalkanlah perpecahan dan perselisihan’, maka ini adalah nasehat yang baik</em>.” (At-Tahdzir Minattafarruqi Wal Hizbiyyah, hal. 15-16) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Bukankah dengan adanya peringatan terhadap kelompok-kelompok yang ada dan para tokohnya, justru semakin membuat perpecahan dan tidak akan terwujud persatuan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Hamd bin Ibrahim Al-‘Utsman berkata: “<em>Kebanyakan orang-orang awam dari kaum muslimin kebingungan dalam permasalahan ini, mereka mengatakan: ‘Mengapa sesama ulama kok saling memperingatkan satu dari yang lain?!’ Di kalangan terpelajar pun demikian, mereka meminta agar bantahan dan peringatan terhadap orang-orang yang salah dan ahlulbid’ah dihentikan demi terwujudnya persatuan dan kesatuan umat. Mereka tidak mengetahui bahwa bid’ah-bid’ah, kesalahan-kesalahan dan jalan yang berbeda-beda (dalam memahami agama ini, pen) justru merupakan faktor utama penyebab perpecahan, dan faktor utama yang dapat mengeluarkan manusia dari jalan yang lurus. Dengan tetap adanya jalan-jalan yang menyimpang itu, tidak akan terwujud persatuan selama-lamanya</em>.” (Zajrul Mutahaawin bi Dharari Qa’idah Al-Ma’dzirah Watta’aawun, hal. 98) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nasehat dan Ajakan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh ‘Ubaid bin Abdullah Al-Jabiri berkata: “<em>Tidak ada solusi dari perpecahan, tercabik-cabiknya kekuatan dan rapuhnya barisan kecuali dengan dua perkara:</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Menanggalkan segala macam bentuk penyandaran (atau keanggotaan) yang dibangun di atas ikatan kelompok-kelompok nan sempit, yang dapat menimbulkan perpecahan dan permusuhan. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Kembali kepada jamaah Salafiyyah (yang bermanhaj salaf, pen), karena sesungguhnya dia adalah ajaran yang lurus, dan cahaya putih yang terang benderang, malamnya sama dengan siangnya, tidaklah ada yang tersesat darinya kecuali orang-orang yang binasa. Dia adalah Al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat, pen), dan At-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang ditolong dan dimenangkan oleh Allah, pen). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: ‘Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati dan wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar&#8230;’.”</em> (Tanbih Dzawil ‘Uquulis Salimah ilaa Fawaida Mustanbathah Minassittatil Ushulil ‘Azhimah, hal. 24). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sungguh benar apa yang dinasehatkan oleh Asy-Syaikh ‘Ubaid bin Abdullah Al-Jabiri, karena As-Salafiyyah tidaklah sama dengan kelompok-kelompok yang ada. As-Salafiyyah tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, kelompok tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu… suatu kungkungan hizbiyyah yang sempit, bahkan As-Salafiyyah dibangun di atas Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As-Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia adalah saudara, walaupun dipisahkan oleh tempat dan waktu… suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala, senantiasa menjauhkan kita semua dari perpecahan, dan menyatukan kita semua di atas persatuan hakiki yang berasaskan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As- Salafush Shalih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:#003366;">Sumber://Salafy.or.id offline Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank">Judul: Bersatu dan Berpisah Karena Allah</a></span></p>
<p>Baca Artikel Terkait ini:<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/27/persatuan-hakiki-adalah-persatuan-diatas-sunnah-bukan-diatas-kelompok-atau-partai/" target="_blank">Persatuan Hakiki adalah Persatuan Diatas Sunnah bukan diatas Kelompok atau Partai</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/20/semua-mengaku-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-siapa-mereka-yang-sesungguhnya/" target="_blank">Semua Mengaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Siapa mereka yang Sesungguhnya?</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/18/ahlus-sunnah/" target="_blank">Mengetahui Ciri-ciri Ahlus Sunnah</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/21/siapa-yang-dinamakan-ulama-ahlus-sunnah/" target="_blank">Siapa yang dinamakan Ulama Ahlus Sunnah?</a><br />
5.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/21/mengenal-para-ulama-ahlul-sunnah/" target="_blank">Mengenal Para Ulama Ahlul Sunnah</a><br />
6.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/27/taqlid-beramal-dengan-pendapat-seseorang-atau-golongan-tanpa-didasari-dalil/" target="_blank">Taqlid, Beramal Dengan Pendapat Seseorang atau Golongan Tanpa Didasari Dalil</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2645&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/14/bersatu-dan-berpisah-karena-allah-subhanahu-wa-taala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa kita harus mengikuti AS SALAF ?</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/08/kenapa-kita-harus-mengikuti-as-salaf/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/08/kenapa-kita-harus-mengikuti-as-salaf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 08:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[best of man]]></category>
		<category><![CDATA[jenis jenis orang]]></category>
		<category><![CDATA[macam macam orang manusia]]></category>
		<category><![CDATA[orang orang terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[orang orang terdahulu]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang terbaik didunia]]></category>
		<category><![CDATA[siapa saja orang manusia terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[sifat sifat orang manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2640</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa kita harus mengikuti AS SALAF? Penulis: Muhammad Naashiruddiin al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala Pertanyaan : Kenapa harus dinamakan dengan as Salafiyyah?? Apakah da`wah ini merupakan da`wah hizbiyyah, atau da`wah thooifiyyah atau da`wah madzhabiyyah, atau dia ini merupakan satu golongan yang baru dalam Islam ini?? Jawaban : Sesungguhnya kata kata “as Salaf” ma`ruufun (sangat dikenal) dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2640&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/08/kenapa-kita-harus-mengikuti-as-salaf/" target="_blank"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kenapa kita harus mengikuti AS SALAF?</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Penulis: Muhammad Naashiruddiin al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan : </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kenapa harus dinamakan dengan as Salafiyyah?? Apakah da`wah ini merupakan da`wah hizbiyyah, atau da`wah thooifiyyah atau da`wah madzhabiyyah, atau dia ini merupakan satu golongan yang baru dalam Islam ini??<span id="more-2640"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawaban : </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sesungguhnya kata kata “as Salaf” ma`ruufun (sangat dikenal) dalam bahasa `arab dan di dalam syari`at ini, yang terpenting bagi kita disini adalah pembahasannya dari sisi syari`at.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sesungguhnya telah shohih dari pada Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau `Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada anaknya Faathimah radhiallahu `anha sebelum beliau `Alaihi wa Sallam wafat :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">((فاتقي الله واصبري، فإنه نعم السلف أنا لك&#8230;&#8230;)). رواه مسلم (2450) (98).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : <span style="text-decoration:underline;">“<em>Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya sebaik baik “<strong>salaf</strong>” bagi kamu adalah saya</em></span>…”[1]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penggunaan kalimat ‘salaf” sangat ma`ruf dikalangan para `ulama salaf dan sulit sekali untuk dihitung dan diperkirakan, cukup bagi kita satu contoh dari sekian banyak contoh contoh yang digunakan oleh mereka dalam rangka untuk memerangi bid`ah bid`ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">كل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em><span style="text-decoration:underline;">Setiap kebajikan itu adalah dengan mengikuti orang salaf dan setiap kejelekan tersebut adalah yang diada adakan oleh orang khalaf”</span></em><span style="text-decoration:underline;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ada sebahagian orang yang menda`wakan memiliki `ilmu, mengingkari penisbahan kepada “<strong>salaf”</strong>, dengan da`waan bahwa nisbah ini tidak ada asalnya. Dia berkata : “Tidak boleh bagi seseorang muslim untuk mengatakan saya seorang “salafiy,” seolah olah dia mengatakan juga : “Tidak boleh bagi seseorang mengatakan saya muslim yang mengikuti para “salafus shoolih” dengan apa apa mereka di atasnya dalam bentuk `aqidah, `ibadat dan akhlaq.” Maka tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran seperti ini kalau benar benar dia ingkari, sudah tentu diwajibkan juga bagi dia untuk berlepas diri dari Islam yang benar, yang telah dijalani oleh para “salafus shoolih”, Rasuulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan dalam hadist hadist yang mutawaatir diantaranya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">((خير أمتي قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم)).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : “<em>Sebaik baik ummat saya adalah yang hidup sezaman dengan saya (sahabatku), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Taabi`uun), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Baaut Taa`bi`iin)….</em>”[2]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari penisbahan kepada as Salafus Shoolih, sebagaimana kalau seandainya berlepas diri juga dari penisbahan yang lainnya, tidak mungkin bagi seorang ahli `ilmu untuk menisbahkannya kepada kekufuran atau kefasikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Orang yang mengingkari penamaan seperti ini (nisbah kepada “salaf”). Apakah kamu tidak menyaksikan, bukankah dia menisbahkan dirinya kepada satu madzhab dari sekian madzhab yang ada?, apakah madzhab ini berhubungan dengan `aqidah atau fiqh. Sesungguhnya dia mungkin Asy`ariy, Maaturiidiy dan mungkin juga dia dari kalangan ahlul hadist atau dia Hanafiy, Syaafi`ii, Maalikiy atau Hanbaliy diantara apa apa yang termasuk kedalam penamaan ahlus Sunnah wal Jamaa`ah, padahal seseorang yang menisbahkan dirinya kepada madzhab asy`Ariy atau kepada madzhab yang empat, sebenar dia telah menisbahkan dirinya kepada pribadi pribadi yang bukan ma`suum tanpa diragukan, walaupun diantara mereka ada juga para `ulama yang benar, alangkah aneh dan sangat mengherankan sekali, kenapa dia tidak mengingkari penisbahan kepada pribadi yang tidak ma`suum ini???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun seorang yang mengintisabkan dirinya kepada “as Salafus Shoolih”, sesungguhnya dia telah menyandarkan dirinya kepada seseorang yang ma`suum secara umum (yang dimaksud Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam), Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menyebutkan tentang tanda tanda “al Firqatun Naajiyyah” yaitu seseorang yang berpegang teguh dengan apa yang Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shohabatnya ada di atasnya, maka barang siapa yang berpegang teguh dengan jalan mereka secara yaqin, dia betul betul berada di atas petunjuk Robnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nisbah kepada “as Salaf” ini merupakan nisbah yang akan memuliakan seseorang menisbahkan dirinya kepadanya, kemudian memudahkan baginya untuk mengikuti jalan kelompok orang yang selamat tersebut, tidak sama dengan seseorang yang menisbahkan dirinya kepada nisbah yang lain, karena penisbahan itu tidak akan terlepas dia diantara dua perkara :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama, dia mungkin meng-intisabkan dirinya kepada seseorang yang bukan ma`suum, atau kepada orang orang yang mengikuti manhaj (methode) orang yang bukan ma`suum ini, yang tidak ada sifat suci baginya, berbeda dengan shahabat Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam yang memang diperintahkan kita oleh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam untuk berpegang teguh dengan sunnah (cara/methode)nya dan sunnah para shahabatnya setelah beliau wafat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan kita akan terus menerus menganjurkan dan menerangkan agar pemahaman kita terhadap al Quraan dan as Sunnah benar benar sesuai dengan pemahaman para shahabatnya Shollallahu `alaihi wa Sallam, supaya kita terjaga daripada berpaling dari kanan dan kekiri, juga terpelihara dari penyelewengan pemahaman yang khusus, sama sekali tidak ada dalil yang menunjukan atas pemahaman itu dari Kitaabullahi Subhaana wa Ta`aalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kemudian, kenapa tidak cukup bagi kita untuk menisbahkan diri kepada al Quraan as Sunnah saja?</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawabannya kembali kepada dua sebab :</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : Berhubungan dengan nash nash syar`ii.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Melihat kepada keadaan firqoh firqoh (golongan golongan) islaamiyah pada sa`at ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ditinjau dari sebab yang pertama : kita menemukan dalil dalil syar`ii memerintahkan untuk menta`ati sesuatu yang lain disandari kepada al Kitab dan as Sunnah, sebagaimana dikatakan oleh Allah Ta`aalaa :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">((يأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم&#8230;.)) النساء (59).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : “<em>Hai orang orang yang beriman, tha`atilah Allah dan tha`atilah RasulNya, dan ulil amri diantara kalian</em>.” An Nisaa` (59).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau seandainya ada waliyul amri yang dibai`at dikalangan kaum muslimin maka wajib untuk mentha`atinya sebagaimana kewajiban mentha`ati al Kitab dan as Sunnah, bersamaan dengan demikian kadang kadang dia salam serta orang orang disekitarnya, namun tetap wajib mentha`atinya dalam rangka mencegah kerusakan daripada perbedaan pandangan pandangan yang demikian dengan syarat yang ma`ruuf, demikian disebutkan dalam hadist yang shohih :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">((لا طاعة في معصية إنما الطاعة في المعروف)).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : “<em>Tidak ada ketha`atan di dalam ma`shiat, sesungguhnya ketha`atan itu hanya pada yang ma`ruuf</em>.”[3]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">((ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا)). النساء:(115).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : “<em>Barang siapa menyakiti (menyelisihi) as Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam setelah sampai (jelas) kepadanya hudan (petunjuk), lalu dia mengikuti bukan jalan orang mu`minin (para shahabat), kami akan palingkan dia kemana sekira kira dia berpaling, lalu kami akan masukan dia keneraka jahannam yang merupakan sejelek jelek tempat baginya</em>.” An Nisaa (115).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla Maha Tinggi dan Maha Suci Dia dari sifat kesia sia-an, tidak diragukan dan disangsikan lagi bahwasanya penyebutan jalan orang mu`miniin pada ayat ini sudah tentu ada hikmah dan faedah yang sangat tepat, yaitu; bahwasanya ada kewajiban yang penting sekali tentang pengikutan kita kepada Kitaabullahi Subhaana wa Ta`aalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam wajib untuk dicocokan dengan apa apa yang telah dijalani oleh orang muslimiin yang pertama dikalangan ummat ini, mereka adalah shahabat Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam; kemudian orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, inilah yang selalu diserukan oleh ad Da`watus Salafiyyah, dan apa apa yang telah difokuskan dalam da`wah tentang asas asas dan tarbiyahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sesungguhnya “ad Da`watus Salafiyyah”-merupakan satu satunya da`wah yang haq untuk menyatukan ummat ini, sementara apapun bentuk da`wah yang lain hanya memecah belah ummat ini; Allah `Azza wa Jalla berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">((وكونوا مع الصادقين)). التوبة (119).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : “<em>Hendaklah kamu bersama orang orang yang benar</em>.” At Taubah (119), dan barangsiapa yang membedakan diantara al Kitaab dan as Sunnah disatu sisi, dan antara “as Salafus Shoolih disisi yang lainnya dia bukan seorang yang jujur selama lamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ditinjau dari sebab yang kedua : Kelompok kelompok dan golongan golongan pada hari ini sama sekali tidak menghadap secara muthlaq untuk mengikuti jalan orang mu`miniin (jalan para shahabat radhiallahu `anhum) seperti yang disebutkan pada ayat diatas, dan dipertegas lagi dengan sebahagian hadist hadist yang shohih diantaranya : hadist al firaq (mengenai perpecahan) menjadi tujuh puluh tiga gologan, yang keseluruhannya di neraka kecuali satu, Rasuulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang sifatnya bahwasanya dia :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;هي التي على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي.&#8221;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : “<em>Dia (al Firqatun Naajiyyah) itu adalah sesuai dengan apa apa yang saya hari ini dan para shahabat saya.</em>”[4]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan hadist ini serupa dengan ayat diatas menyebutkan jalan orang mu`miniin, diantaranya juga hadist al `Irbaadh bin Saariyah radhiallahu `anhu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي&#8221;.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : “<em>Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah dan Sunnah al Khulafaaur Raasyidiin al Mahdiyiin setelah saya</em>.”[5]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jadi dihadist ini menunjukan dua Sunnah : Sunnatur Rasuul Shollallahu `alaihi wa Sallam dan Sunnatul Khulafaaur Raasyidiin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Diwajibkan bagi kita-akhir ummat ini- untuk kembali kepada al Kitaab dan as Sunnah dan jalan orang mu`miniin (as Salafus Shoolih), tidak dibolehkan bagi kita mengatakan: kita akan memahami al Kitab dan as Sunnah secara bebas (merdeka) tanpa meruju` kepada pemahaman “<em>as Salafus Shoolih</em>!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan wajib adanya penisbahan yang membedakan secara tepat pada zaman ini, maka tidak cukup kita katakan : saya muslim saja!, atau madzhab saya adalah al Islam!, padahal seluruh firqah firqah yang ada mengatakan demikian : ar raafidhiy (as Syii`ah) dan al ibaadhiy (al Khawaarij/Firqatut takfiir) dan al qadiyaaniy (Ahmadiyyah) dan selainnya dari firqah firqah yang ada!!, jadi apa yang membedakan kamu daripada mereka keseluruhannya??</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau kamu mengatakan : saya muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah juga belum cukup, karena pengikut pengikut firqah firqah yang sesat juga mengatakan demikian, baik al `Asyaairah dan al Maaturiidiyyah dan kelompok kelompok yang lain- keseluruhan pengikut mereka juga menda`wakan mengikuti yang dua ini (al Kitab dan as Sunnah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan tidak diragukan lagi adanya wujud penisbahan yang jelas lagi terang yang betul betul membedakan secara nyata yaitu kita katakan : “Ana muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah di atas pemahaman “as Salafus Shoolih,” atau kita katakan dengan ringkas : “Ana Salafiy.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan diatas inilah; sesungguhnya kebenaran yang tidak ada penyimpangan padanya bahwasanya tidak cukup bersandarkan kepada al Kitab dan as Sunnah saja tanpa menyandarkan kepada methode pemahaman “as Salaf” sebagai penjelas terhadap keduanya dalam sisi pemahaman dan gambaran, al `ilmu dan al `amal, ad Da`wah serta al Jihad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kita mengetahui bahwasanya mereka-radhiallahu `anhum- tidak pernah fanatik kepada madzhab tertentu atau kepada pribadi tertentu, tidak terdapat dikalangan mereka ada mengatakan : “Bakriy (pengikut Abu Bakr), `Umariy (pengikut `Umar), `Utsmaaniy (pengikut `Utsman), `Alawiy (pengikuti `Ali) radhiallahu `anhum ajma`iin, bahkan salah seorang dari kalangan mereka apabila memudahkan baginya untuk bertanya kepada Abu Bakr atau `Umar atau Abu Hurairah dia akan bertanya; yang demikian itu dikarenakan mereka betul betul yaqin bahwasanya tidak dibolehkan meng-ikhlashkan “ittibaa`” (pengikutan) kecuali pada seorang saja, ketahuilah dia adalah Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam; dimana beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya melainkan wahyu yang diwahyukan padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau kita terima bantahan para pengeritik ini bahwasanya kita hanya menamakan diri kita “kami orang muslim”, tanpa menisbahkan kepada “as Salafiyyah”-padahal nisbah itu merupakan nisbah yang mulia dan benar-, apakah mereka (para pengeritik) akan melepaskan dari penamaan dengan golongan golongan mereka, atau madzhab madzhab mereka, atau thoriiqah thoriiqah mereka- yang padahal penisbahan dan penyadaran itu bukan disyari`atkan dan tidak benar?!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">فحسبكم هذا التفاوت بيننا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">وكل إناء بما فيه ينضح.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : “Cukuplah bagi kalian perbedaan ini diantara kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan setiap bejana akan menuangkan apa apa yang ada padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa yang Menunjuki kita ke jalan yang lurus, dan Dia-Subhaana wa Ta`aalaa- Yang Maha Penolong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Diterjemahkan oleh Abul Mundzir-Dzul Akmal as Salafiy</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Majallah as Ashoolah (no.9/86-90), dengan judul : “Masaail wa Ajwibatuha.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Sumber: http://www.darussalaf.or.id Penulis: Al Muhaddist al `Allaamah Muhammad Naashiruddiin al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank">Judul: Kenapa kita harus mengikuti as Salaf? </a></span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/salaf-merupakan-cerminan-kemurnian-islam/" target="_blank">Salaf Merupakan Cerminan Kemurnian Islam</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/20/mengapa-harus-mengikuti-manhaj-salaf/" target="_blank">Mengapa Harus Mengikuti Manhaj Salaf ?</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/29/tiga-generasi-terbaik-umat-manusia/" target="_blank">Tiga Generasi Terbaik Umat Manusia</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/jalan-kebenaran-hanya-satu/" target="_blank">Jalan Kebenaran Hanya Satu</a><br />
5.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/07/nasehat-nasehat-para-ulama-salaf/" target="_blank">Nasehat-Nasehat Para Ulama Salaf</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2640/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2640&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/06/08/kenapa-kita-harus-mengikuti-as-salaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAKTU-WAKTU SHOLAT DAN BATAS AKHIR WAKTU SHOLAT</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/27/awal-waktu-dan-batas-akhir-waktu-sholat/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/27/awal-waktu-dan-batas-akhir-waktu-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 07:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Koreksi Shalat Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[afdhol waktu sholat]]></category>
		<category><![CDATA[batas akhir waktu shalat]]></category>
		<category><![CDATA[batas sholat isya]]></category>
		<category><![CDATA[sholat subuh di akhir waktu]]></category>
		<category><![CDATA[sholat subuh di awal waktu]]></category>
		<category><![CDATA[waktu awal sholat]]></category>
		<category><![CDATA[waktu waktu sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2634</guid>
		<description><![CDATA[Waktu-waktu Shalat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.” (An-Nisa`: 103) أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikan pula shalat subuh. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2634&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Waktu-waktu Shalat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin</em>.” (An-Nisa`: 103)<span id="more-2634"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikan pula shalat subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat</em>.” (Al-Isra`: 78)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Shalat dianggap sah dikerjakan apabila telah masuk waktunya. Dan shalat yang dikerjakan pada waktunya ini memiliki keutamaan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا. قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian amalan apa?” tanya Ibnu Mas`ud. “Berbuat baik kepada kedua orangtua,” jawab beliau. “Kemudian amal apa?” tanya Ibnu Mas’ud lagi. “Jihad fi sabilillah,” jawab beliau.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Al-Bukhari no. 527 dan Muslim no. 248)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebaliknya, bila shalat telah disia-siakan untuk dikerjakan pada waktunya maka ini merupakan musibah karena menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, seperti yang dikisahkan Az-Zuhri rahimahullahu, ia berkata, “<em>Aku masuk menemui Anas bin Malik di Damaskus, saat itu ia sedang menangis. Aku pun bertanya, ‘Apa gerangan yang membuat anda menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang masih dikerjakan sekarang dari amalan-amalan yang pernah aku dapatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya shalat ini saja. Itupun shalat telah disia-siakan untuk ditunaikan pada waktunya’</em>.” (HR. Al-Bukhari no. 530)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> beberapa hadits yang merangkum penyebutan waktu-waktu shalat. Di antaranya hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ وَقْتِ الصَّلَوَاتِ، فَقَالَ: وَقْتُ صَلاَةِ الْفَجْرِ مَا لَمْ يَطْلُعْ قَرْنُ الشَّمْسِ الْأَوَّلِ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ بَطْنِ السَّمَاءِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الْأَوَّلُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waktu shalat (yang lima), beliau pun menjawab, “<em>Waktu shalat fajar adalah selama belum terbit sisi matahari yang awal. Waktu shalat zhuhur apabila matahari telah tergelincir dari perut (bagian tengah) langit selama belum datang waktu Ashar. Waktu shalat ashar selama matahari belum menguning dan sebelum jatuh (tenggelam) sisinya yang awal. Waktu shalat maghrib adalah bila matahari telah tenggelam selama belum jatuh syafaq1. Dan waktu shalat isya adalah sampai tengah malam</em>.” (HR. Muslim no. 1388)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">إِنَّ لِلصَّلاَةِ أَوَّلاً وَآخِرًا، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الظُّهْرِ حِيْنَ تَزُوْلُ الشَّمْسُ وَآخِرُ وَقْتِهَا حِيْنَ يَدْخُلُ وَقْتُ الْعَصْرِ، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الْعَصْرِ حِيْنَ يَدْخُلُ وَقْتَهَا وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ تَصْفَرُّ الشَّمْسُ، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِيْنَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ يَغِيْبُ الْأُفُقُ، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ حِيْنَ يَغِيْبُ الْأُفُقُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ يَنْتَصِبُ اللَّيْلُ، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْفَجْرِ حِيْنَ يَطْلُعُ الْفَجْرُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Sesungguhnya shalat itu memiliki awal dan akhir waktu. Awal waktu shalat zhuhur adalah saat matahari tergelincir dan akhir waktunya adalah ketika masuk waktu ashar. Awal waktu shalat ashar adalah ketika masuk waktunya dan akhir waktunya saat matahari menguning. Awal waktu shalat maghrib adalah ketika matahari tenggelam dan akhir waktunya ketika tenggelam ufuk. Awal waktu shalat isya adalah saat ufuk tenggelam dan akhir waktunya adalah pertengahan malam. Awal waktu shalat fajar adalah ketika terbit fajar dan akhir waktunya saat matahari terbit.”</em> (HR. At-Tirmidzi no. 151 dan selainnya. Asy-Syaikh Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “<em>Sanad hadits ini shahih di atas syarat Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim). Dishahihkan oleh Ibnu Hazm, namun oleh Al-Bukhari dan selainnya disebutkan bahwa hadits ini mursal. Pernyataan ini dibantah oleh Ibnu Hazm dan selainnya. Dalam hal ini Ibnu Hazm benar, terlebih lagi hadits ini memiliki syahid dari hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma</em>.” (Ats-Tsamarul Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, 1/56 dan Ash-Shahihah no. 1696)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">أَمَّنِي جِبْرِيْلُ عليه السلام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِيْنَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ –يَعْنِي الْمَغْرِبَ– حِيْنَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِيْنَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِيْنَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِيْنَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِيْنَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Jibril mengimamiku di sisi Baitullah sebanyak dua kali2. Ia shalat zhuhur bersamaku ketika matahari telah tergelincir dan kadar bayangan semisal tali sandal. Ia shalat ashar bersamaku ketika bayangan benda sama dengan bendanya. Ia shalat maghrib bersamaku ketika orang yang puasa berbuka3. Ia shalat isya bersamaku ketika syafaq telah tenggelam. Ia shalat fajar bersamaku ketika makan dan minum telah diharamkan bagi orang yang puasa4. Maka tatkala keesokan harinya, Jibril kembali mengimamiku dalam shalat zhuhur saat bayangan benda sama dengan bendanya. Ia shalat ashar bersamaku saat bayangan benda dua kali bendanya. Ia shalat maghrib bersamaku ketika orang yang puasa berbuka. Ia shalat isya bersamaku ketika telah berlalu sepertiga malam. Dan ia shalat fajar bersamaku dan mengisfar5kannya. Kemudian ia menoleh kepadaku seraya berkata, “Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para nabi sebelummu dan waktunya juga berada di antara dua waktu yang ada6.”</em> (HR. Abu Dawud no. 393, Asy-Syaikh Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini dalam Shahih Abi Dawud, “Hasan shahih.”)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada pembahasan mengenai waktu-waktu shalat ini kami akan memulai dari shalat subuh terlebih dahulu walaupun kebanyakan ulama memulainya dari shalat zhuhur. Wallahul muwaffiq ‘ilash shawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata, “<em>Sekelompok pengikut mazhab kami (mazhab Hambali) seperti Al-Khiraqi dan Al-Qadhi pada sebagian kitabnya serta selain keduanya, memulai dari waktu shalat zhuhur. Di antara mereka ada yang memulai dengan shalat fajar/subuh seperti Abu Musa, Abul Khaththab, dan Al-Qadhi pada satu pembahasan, dan ini yang lebih bagus karena shalat wustha (shalat pertengahan) adalah shalat ashar. Shalat ashar bisa menjadi shalat wustha apabila shalat fajar merupakan shalat yang awal7</em>.” (Al-Ikhtiyarat dalam Al-Fatawa Al-Kubra, 1/45)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1 Cahaya kemerah-merahan yang terlihat di arah barat setelah matahari tenggelam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2 Yakni dalam dua hari untuk mengajariku tata cara shalat dan waktu-waktunya. (‘Aunul Ma’bud, Kitab Ash-Shalah, bab fil Mawaqit)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3 Yaitu saat matahari tenggelam dan masuk waktu malam dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam hari.</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4 Awal terbitnya fajar yang kedua berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian benang yang putih dari benang yang hitam dari fajar (jelas terbitnya fajar).”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5 Lihat keterangan tentang isfar dalam pembahasan waktu shalat fajar yang akan datang setelahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6 Dengan demikian boleh mengerjakan shalat di awal waktunya, di pertengahan dan di akhir waktu. (‘Aunul Ma’bud, Kitab Ash-Shalah, bab fil Mawaqit)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">7 Sehingga bila diurutkan menjadi sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Shalat pertama: shalat fajar, kedua: shalat zhuhur, ketiga: shalat ashar, keempat: shalat maghrib, kelima: shalat isya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan demikian shalat ashar jatuh pada pertengahan, sehingga diistilahkan shalat wustha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Shalat Fajar atau Shalat Subuh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Shalat subuh ini memiliki dua nama yaitu fajar dan subuh. Al-Qur`an menyebutkan dengan nama shalat fajar sedangkan As-Sunnah kadang menyebutnya dengan nama fajar dan di tempat lain disebutkan dengan nama subuh. (Al-Majmu’, 3/48)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Awal waktu shalat fajar adalah saat terbitnya fajar kedua atau fajar shadiq1 sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat ini di waktu ghalas, bahkan terkadang beliau selesai dari shalat fajar dalam keadaan alam sekitar masih gelap (waktu ghalas), sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">كُنَّا نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَعَلِّفَاتٍ بِمُرُوْطِهِنَّ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوْتِهِنَّ حِيْنَ يَقْضِيْنَ الصَّلاَةَ لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Kami wanita-wanita mukminah ikut menghadiri shalat fajar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berselimut (menyelubungi tubuh) dengan kain-kain kami, kemudian mereka (para wanita tersebut) kembali ke rumah-rumah mereka ketika mereka selesai menunaikan shalat dalam keadaan tidak ada seorang pun mengenali mereka karena waktu ghalas (sisa gelapnya malam).”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Al-Bukhari no. 578 dan Muslim no. 1455)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata, “<em>Hadits ini menunjukkan disunnahkannya bersegera dalam mengerjakan shalat subuh di awal waktu</em>.” (Fathul Bari, 2/74)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian pula yang dikatakan Al-Imam Nawawi rahimahullahu. Dan ini merupakan mazhab Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad dan jumhur, menyelisihi Abu Hanifah yang berpendapat bahwa isfar (waktu sudah terang) lebih utama/afdhal. (Al-Minhaj, 5/145)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, “Adapun shalat subuh maka dikerjakan waktu ghalas lebih afdhal. Demikian pendapat Malik, Asy-Syafi’i, dan Ishaq2 rahimahumullah. Juga diriwayatkan dari Abu Bakr, ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Ibnuz Zubair, dan ‘Umar bin Abdil ‘Aziz apa yang menunjukkan hal tersebut. Ibnu Abdil Bar rahimahullahu3 berkata, “Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman g, bahwa mereka semuanya mengerjakan shalat subuh di waktu ghalas. Dan suatu hal yang mustahil bila mereka meninggalkan yang afdhal dan melakukan yang tidak afdhal, sementara mereka adalah orang-orang yang puncak dalam mengerjakan perkara-perkara yang afdhal. Diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu, beliau berpandangan bahwa yang utama adalah melihat keadaan makmum. Bila mereka berkumpul di waktu isfar maka yang afdal mengerjakannya di waktu isfar karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perbuatan yang seperti ini dengan melihat berkumpulnya jamaah dalam penunaian shalat isya, sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu. Sehingga demikian pula yang berlaku pada shalat fajar. Ats-Tsauri dan ashabur ra`yi berkata, “Yang afdal shalat subuh dikerjakan waktu isfar dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Rafi’ ibnu Khadij, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">أَسْفِرُوْا بِالْفَجْرِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِلْأَجْرِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Lakukanlah shalat fajar dalam keadaan isfar (sudah terang), karena hal itu lebih memperbesar pahala.”</em> (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl At-Taghlis li Shalatish Shubhi)4</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun hadits asfiru bil fajri di atas maknanya/tafsirnya adalah “Hendaklah kalian selesai dari mengerjakan shalat fajar pada waktu isfar (karena shalat yang demikian lebih besar pahalanya).” <em>Bukan awal masuknya ke shalat fajar, tapi akhir dari mengerjakan shalat fajar. Caranya tentu dengan memanjangkan bacaan dalam shalat ini. Bukan perintah untuk mengerjakan shalat subuh di waktu isfar. Hal ini sebagaimana juga dijelaskan dari riwayat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah selesai dari shalat fajar ini pada waktu isfar (hari sudah terang), tatkala seseorang sudah mengenali wajah teman duduknya. Sebagaimana kata Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalat subuh tatkala seseorang telah mengenali siapa yang duduk di sebelahnya5.</em>” (HR. Al-Bukhari no. 541 dan Muslim no. 1460)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata, “Hadits di atas memang harus, mau tidak mau, ditafsirkan/dimaknakan seperti ini, agar sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mencocoki perbuatan beliau yang terus beliau lakukan, berupa masuk ke dalam penunaian shalat subuh di waktu ghalas sebagaimana telah lewat. Makna ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam I’lamul Muwaqqi’in. Dan yang mendahului Ibnul Qayyim dalam pentarjihan ini adalah Al-Imam Ath-Thahawi dari kalangan Hanafiyyah, dan beliau panjang lebar dalam menetapkan hal ini (1/104-109). Beliau berkata, <em>“Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad.” Walaupun apa yang dinukilkan oleh Ath-Thahawi dari tiga imam ini menyelisihi pendapat yang masyhur dari mazhab mereka dalam kitab-kitab mazhab yang menetapkan disunnahkannya memulai shalat subuh di waktu isfar.”</em> (Ats-Tsamarul Mustathab, 1/81)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kenyataannya memang tidak pernah mengerjakan shalat fajar ini di waktu isfar kecuali hanya sekali. Dalam hadits Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu disebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">وَصَلَّى الصُّبْحَ مَرَّةً بِغَلَسٍ، ثُمَّ صَلَّى مَرَّةً أُخْرَى فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ كَانَتْ صَلاَتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ الْغَلَسَ حَتَّى مَاتَ لَمْ يَعُدْ إِلَى أَنْ يُسْفِرَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Rasulullah sekali waktu shalat subuh pada waktu ghalas lalu pada kali lain beliau mengerjakannya di waktu isfar. Kemudian shalat subuh beliau setelah itu beliau kerjakan di waktu ghalas hingga beliau meninggal, beliau tidak pernah lagi mengulangi pelaksanaannya di waktu isfar.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Abu Dawud no. 394, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mendapati Satu Rakaat Fajar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Telah kita ketahui bahwa akhir waktu shalat fajar adalah ketika matahari terbit, sehingga keadaan seseorang yang baru mengerjakan satu rakaat fajar kemudian ketika hendak masuk pada rakaat kedua matahari terbit maka dia mendapati shalat subuh. Hal ini sebagamana ditunjukkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقدْ أدْرَكَ الْعَصْرَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Siapa yang mendapati satu rakaat subuh sebelum matahari terbit maka sungguh ia telah mendapatkan shalat subuh dan siapa yang mendapati satu rakaat ashar sebelum matahari tenggelam maka sungguh ia telah mendapatkan shalat ashar</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.” (HR. Al-Bukhari no. 579 dan Muslim no. 1373)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata tentang hadits di atas, “<em>Ini merupakan dalil yang sharih/jelas tentang orang yang telah mengerjakan satu rakaat subuh atau ashar kemudian keluar waktu kedua shalat tersebut sebelum orang itu mengucapkan salam (sebelum sempurna dari amalan shalatnya, pent.), maka ia tetap harus menyempurnakannya sampai selesai dan shalatnya pun sah. Dinukilkan adanya kesepakatan dalam penunaian shalat ashar. Adapun dalam shalat subuh ada perselisihan. Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan ulama seluruhnya berpendapat subuh juga demikian, menyelisihi Abu Hanifah yang mengatakan, ‘Shalat subuh yang sedang dikerjakannya batal dengan terbitnya matahari karena telah masuk waktu larangan mengerjakan shalat, beda halnya dengan tenggelamnya matahari.’ Namun hadits ini merupakan hujjah yang membantahnya.”</em> (Al-Minhaj, 5/109)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hukum di atas adalah bagi orang yang mengakhirkan waktu shalat sampai ke waktu yang sempit tersebut. Adapun bagi orang yang tertidur atau lupa maka tidak hilang baginya waktu shalat selama-lamanya walaupun telah keluar dari seluruh waktunya, selama memang ia tidak mengerjakannya karena tertidur atau karena lupa. Waktu mereka mengerjakannya adalah ketika ingat atau saat terbangun dari tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketiduran dari mengerjakan shalat ini pernah dialami oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau dikarenakan kelelahan yang sangat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Sebagian orang yang ikut rombongan berkata, ‘Seandainya anda berhenti sebentar untuk beristirahat dengan kami, wahai Rasulullah!’ Beliau menjawab, ‘Aku khawatir kalian akan ketiduran dari mengerjakan shalat.’ Bilal berkata, ‘Aku yang akan membangunkan kalian.’ Maka para sahabat yang lain pun berbaring tidur sedangkan Bilal menyandarkan punggungnya ke tunggangannya. Namun ternyata ia dikuasai oleh kantuk hingga tertidur. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun sementara matahari telah terbit. Beliau pun bersabda, ‘Wahai Bilal, apa yang tadi engkau katakan? Katanya engkau yang membangunkan kami?’ Bilal menjawab, ‘Aku sama sekali belum pernah tertidur seperti tidurku kali ini.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">إِنَّ اللهَ قَبَضَ أَرْوَاحَكُمْ حِيْنَ شَاءَ، وَردَّهَا عَلَيْكُمْ حِيْنَ شَاءَ، يَا بِلاَلُ، قُمْ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ بِالصَّلاَةِ. فَتَوَضَّأَ، فَلَمَّا ارْتَفَعَتِ الشَّمْسُ وَابْيَاضَّتْ قاَمَ فَصَلَّى</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Sesungguhnya Allah menahan ruh-ruh kalian kapan Dia inginkan dan Dia mengembalikannya pada kalian kapan Dia inginkan. Wahai Bilal! Bangkit lalu kumandangkan azan untuk memanggil manusia guna mengerjakan shalat.” Beliau lalu berwudhu, tatkala matahari telah meninggi dan memutih, beliau bangkit untuk mengerjakan shalat</em>.” (HR. Al-Bukhari no. 595)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيْطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيْطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِيْءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الْأُخْرَى، فَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِيْنَ تَنَبَّهَ لَهَا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Sesungguhnya tertidur dari mengerjakan shalat bukanlah sikap tafrith (menyia-nyiakan). Hanyalah merupakan tafrith bila seseorang tidak mengerjakan shalat hingga datang waktu shalat yang lain (dalam keadaan ia terjaga dan tidak lupa). Maka siapa yang tertidur (atau lupa) sehingga belum mengerjakan shalat, hendaklah ia mengerjakannya ketika terjaga/ketika sadar/ingat.”</em> (HR. Muslim no. 1560)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">مَنْ نَسِيَ الصَّلاَةَ فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا، فَإِنَّ اللهَ قَالَ: أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِيْ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Siapa yang lupa dari mengerjakan shalat, maka hendaklah ia mengerjakannya ketika ingat, karena Allah berfirman: ‘Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku’</em>.”(HR. Muslim no. 1558)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1 Karena fajar ada dua, fajar pertama yang disebut fajar kadzib dan fajar kedua yang disebut fajar shadiq. Fajar shadiq ini muncul tersebar dalam keadaan melintang di ufuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2 Juga pendapat Al-Imam Ahmad, Abu Tsaur, Al-Auza’i, Dawud bin ‘Ali, dan Abu Ja’far Ath-Thabari. (Nailul Authar, 1/466)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3 Lihat At-Tamhid, 1/141. 4 HR. At-Tirmidzi no. 154, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5 Karena di zaman itu tidak ada penerangan lampu, sehingga mereka mengerjakan shalat subuh dalam keadaan gelap. Sampai-sampai seseorang tidak tahu siapa yang shalat di sebelahnya. Beda halnya dengan keadaan masjid-masjid di zaman sekarang yang selalu terang benderang dengan cahaya lampu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Shalat Zhuhur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Awal waktu zhuhur adalah saat matahari tergelincir (waktu zawal) dan akhir waktunya adalah ketika masuk waktu ashar. Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الظُّهْرَ إِذَا دَحَضَتِ الشَّمْسُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur ketika matahari tergelincir.”</em> (HR. Muslim no. 1403)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hadits ini menunjukkan disenanginya menyegerakan shalat zhuhur, demikian pendapat Asy-Syafi’i rahimahullahu dan jumhur ulama. (Al-Minhaj 5/122, Al-Majmu’ 3/56)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِالظَّهَائِرِ، سَجَدْنَا عَلَى ثِيَابِنَا اتِّقَاءَ الْحَرِّ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Kami bila mengerjakan shalat zhuhur di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami sujud di atas pakaian kami dalam rangka menjaga diri dari panasnya matahari di siang hari.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 542 dan Muslim no. 1406)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu menyatakan, “<em>Hadits ini menunjukkan disegerakannya pelaksanaan shalat zhuhur walaupun dalam kondisi panas yang sangat. Ini tidaklah menyelisihi perintah untuk ibrad (menunda shalat zhuhur sampai agak dingin, pent.), akan tetapi hal ini untuk menerangkan kebolehan shalat di waktu yang sangat panas, sekalipun ibrad lebih utama.” </em>(Fathul Bari, 2/32)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Seperti disinggung di atas bahwa untuk shalat zhuhur ada istilah ibrad, yaitu menunda pelaksanaan shalat zhuhur sampai agak dingin. Ini dilakukan ketika hari sangat panas sebagai suatu pengecualian/pengkhususan dari penyegeraan shalat zhuhur. Jumhur berkata, “Disenangi ibrad dalam shalat zhuhur kecuali pada waktu yang memang dingin.” (Nailul Authar, 1/427)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam hal ini ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوْا عَنِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Apabila panas yang sangat maka akhirkanlah shalat zhuhur sampai waktu dingin karena panas yang sangat merupakan semburan hawa neraka jahannam</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.” (HR. Al­-Bukhari no. 533 dan Muslim no. 1394)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hikmah dari ibrad ini adalah untuk memperoleh kekhusyukan, karena dikhawatirkan bila shalat dalam keadaan panas yang sangat akan menyulitkan seseorang untuk khusyuk. (Al-Majmu’ 3/64)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bagaimana Mengetahui Waktu Zawal?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Matahari telah zawal artinya matahari telah miring/condong dari tengah-tengah langit setelah datangnya tengah hari. Hal itu diketahui dengan munculnya bayangan seseorang/suatu benda di sebelah timur setelah sebelumnya bayangan di sisi barat hilang. Siapa yang hendak mengetahui hal tersebut maka hendaknya ia mengukur bayangan matahari. Manakala matahari semakin tinggi maka bayangan itu akan berkurang dari arah barat dan terus berkurang. Pas di tengah hari, saat matahari tepat di tengah-tengah langit, pengurangan bayangan tersebut berhenti. Nah, ketika matahari telah miring/bergeser dari tengah langit kembali bayangan muncul dan semakin bertambah serta jatuhnya di sisi timur. Awal pertama kali muncul di sisi timur itulah yang dinamakan waktu zawal. (Al-Ma’unah 1/196, At-Tahdzib lil Baghawi 2/9, Asy-Syarhul Kabir lil Rafi’i 1/367-368, Al-Majmu’ 3/28-29, Al-Mabsuth 1/133, Syarhu Muntaha Al-Iradat 1/133)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Akhir Waktu Zhuhur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Waktu shalat zhuhur masih terus berlangsung selama belum datang waktu shalat ashar dan bayangan seseorang sama dengan tinggi orang tersebut. Seperti ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ، وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُوْلِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Waktu shalat zhuhur adalah bila matahari telah tergelincir dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama belum datang waktu ashar</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.” (HR. Muslim no. 1387)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apakah bayangan zawal ikut digabungkan ke bayangan benda/sesuatu untuk menunjukkan keluarnya/habisnya waktu zhuhur dan telah masuknya waktu ashar, ataukah tidak digabungkan?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebagai contoh, ada seseorang tingginya 165 cm, dan tinggi/panjang bayangannya ketika zawal 20 cm. Maka apakah keluarnya waktu zhuhur dan masuknya waktu ashar dengan menambahkan tinggi seseorang dengan tinggi/panjang bayangannya ketika zawal (165 ditambah 20) sehingga tinggi/panjang bayangan menjadi 185 cm, atau cukup tinggi/panjang bayangan 165 cm?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Qarrafi rahimahullahu berkata, “<em>Awal waktu ikhtiyari pada shalat zhuhur adalah pada saat zawal, dan ini berlangsung sampai panjang bayangan benda semisal dengan bendanya, (dihitung) setelah panjang bayangan benda ketika zawal.”</em> (Adz-Dzakhirah 2/13)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dikatakan dalam Raudhatu Ath-Thalibin (1/208), “<em>Waktu zhuhur selesai apabila bayangan seseorang sama dengan tingginya, selain bayangan yang tampak ketika zawal</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnu Hazm rahimahullahu berkata, <em>“Awal waktu zhuhur saat matahari mulai tergelicir dan miring/condong (ke barat). Maka tidak halal sama sekali melakukan shalat zhuhur sebelum itu, dan bila dikerjakan maka shalat tersebut tidaklah mencukupi. Waktu shalat zhuhur terus berlangsung sampai bayangan segala sesuatu sama dengan bendanya tanpa memperhitungkan bayangan yang muncul saat awal zawalnya matahari, tetapi yang dihitung/dianggap adalah yang lebih dari bayangan zawal tersebut.”</em> (Al-Muhalla, 2/197)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, “<em>Akhir waktu zhuhur adalah bila bayangan segala sesuatu sama dengan tingginya, setelah menambahkan bayangan sesuatu tersebut dengan bayangan tatkala zawal/matahari tergelicir.” </em>(Al-Kafi, 1/120)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penulis Zadul Mustaqni’ menyebutkan, “<em>Waktu zhuhur dari zawal sampai bayangan sesuatu sama dengan sesuatu tersebut setelah (ditambah) dengan bayangan zawal.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu dalam syarahnya terhadap ucapan penulis tersebut mengatakan, “<em>Di saat matahari terbit, sesuatu yang tinggi akan memiliki bayangan yang jatuh ke arah barat. Kemudian bayangan tersebut akan berkurang sesuai kadar tingginya matahari di ufuk. Demikian seterusnya hingga bayangan tersebut berhenti dari pengurangan. Tatkala bayangan tersebut berhenti dari pengurangan, kemudian bayangan itu bertambah walau hanya satu rambut maka itulah zawal dan dengannya masuklah waktu zhuhur. Ucapan penulis “setelah (ditambah) dengan bayangan zawal” maksudnya bayangan yang tampak saat matahari tergelincir (zawal) tidaklah terhitung. Pada waktu kita yang sekarang ini, tatkala matahari radhiyallahu ‘anhumaondong ke selatan maka bagi setiap sesuatu yang tinggi pasti memiliki bayangan yang selalu ada di arah utaranya. Bayangan ini tidaklah teranggap. Bila bayangan ini mulai bertambah maka letakkanlah tanda pada tempat awal penambahannya. Kemudian bila bayangan itu memanjang dari mulai tanda yang telah diberikan sampai setinggi (sepanjang) benda (sesuatu yang tinggi tersebut) berarti waktu zhuhur sudah berakhir dan telah masuk waktu ashar</em>.” (Asy-Syarhul Mumti’, 2/102)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendapat seperti ini yang bisa kami kumpulkan dari beberapa kitab, di antaranya Al-Ma’unah (1/196), Mawahibul Jalil (1/388), Majmu’ Fatawa (23/267), Ar-Raudhul Murbi’ (1/100), Syarhu Muntaha Al-Iradat (1/133), Mughnil Muhtaj (1/249), At-Tahdzib lil Baghawi (2/9), Al-Hawil Kabir (2/14), Ad-Durarus Saniyyah (4/216,219,220,222), Adhwa`ul Bayan, Tafsir Surah An Nisa` ayat 103, dan beberapa kitab yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5. Shalat Isya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Awal waktu shalat Isya adalah saat tenggelamnya syafaq dan akhir waktunya ketika pertengahan malam, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَقْتِ الصَّلَوَاتِ، فَقَالَ: وَقْتُ صَلاَةِ الْفَجْرِ مَا لَمْ يَطْلُعْ قَرْنُ الشَّمْسِ الْأَوَّلِ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ بَطْنِ السَّمَاءِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الْأَوَّلُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ الْلَيْلِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waktu shalat (yang lima), beliau pun menjawab,<em> “Waktu shalat fajar adalah selama belum terbit sisi matahari yang awal. Waktu shalat zhuhur apabila matahari telah tergelincir dari perut (bagian tengah) langit selama belum datang waktu Ashar. Waktu shalat ashar selama matahari belum menguning dan sebelum jatuh (tenggelam) sisinya yang awal. Waktu shalat maghrib adalah bila matahari telah tenggelam selama belum jatuh syafaq. Dan waktu shalat isya adalah sampai tengah malam.” </em>(HR. Muslim no. 1388)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">إِنَّ لِلصَّلاَةِ أَوَّلاً وَآخِرًا، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الظُّهْرِ حِيْنَ تَزُوْلُ الشَّمْسُ وَآخِرُ وَقْتِهَا حِيْنَ يَدْخُلُ وَقْتُ الْعَصْرِ، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الْعَصْرِ حِيْنَ يَدْخُلُ وَقْتُهَا وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ تَصْفَرُّ الشَّمْسُ، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِيْنَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ يَغِيْبُ الْأُفُقُ، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ حِيْنَ يَغِيْبُ الْأُفُقُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ يَنْتَصِبُ اللَيْلُ، وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْفَجْرِ حِيْنَ يَطْلُعُ الْفَجْرُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Sesungguhnya shalat itu memiliki awal dan akhir waktu. Awal waktu shalat zhuhur adalah saat matahari tergelincir dan akhir waktunya adalah ketika masuk waktu ashar. Awal waktu shalat ashar adalah ketika masuk waktunya dan akhir waktunya saat matahari menguning. Awal waktu shalat maghrib adalah ketika matahari tenggelam dan akhir waktunya ketika tenggelam ufuk. Awal waktu shalat isya adalah saat ufuk tenggelam dan akhir waktunya adalah pertengahan malam. Awal waktu shalat fajar adalah ketika terbit fajar dan akhir waktunya saat matahari terbit</em>.” (HR. At-Tirmidzi no. 151 dan selainnya. Lihat Ash-Shahihah no. 1696)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang Jibril mengimami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lima waktu selama dua hari berturut-turut, disebutkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَصَلىَّ بِي الْعِشَاءَ حِيْنَ غَابَ الشَّفَقُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“…Dan Jibril shalat Isya denganku ketika tenggelamnya syafaq….”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Abu Dawud no. 393, Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini dalam Shahih Abi Dawud, “Hasan shahih.”)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selain itu, ada pula hadits lain yang menunjukkan akhir waktu isya adalah pertengahan malam. Seperti hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى، ثُمَّ قَالَ: قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوْا، أَمَّا إِنَّكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوْهَا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam kemudian beliau shalat, lalu berkata, “Sungguh manusia telah shalat dan mereka telah tidur, adapun kalian terhitung dalam keadaan shalat selama kalian menanti waktu pelaksanaan shalat.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 1446)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu&#8217;:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Seandainya tidak memberati umatku niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat isya sampai sepertiga atau pertengahan malam</em>.” (HR. At-Tirmidzi no. 167, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Juga hadits Abu Sa&#8217;id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">صَلَّيْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعَتَمَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى مَضَى نَحْوٌ مِنْ شَطْرِ اللَّيْلِ، فَقَالَ: خُذُوْا مَقَاعِدَكُمْ. فَأَخَذْنَا مَقَاعِدَنَا فَقَالَ: إِنَّ النَّاسَ قَدْ صَلُّوا وَأَخَذُوْا مَضَاجِعَهُمْ، وَإِنَّكُمْ لَنْ تَزَالُوْا فِي صَلاَةٍ ماَ انْتَظَرْتُمُ الصَّلاَةَ ،وَلَوْلاَ ضَعْفُ الضَّعِيْفِ وَسَقْمُ السَّقِيْمِ لَأَخَّرْتُ هَذِهِ الصَّلاَةَ إِلىَ شَطْرِ اللَّيْلِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kami pernah hendak shalat isya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak keluar dari tempat tinggalnya (menuju ke masjid) hingga berlalu sekitar pertengahan malam. Beliau lalu berkata, “Tetaplah di tempat duduk kalian.” Kami pun menempati tempat duduk kami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Sungguh saat seperti ini orang-orang telah selesai mengerjakan shalat isya dan telah menempati tempat berbaring (tempat tidur) mereka. Dan sungguh kalian terus menerus teranggap dalam keadaan shalat selama kalian menanti shalat. Seandainya bukan karena kelemahan orang yang lemah dan sakitnya orang yang sakit niscaya aku akan mengakhirkan shalat isya ini sampai pertengahan malam.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Abu Dawud no. 422, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam Al-Qamus disebutkan, “Malam adalah dari tenggelamnya matahari sampai terbitnya fajar shadiq atau terbitnya matahari.” Adapun dalam istilah syar’i, secara zahir malam itu berakhir dengan terbitnya fajar. Berdasarkan hal ini kita mengetahui bahwa tengah malam itu diukur dari tenggelamnya matahari sampai terbitnya fajar. Pertengahan waktu antara keduanya itulah yang disebut tengah malam sebagai akhir waktu shalat isya. Adapun setelah tengah malam ini bukanlah waktu pelaksanaan shalat fardhu, tapi waktu untuk melaksanakan shalat sunnah/nafilah seperti tahajjud. (Asy-Syarhul Mumti&#8217; 2/115)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apa yang Dimaksud dengan Syafaq?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan syafaq yang merupakan tanda habisnya waktu maghrib dan masuknya waktu isya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mayoritas mereka berpendapat bahwa syafaq itu adalah warna kemerahan di langit sebagaimana pendapat yang diriwayatkan dari &#8216;Umar ibnul Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, ‘Ubadah ibnush Shamit, dan Syaddad bin Aus g. Demikian pula pendapat Mak-hul dan Sufyan Ats-Tsauri. Ibnul Mundzir menghikayatkan pendapat ini dari Ibnu Abi Laila, Malik, Ats-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Yusuf, Muhammad bin Al-Hasan, Abu Tsaur dan Dawud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebagian lagi berpandangan syafaq adalah warna putih, seperti pendapat Abu Hanifah, Zufar dan Al-Muzani. Diriwayatkan pula hal ini dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ‘Umar bin Abdil Aziz, Al-Auza’i, dan dipilih oleh Ibnul Mundzir. (Al-Majmu’ 3/44, 45, At-Tahdzib lil Baghawi, 2/10, Asy-Syarhul Kabir lil Rafi&#8217;i 1/372, Nailul Authar 1/456)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun yang rajih (kuat) adalah pendapat pertama, karena pemaknaan syafaq dengan warna kemerahan di langit itulah yang dikenal di kalangan orang-orang Arab, dan ini disebutkan dalam syair-syair mereka. Demikian pula penjelasan yang diberikan oleh para ahli bahasa seperti Al-Azhari. Ia berkata, “Syafaq menurut orang Arab adalah humrah (warna kemerah-merahan di langit).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnu Faris berkata dalam Al-Mujmal: Al-Khalil berkata: <em>“Syafaq adalah humrah yang muncul sejak tenggelamnya matahari sampai waktu isya yang akhir.”</em> (Al-Majmu’, 3/45)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan surat Al-Insyiqaq memilih pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaukan dengan syafaq adalah humrah. Beliau menukilkan pendapat ini dari sejumlah besar ahlul ilmi. (Tafsir Al-Qur`anil Azhim, 8/279)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu berkata dalam Subulus Salam (2/31): “<em>Saya katakan, ‘Pembahasan ini adalah pembahasan dari sisi bahasa. Yang menjadi rujukan dalam hal ini tentunya ahli bahasa (Arab), sementara Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma termasuk ahli bahasa dan orang Arab (mengerti bahasa Arab) yang murni, maka ucapannya merupakan hujjah1, walaupun ucapannya itu hukumnya mauquf.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam Al-Qamus disebutkan, syafaq adalah humrah di ufuk, dari tenggelamnya matahari sampai isya dan mendekati isya atau mendekati ‘atamah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disenangi Mengakhirkan Shalat Isya’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi mengakhirkan shalat isya, sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa hadits di atas, ditambah pula hadits berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَعْتَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعِشَاءِ حَتَّى نَادَاهُ عُمَرُ: الصَّلاَةُ، نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ فَقَالَ: مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرُكُمْ. قَالَ: وَلاَ يُصَلَّى يَوْمَئِذٍ إِلاَّ بِالْمَدِيْنَةِ، وَكاَنُوْا يُصَلُّوْنَ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rasulullah mengakhirkan shalat isya hingga malam sangat gelap sampai akhirnya Umar menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-anak telah tertidur2.” Beliau akhirnya keluar seraya bersabda, &#8220;Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali kalian3.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat isya dengan cara berjamaah pada waktu itu kecuali di Madinah. Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Al-Bukhari no. 569 dan Muslim no. 1441)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Juga hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَبْقَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلاَةِ الْعَتَمَةِ، فَأَخَّرَ حَتَّى ظَنَّ الظَّانُّ أَنَّهُ لَيْسَ بِخَارِجٍ، وَالْقَائِلُ مِنَّا يَقُوْلُ: صَلَّى. فَإِنَّا لَكَذَلِكَ حَتَّى خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا لَهُ كَماَ قَالُوْا. فَقَالَ لَهُمْ: أَعْتِمُوْا بِهَذِهِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّكُمْ قَدْ فَضَّلْتُمْ بِهَا عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ وَلَمْ تُصَلِّهَا أُمَّةٌ قَبْلَكُمْ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kami menanti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat isya (‘atamah), ternyata beliau mengakhirkannya hingga seseorang menyangka beliau tidak akan keluar (dari rumahnya). Seseorang di antara kami berkata, “Beliau telah shalat.” Maka kami terus dalam keadaan demikian hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu para sahabat pun menyampaikan kepada beliau apa yang mereka ucapkan. Beliau bersabda kepada mereka, “Kerjakanlah shalat isya ini di waktu malam yang sangat gelap (akhir malam) karena sungguh kalian telah diberi keutamaan dengan shalat ini di atas seluruh umat. Dan tidak ada satu umat sebelum kalian yang mengerjakannya.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Abu Dawud no. 421, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengharuskan umatnya untuk terus mengerjakannya di akhir waktu disebabkan adanya kesulitan. Dalam pelaksanaan shalat isya berjamaah di masjid, beliau melihat jumlah orang-orang yang berkumpul di masjid untuk shalat, sedikit atau banyak. Sehingga terkadang beliau menyegerakan shalat isya dan terkadang mengakhirkannya. Bila beliau melihat para makmum telah berkumpul di awal waktu maka beliau mengerjakannya dengan segera. Namun bila belum berkumpul beliau pun mengakhirkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini ditunjukkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia mengabarkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ نَقِيَّةٌ وَالْمَغْرِبَ إِذَا وَجَبَتْ وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا وَأَحْيَانًا يُعَجِّلُ، كَانَ إِذَا رَآهُمْ قَدِ اجْتَمَعُوْا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَأُوْا أَخَّرَ &#8230;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur di waktu yang sangat panas di tengah hari, shalat ashar dalam keadaan matahari masih putih bersih, shalat maghrib saat matahari telah tenggelam dan shalat isya terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau pun mengakhirkannya….” </em>(HR. Al-Bukhari no. 565 dan Muslim no. 1458)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata, “<em>Yang afdhal/utama bagi para wanita yang shalat di rumah-rumah mereka adalah mengakhirkan pelaksanaan shalat isya, jika memang hal itu mudah dilakukan.</em>” (Asy-Syarhul Mumti&#8217; 2/116)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bila ada yang bertanya, “<em>Manakah yang lebih utama, mengakhirkan shalat isya sendirian atau melaksanakannya secara berjamaah walaupun di awal waktu?” Jawabannya, kata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu, adalah shalat bersama jamaah lebih utama. Karena hukum berjamaah ini wajib (bagi lelaki), sementara mengakhirkan shalat isya hukumnya mustahab. Jadi tidak mungkin mengutamakan yang mustahab daripada yang wajib</em>. (Asy-Syarhul Mumti&#8217; 2/116, 117)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keutamaan Menanti Pelaksanaan Shalat Isya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Siapa yang menanti ditegakkannya shalat isya secara berjamaah bersama imam, maka ia terhitung dalam keadaan shalat selama masa penantian tersebut. Hal ini dinyatakan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang telah lewat penyebutannya di atas:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى ثُمَّ قَالَ: قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوْا، أَمَّا إِنَّكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوْهَا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam kemudian beliau shalat, lalu berkata, “Sungguh manusia telah shalat dan mereka telah tidur, adapun kalian terhitung dalam keadaan shalat selama kalian menanti waktu pelaksanaan shalat.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 1446)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dibenci Tidur Sebelum Isya dan Berbincang Setelahnya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum isya dan berbincang-bincang setelahnya4. Dalam hal ini Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ، وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi mengakhirkan shalat isya. Dan beliau membenci tidur sebelum shalat isya dan berbincang -bincang setelahnya.”</em> (HR. Ibnu Majah no. 701, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Ibni Majah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">جَدَبَ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّمَرَ بَعْدَ الْعِشَاءِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kami dari berbincang-bincang setelah isya.”</em> (HR. Ahmad 1/388-389, 410, Ibnu Majah no. 703, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 2435)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">At- Tirmidzi rahimahullahu berkata, “<em>Kebanyakan ahlul ilmi membenci tidur sebelum shalat isya dan ngobrol setelahnya. Sebagian mereka memberi keringanan dalam hal ini. Abdullah ibnul Mubarak rahimahullahu berkata, ‘Kebanyakan hadits menunjukkan makruhnya’.”</em> (Sunan At-Tirmidzi, 1/110)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Larangan tidur sebelum isya ini ditujukan kepada orang yang dengan sengaja melakukannya. Adapun orang yang tidak kuasa menahan kantuknya sehingga jatuh tertidur, maka diberikan pengecualian. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas dalam pembahasan disenanginya mengakhirkan shalat isya, tentang tertidurnya para wanita dan anak-anak yang ikut menanti shalat isya berjamaah di masjid, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari tidur mereka. (Fathul Bari, 2/66)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian pula hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شُغِلَ عَنْهَا لَيْلَةً، فَأَخَّرَهَا حَتَّى رَقَدْنَا فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ اسْتَيْقَظْنَا ثُمَّ رَقَدْنَا ثُمَّ اسْتَيْقَظْنَا ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ غَيْرُكُمْ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ لاَ يُبَالِي أَقَدَّمَهَا أَوْ أَخََّرَهَا، إِذَا كَانَ لاَ يَخْشَى أَنْ يَغْلِبَهَا النَّوْمُ عَنْ وَقْتِهَا وَكَانَ يَرْقُدُ قَبْلَهَا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Suatu malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan dari mengerjakan shalat isya di awal waktu, maka beliau mengakhirkannya hingga kami tertidur di masjid kemudian kami terbangun, lalu kami tidur lagi kemudian terbangun. Lalu keluarlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini selain kalian.” Adalah Ibnu Umar tidak memedulikan apakah ia mendahulukan atau mengakhirkannya, apabila ia tidak khawatir tertidur pulas/nyenyak dari mengerjakannya pada waktunya. Adalah Ibnu Umar tidur sebelum shalat isya.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Al-Bukhari no. 570)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam riwayat Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Nafi’, disebutkan bahwa terkadang Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma tertidur sebelum mengerjakan shalat isya dan beliau memerintahkan orang untuk membangunkannya. (Fathul Bari, 2/68)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnul ‘Arabi berkata, <em>“Tidur sebelum shalat isya ini boleh bagi orang yang yakin bahwa ia biasanya terbangun sebelum habisnya waktu shalat isya atau bersamanya ada orang yang akan membangunkannya.”</em> (Nailul Authar, 1/461)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun tentang berbincang-bincang setelah shalat isya, maka yang dimaksudkan adalah obrolan yang sebenarnya mubah bila dilakukan di selain waktu ini. Bila suatu obrolan makruh diperbincangkan pada waktu lain selain setelah isya, tentunya lebih sangat lagi dimakruhkan bila dilakukan setelah isya. Sementara perbincangan yang memang dibutuhkan maka tidaklah dimakruhkan dilakukan setelah isya. Demikian pula berbicara tentang perkara kebaikan seperti membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diskusi ilmu, cerita tentang orang-orang shalih, berbincang dengan istri, tamu, dan semisalnya. (Al-Majmu&#8217; 3/44, Syarhu Muntaha Al-Iradat 1/135)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata, “<em>Yang zahir dari sejumlah hadits yang datang dalam bab ini adalah dibencinya berbincang dan begadang (setelah shalat isya), kecuali dalam perkara mengandung kebaikan bagi orang yang berbicara atau kebaikan bagi kaum muslimin</em>.” (Ats-Tsamarul Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, 1/75)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> beberapa hadits yang menunjukkan pengecualian dari kemakruhan tersebut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْمُرُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ فِي الْأَمْرِ مِنْ أََمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَنَا مَعَهُمَا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang (setelah shalat isya) bersama Abu Bakr dalam satu perkara kaum muslimin, dan aku bersama keduanya.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (Diriwayatkan At-Tirmidzi no. 169, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">رَقَدْتُ فِي بَيْتِ مَيْمُوْنَةَ لَيْلَةً كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا لِأَنْظُرَ كَيْفَ صَلاَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ، قَالَ: فَتَحَدَّثَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Aku pernah tidur di rumah Maimunah (istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bibi Ibnu ‘Abbas, pent.) pada suatu malam sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada (giliran bermalam, pent.) di rumah Maimunah. Aku sengaja bermalam untuk melihat bagaimana cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di waktu malam. Kata Ibnu Abbas, “(Setelah shalat isya, pent.) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan istrinya beberapa saat kemudian beliau tidur.”</em> (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Usaid bin Hudhair dan seorang laki-laki lain dari Anshar berbincang-bincang di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam untuk suatu urusan mereka berdua, hingga berlalu sesaat dari waktu malam. Sementara malam itu sangatlah gelap. Keduanya kemudian keluar dari sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pulang ke tempat mereka dan di tangan masing-masingnya ada tongkat. Maka tongkat salah satu dari keduanya bercahaya menerangi keduanya, hingga mereka berjalan dalam cahaya tongkat tersebut. Hingga ketika keduanya berpisah, menempuh jalan berbeda, tongkat yang satunya (yang semula tidak mengeluarkan cahaya, pent.) juga bercahaya. Maka masing-masing pun berjalan dalam cahaya tongkatnya hingga tiba di tempat keluarganya. (Diriwayatkan Ibnu Nashr dari Abdurrazzaq, kata Al-Imam Albani rahimahullahu, &#8220;Sanadnya shahih di atas syarat sittah.” Ats-Tsamarul Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, 1/76)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4. Abu Sa’id, maula Anshar berkata, “Adalah Umar tidak membiarkan adanya orang yang berbicara setelah shalat isya. Beliau berkata, ‘Kembalilah kalian (jangan terus ngobrol setelah shalat isya. pent.), mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rizki kepada kalian dengan kalian bisa mengerjakan satu shalat, atau kalian bisa tahajjud.’ Lalu ‘Umar sampai ke tempat kami. Ketika itu aku sedang duduk bersama Ibnu Mas’ud, Ubai bin Ka’b dan Abu Dzar. Umar bertanya, ‘Untuk apa kalian duduk di sini?’ Kami menjawab, ‘Kami ingin berdzikir kepada Allah.’ ‘Umar pun ikut duduk bersama mereka. (Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi 2/391, Ats-Tsamarul Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, 1/77)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dibencinya Menamakan Isya dengan ‘Atamah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">لاَ تَغْلِبَنَّكُمُ الْأَعْرَابُ عَلَى اسْمِ صَلاَتِكُمُ الْعِشَاءِ، فَإِنَّهَا فِي كِتَابِ اللهِ الْعِشَاءُ وَإِنَّهَا تُعْتِمُ بِحِلاَبِ الْإِبِلِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Jangan sekali-kali orang-orang A&#8217;rab (Badui) mengalahkan kalian dalam penamaan shalat isya kalian ini, karena shalat ini dalam kitabullah disebut isya5 dan ia diakhirkan saat diperahnya unta</em>.” (HR. Muslim no. 1454)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam riwayat Ahmad disebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">إِنَّمَا يَدْعُوْنَهَا الْعَتَمَةَ لِإِعْتَامِهِمْ بِالْإِبِلِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“(Orang-orang A’rab) menyebut isya dengan atamah, karena mereka mengakhirkan pemerahan unta sampai malam sangat gelap (dan di saat itulah dilaksanakan shalat isya, pent.).</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">” (Kata Al-Imam Albani rahimahullahu: “Sanadnya shahih di atas syarat Muslim.” Ats-Tsamarul Mustathab, 1/77)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun bila sekali-sekali maka boleh dipakai istilah shalat ‘atamah, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang terdapat dalam Ash-Shahihain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الصُّبْحِ وَالْعَتَمَةِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Seandainya mereka mengetahui keutamaan/pahala yang didapatkan dalam shalat subuh dan atamah (secara berjamaah di masjid, pent.) niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Ada yang mengatakan bahwa hadits ini sebagai nasikh (penghapus) hadits yang melarang penamaan isya dengan ‘atamah. Adapula yang mengatakan sebaliknya. Namun yang benar adalah apa yang menyelisih dua pendapat ini, karena tidak diketahuinya tarikh. Dan sebenarnya tidak ada pertentangan di antara kedua hadits ini. Dengan demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang penamaan isya dengan ‘atamah secara mutlak. Namun beliau hanya melarang bila sampai nama yang syar’i, yaitu isya, sampai ditinggalkan. Karena isya adalah nama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur`an, sementara nama ‘atamah telah mengalahkannya. Apabila shalat ini dinamakan isya namun terkadang ia disebut ‘atamah maka tidaklah apa-apa. Wallahu a’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam hadits ini ada penjagaan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap nama-nama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan terhadap ibadah-ibadah yang ada. Sehingga nama tersebut tidak ditinggalkan, lalu nama yang tidak dari Allah Subhanahu wa Ta’ala justru diutamakan, sebagaimana yang dilakukan orang-orang belakangan. Di mana mereka meninggalkan lafadz-lafadz nash dan lebih mengutamakan/mengedepankan istilah-istilah yang baru. Karena hal ini, terjadilah kerusakan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang mengetahuinya.” (Zadul Ma’ad, 2/9)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1 Karena didapatkan riwayat mauquf dari Ibnu &#8216;Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau memaknakan syafaq dengan humrah, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ad-Daraquthni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2 Wanita dan anak-anak yang ikut menanti shalat isya di masjid. ‘Umar menyeru demikian karena menyangka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya karena lupa. (Al-Minhaj, 5/139)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3 Dalam riwayat Muslim diterangkan bahwa hal itu terjadi sebelum tersebarnya Islam di tengah manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4 Ada yang mengatakan bahwa hikmah pelarangan berbincang setelah shalat isya adalah agar jangan sampai hal itu menjadi sebab seseorang meninggalkan qiyamul lail (shalat malam), atau ia tenggelam dalam obrolan kemudian tertidur pulas setelahnya hingga habis waktu shalat subuh. (Al-Majmu’ 3/44, Fathul Bari, 2/66)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5 Yaitu dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah An-Nur ayat 58:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Sumber: http://drussalaf.or.id offline <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank">Penulis : Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari Judul: Waktu-waktu Shalat</a></span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
0.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/bolehkah-menarik-seseorang-dari-shof-untuk-sholat-bersamanya/" target="_blank">Bolehkah Menarik Seseorang dari Shaff Untuk Sholat Bersamanya?</a><br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/11/janganlah-shaf-sholat-terputus-oleh-tiang-mesjid/" target="_blank">Janganlah Shaf Sholat Terputus Oleh Tiang Masjid</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/10/wajibnya-meluruskan-shaf-dalam-shalat/" target="_blank">WAJIBNYA Meluruskan Shaf Dalam Shalat</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/24/jangan-engkau-shalat-kecuali-menghadap-sutrah-atau-pembatas/" target="_blank">Jangan Engkau Shalat Kecuali Menghadap Sutrah atau Pembatas</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/29/8-delapan-hal-wanita-sholat-berjam%e2%80%99ah-di-masjid/" target="_blank">8 (Delapan) Hal Wanita Sholat Berjam’ah di Masjid</a><br />
5.<a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/category/koreksi-shalat-kita/">KOREKSI SHOLAT-SHOLAT KITA</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2634/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2634&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/27/awal-waktu-dan-batas-akhir-waktu-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PAKAIAN WANITA DALAM SHOLAT</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/17/pakaian-wanita-dalam-shalat/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/17/pakaian-wanita-dalam-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 01:46:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Koreksi Shalat Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah sholat pakai celana jean pakaian ketat lain]]></category>
		<category><![CDATA[jenis jenis pakaian sholat]]></category>
		<category><![CDATA[macam macam pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sholat dengan pakaian ketat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat dengan satu pakaian berdosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2626</guid>
		<description><![CDATA[Pakaian Wanita dalam Shalat 1.Pertanyaan Apakah boleh shalat memakai pantaloon (celana panjang ketat) bagi wanita dan lelaki. Bagaimana pula hukum syar’inya bila wanita memakai pakaian yang bahannya tipis namun tidak menampakkan auratnya? Jawab: Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pakaian yang ketat yang membentuk anggota-anggota tubuh dan menggambarkan tubuh wanita, anggota-anggota badan berikut lekuk-lekuknya tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2626&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/17/pakaian-wanita-dalam-shalat/" target="_blank"><span class="judul"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pakaian Wanita dalam Shalat</span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1.Pertanyaan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apakah boleh shalat memakai pantaloon (celana panjang ketat) bagi wanita</span></span></em></span><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> dan lelaki. Bagaimana pula hukum syar’inya bila wanita memakai pakaian yang bahannya tipis namun tidak menampakkan auratnya? <span id="more-2626"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab: </span></strong></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
</span></strong><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “<em><span style="text-decoration:underline;">Pakaian yang ketat yang membentuk anggota-anggota tubuh dan menggambarkan tubuh wanita, anggota-anggota badan berikut lekuk-lekuknya tidak boleh dipakai, baik bagi laki-laki maupun wanita</span></em>. Bahkan untuk wanita lebih sangat pelarangannya karena fitnah (godaan) yang ditimbulkannya lebih besar. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun dalam shalat, bila memang seseorang shalat dalam keadaan auratnya tertutup dengan pakaian tersebut maka shalatnya sah karena adanya penutup aurat, akan tetapi orang yang berpakaian ketat tersebut berdosa. Karena terkadang ada amalan shalat yang tidak ia laksanakan dengan semestinya disebabkan ketatnya pakaiannya. Ini dari satu sisi. Sisi yang kedua, pakaian semacam ini akan mengundang fitnah dan menarik pandangan (orang lain), terlebih lagi bila ia seorang wanita. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka wajib bagi si wanita untuk menutup tubuhnya dengan pakaian yang lebar dan lapang, tidak menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya, tidak mengundang pandangan (karena ketatnya), dan juga pakaian itu tidak tipis menerawang. Hendaknya pakaian itu merupakan pakaian yang dapat menutupi tubuh si wanita secara sempurna, tanpa ada sedikitpun dari tubuhnya yang tampak. Pakaian itu tidak boleh pendek sehingga menampakkan kedua betisnya, dua lengannya, atau dua telapak tangannya. Si wanita tidak boleh pula membuka wajahnya di hadapan lelaki yang bukan mahramnya tapi ia harus menutup seluruh tubuhnya. Pakaiannya tidak boleh tipis sehingga tampak tubuhnya di balik pakaian tersebut atau tampak warna kulitnya. Yang seperti ini jelas tidak teranggap sebagai pakaian yang dapat menutupi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam hadits yang shahih1:</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
</span><span class="fnu"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: رِجَالٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسُ وَنِساَءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُؤُوْسَهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ لاَ يَجِدْنَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ</span></strong></span><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;"><br />
</span></strong><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Ada dua golongan dari penduduk neraka yang saat ini aku belum melihat keduanya. Yang pertama, satu kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor sapi, yang dengannya mereka memukul manusia. Kedua, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka miring dan membuat miring orang lain. Kepala-kepala mereka semisal punuk unta, mereka tidak akan mencium wanginya surga</em>.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Makna كَاسِيَاتٌ: mereka mengenakan pakaian akan tetapi hakikatnya mereka telanjang karena pakaian tersebut tidak menutupi tubuh mereka. Modelnya saja berupa pakaian akan tetapi tidak dapat menutupi apa yang ada di baliknya, mungkin karena tipisnya atau karena pendeknya atau kurang panjang untuk menutupi tubuh. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka wajib bagi para muslimah untuk memperhatikan hal ini. (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan, 3/158-159)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2.Pertanyaan:</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kebanyakan wanita bermudah-mudah dalam masalah aurat mereka di dalam shalat. Mereka membiarkan kedua lengan bawahnya atau sedikit darinya terbuka/tampak saat shalat, demikian pula telapak kaki bahkan terkadang terlihat sebagian betisnya, apakah seperti ini shalatnya sah?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab: </span></strong></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
</span></strong><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullahu memberikan jawaban, “<em>Yang wajib bagi wanita merdeka dan mukallaf untuk menutup seluruh tubuhnya dalam shalat terkecuali wajah dan dua telapak tangan, karena seluruh tubuh wanita aurat.</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bila ia shalat sementara tampak sesuatu dari auratnya, seperti betis, telapak kaki, kepala atau sebagiannya, maka shalatnya tidak sah, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ الْحَائِضِ إِلاَّ بِخِمَارٍ</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid kecuali bila mengenakan kerudung</em>.” (HR. Al-Imam Ahmad dan Ahlus Sunan kecuali An-Nasa’i dengan sanad yang shahih) </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yang dimaksud haid dalam hadits di atas adalah baligh.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Juga berdasar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Wanita itu aurat.”</em> (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan dalam Al-Misykat (no. 3109), Al-Irwa’ (no. 273), dan Ash-Shahihul Musnad (2/36). –pen.)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Juga riwayat Abu Dawud dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang shalat memakai dira’ (pakaian yang biasa dikenakan wanita di rumahnya, semacam daster) dan khimar (kerudung) tanpa memakai izar (sarung/pakaian yang menutupi bagian bawah tubuh). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“(Boleh) apabila dira’ tersebut luas/lebar hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.”</span></em></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
<span class="fnu">Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Bulughul Maram berkata, “Para imam menshahihkan mauqufnya haditsnya atas Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.” (</span></span></em><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yakni hadits di atas adalah ucapan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.)<em></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bila di dekat si wanita (di sekitar tempat shalatnya) ada lelaki ajnabi maka wajib baginya menutup pula wajahnya dan kedua telapak tangannya.” </span></em></span><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/ 409)</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
3.<strong>Pertanyaan<br />
</strong><span class="fnu">Kita perhatikan sebagian orang yang shalat mereka mengenakan pakaian yang tipis hingga bisa terlihat kulit di balik pakaian tersebut. Apa hukumnya shalat dengan pakaian seperti itu?</span><br />
<span class="fnu">Jawab: </span><br />
<span class="fnu">Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullahu menjawab, “Wajib bagi orang yang shalat untuk menutup auratnya ketika shalat menurut kesepakatan kaum muslimin dan tidak boleh ia shalat dalam keadaaan telanjang, sama saja apakah ia lelaki ataukah wanita.</span><br />
<span class="fnu">Wanita lebih sangat lagi auratnya. Kalau lelaki, auratnya dalam shalat adalah antara pusar dan lutut disertai dengan menutup dua pundak atau salah satunya bila memang ia mampu, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu: </span><br />
<span class="fnu"><strong>إِنْ كَانَ الثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِف بِهِ، وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Bila pakaian/kain itu lebar/lapang maka berselimutlah engkau dengannya (menutupi pundak) namun bila kain itu sempit bersarunglah dengannya (menutupi tubuh bagian bawah).</em>” (Muttafaqun ‘alaihi)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Juga berdasar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
<span class="fnu">لاَيُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Tidak boleh salah seorang dari kalian shalat dengan mengenakan satu pakaian/kain sementara tidak ada sedikitpun bagian dari kain itu yang menutupi pundaknya.”</em> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hadits ini disepakati keshahihannya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun wanita, seluruh tubuhnya aurat di dalam shalat terkecuali wajahnya.</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
<span class="fnu">Ulama bersilang pendapat tentang dua telapak tangan wanita: Sebagian mereka mewajibkan menutup kedua telapak tangan. Sebagian lain memberi keringanan (rukhshah) untuk membuka keduanya. Perkaranya dalam hal ini lapang, insya Allah. Namun menutupnya lebih utama/afdhal dalam rangka keluar dari perselisihan ulama dalam masalah ini.</span><br />
<span class="fnu">Adapun dua telapak kaki, jumhur ahlil ilmi (mayoritas ulama) berpendapat keduanya wajib ditutup.</span><br />
<span class="fnu">Abu Dawud mengeluarkan hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha: </span><br />
</span><span class="fnu"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“(Boleh) apabila dira’ tersebut luas/lebar hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.”</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
<span class="fnu">Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Bulughul Maram berkata, “Para imam menshahihkan mauqufnya hadits ini atas Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha (yakni, ucapan ini adalah perkataan Ummu Salamah bukan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, red.).”</span><br />
<span class="fnu">Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, wajib bagi lelaki dan wanita untuk mengenakan pakaian yang dapat menutupi tubuhnya, karena kalau pakaian itu tipis tidak menutup aurat batallah shalat tersebut. Termasuk di sini bila seorang lelaki memakai celana pendek yang tidak menutupi kedua pahanya dan tidak memakai pakaian lain di atas celana pendek tersebut sehingga dua pahanya tertutup, maka shalatnya tidaklah sah. </span><br />
<span class="fnu">Demikian pula wanita yang mengenakan pakaian tipis yang tidak menutupi auratnya maka batallah shalatnya. Padahal shalat merupakan tiang Islam dan rukun yang terbesar setelah syahadatain, maka wajib bagi seluruh kaum muslimin, pria dan wanita, untuk memberikan perhatian terhadapnya dan menyempurnakan syarat-syaratnya serta berhati-hati dari sebab-sebab yang dapat membatalkannya, berdasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: </span><br />
<span class="fnu">“<em>Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (ashar</em>)&#8230;” (Al-Baqarah: 238)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan firman-Nya: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> “<em>Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat</em>.” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tidaklah diragukan bahwa memerhatikan syarat-syarat shalat dan seluruh yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan berkenaan dengan shalat masuk dalam makna penjagaan dan penegakan yang diperintahkan dalam ayat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apabila di sisi/di sekitar si wanita itu ada lelaki ajnabi saat ia hendak shalat maka wajib (Berdasar pendapat yang mewajibkan menutup wajah, bukan yang menganggapnya sunnah. (ed)) baginya menutup wajahnya. Demikian pula dalam thawaf, ia tutupi seluruh tubuhnya karena thawaf masuk dalam hukum shalat. Wabillahi at-taufiq.” (Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/410-412)</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
4.<strong>Pertanyaan<br />
</strong><span class="fnu">Bila aurat orang yang sedang shalat tersingkap, bagaimana hukumnya? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab: </span></strong></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
</span></strong><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menjawab, “Orang yang demikian tidak lepas dari beberapa keadaan :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama:</span></strong></span><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Bila ia sengaja/membiarkannya, shalatnya batal, baik sedikit yang terbuka/tersingkap ataupun banyak, lama waktunya ataupun sebentar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua:</span></strong></span><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Bila ia tidak sengaja dan yang terbuka cuma sedikit maka shalatnya tidak batal.</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br />
<span class="fnu"><strong>Ketiga:</strong> Bila ia tidak sengaja dan yang terbuka banyak namun cuma sebentar seperti saat angin bertiup sedang ia dalam keadaan ruku lalu pakaiannya tersingkap tapi segera ia tutupi/perbaiki maka pendapat yang shahih shalatnya tidak batal karena ia segera menutup auratnya yang terbuka dan ia tidak bersengaja menyingkapnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</span><br />
<span class="fnu">“<em>Bertakwallah kalian kepada Allah semampu kalian</em>.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keempat: Bila ia tidak sengaja dan yang terbuka banyak, waktunya pun lama karena ia tidak tahu ada auratnya yang terbuka terkecuali di akhir shalatnya maka shalatnya tidak sah karena menutup aurat merupakan salah satu syarat shalat dan umumnya yang seperti ini terjadi karena ketidakperhatian dirinya terhadap auratnya di dalam shalat. Wallahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh ibnu Al-Utsaimin, Fatawa Al-Fiqh, 12/300-301)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Footnote:</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1 HR. Muslim no. 5547.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menyatakan hadits di atas termasuk mukjizat kenabian, karena telah muncul dan didapatkan dua golongan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Adapun makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ, wanita-wanita itu memakai nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tapi tidak mensyukurinya. Ada pula yang memaknakan, para wanita tersebut menutup sebagian tubuh mereka dan membuka sebagian yang lain guna menampakkan kebagusannya. Makna lainnya, mereka memakai pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya dan apa yang tersembunyi di balik pakaian tersebut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">مَائِلاَتٌ maknanya mereka menyimpang dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari perkara yang semestinya dijaga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">مُمِيْلاَتٌ maknanya mereka mengajarkan perbuatan mereka yang tercela kepada orang lain. Ada pula yang menerangkan مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ dengan makna mereka berjalan dengan miring berlagak angkuh dan menggoyang-goyangkan pundak mereka. Makna yang lain, mereka menyisir rambut mereka dengan gaya miring seperti model sisiran wanita pelacur dan mereka menyisirkan wanita lain dengan model sisiran seperti mereka. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="fnu"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">رٌؤٌوْسٌهٌنَّ كأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ maknanya mereka membesarkan rambut mereka dengan melilitkan sesuatu di kepala mereka. (Al-Minhaj, 14/336).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank"><span class="fnu"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Sumber : http://salafy.or.id Judul: </span></span><span class="judul"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Pakaian Wanita dalam Shalat</span></span></a></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/wajibnya-shalat-fardu-di-masjid/" target="_blank">Wajibnya Shalat Fardu di Masjid Bagi Laki-laki..</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/03/shalat-berjamaah-di-mesjid-perintah-agama-yang-kian-ditinggalkan/" target="_blank">Shalat Berjama’ah Di Mesjid, Perintah Agama Yang Kian Ditinggalkan</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/30/yang-muslimah-lakukan-ketika-hendak-keluar-rumah/" target="_blank">Yang Muslimah Lakukan ketika Hendak Keluar Rumah</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/01/berbicara-soal-dunia-di-dalam-masjid/" target="_blank">Berbicara Soal Dunia di Dalam Masjid</a><br />
5.<a title="Taut Tetap ke 11 (Sebelas) Hal yang Dilakukan Ketika Datang dan Pulang dari Masjid" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/21/11-sebelas-hal-yang-dilakukan-ketika-datang-dan-pulang-dari-masjid/">11 (Sebelas) Hal yang Dilakukan Ketika Datang dan Pulang dari Masjid</a><br />
6.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/05/bagaimana-pakaian-yang-seharusnya-dikenakan-ketika-waktu-sholat/" target="_blank">BAGAIMANA PAKAIAN YANG SEHARUSNYA DIKENAKAN KETIKA WAKTU SHOLAT?</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2626/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2626&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/17/pakaian-wanita-dalam-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BACAAN DOA SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SAHWI</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/bacaan-doa-sujud-tilawah-dan-sujud-sahwi/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/bacaan-doa-sujud-tilawah-dan-sujud-sahwi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 13:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Koreksi Shalat Kita]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sujud sahwi sama]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan Sujud Syukur dan Sujud Tilawah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa yang dibaca sujud tilawah]]></category>
		<category><![CDATA[macam macam sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sujud tilawah disunnahkan takbir]]></category>
		<category><![CDATA[Tata cara sujud tilawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2619</guid>
		<description><![CDATA[Bacaan Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi Apa bacaannya pada saat sujud tilawah atau sujud sahwi? Jawab: Adapun sujud tilawah ada dua hadits yang menjelaskannya, tapi keduanya adalah hadits dho’if (lemah). Satu : Hadits ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha- : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِيْ سُجُوْدِ الْقُرْآنِ بِالْلَيْلِ سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2619&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/bacaan-doa-sujud-tilawah-dan-sujud-sahwi/" target="_blank"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bacaan Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apa bacaannya pada saat sujud tilawah atau sujud sahwi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun sujud tilawah ada dua hadits yang menjelaskannya, tapi keduanya adalah hadits dho’if (lemah).<span id="more-2619"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Satu : Hadits ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha- :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِيْ سُجُوْدِ الْقُرْآنِ بِالْلَيْلِ سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعُهُ وَبََصَرُهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Adalah Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa salam beliau membaca dari sujud Al-Qur’an (sujud tilawah-pent.) pada malam hari : &#8220;Telah sujud wajahku kepada Yang Menciptakanku, maka beratlah pendengaran dan penglihatan karena kemampuan dan kekuatan-Nya&#8221;. Dan dalam riwayat Hakim ada tambahan : &#8220;Maka Maha Berkah Allah sebaik-baik pencipta&#8221;. Dan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah : &#8220;Beliau mengucapkannya tiga kali</em>&#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Hadits ini diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahaway dalam Musnadnya 3/965 no.1679, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf 1/380 no.4372, Ahmad dalam Musnadnya 6/30, Tirmidzy 2/474 no.580 dan 5/456 no.3425, An-Nasai 2/222 no.1129 dan Al-Kubro 1/239 no.714, Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi’ar Ashhabul Hadits no.82, 83, Ibnu Khuzaimah 1/382, Hakim 1/341-342, Ad-Daraquthny 1/406, Al-Baihaqy 2/325, Abu Syaikh Al-Ashbahany dalam Ath-Thobaqat 3/513 dan Ath-Thobarany dalam Al-Ausath 4/9 no.4376.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Semua meriwayatkan hadits ini dari jalan Khalid bin Mihran Al-Hadzdza` dari Abul’Aliyah dari’Aisyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Cacat yang menyebabkan hadits ini lemah adalah Khalid bin Mihran tidak mendengar dari Abul’Aliyah. Berkata Imam Ahmad <em><span style="text-decoration:underline;">: &#8220;Khalid tidak mendengar dari Abul’Aliyah</span></em>&#8220;. Baca : Tahdzib At-Tahdzib dan Jami’ At-Tahshil karya Al- ˜Ala`i.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya menegaskan bahwa sebenarnya antara Khalid dan Abul’Aliyah ada perantara yaitu seorang rowi mubham (seorang lelaki yang tidak disebut namanya-pen.).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saya berkata : Apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Khuzaimah ini memang benar karena Khalid bin Mihran dari seluruh referensi yang disebutkan di atas ia meriwayatkan dari Abul’Aliyah dengan lafadz’An (dari) sehingga riwayat Khalid ini dianggap terputus dari Abul’Aliyah apabila telah terbukti ada riwayat lain menyebutkan ada perantara antara Khalid dengan Abul’Aliyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan ternyata ada riwayat dari jalan’Isma’il bin’Ulayyah dari Khalid bin Mihran dari seorang lelaki dari Abul’Aliyah dari’Aisyah -radhiyallahu’anha-.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Riwayat’Isma’il bin’Ulayyah ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 6/217, Abu Daud 2/60 no.1414, Ibnu Khuzaimah 1/283 dan Al-Baihaqy dalam Al-Kubro 1/325 dan As-Sughro 1/509.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka bisa disimpulkan bahwa hadits’Aisyah ini adalah hadits yang lemah karena Khalid tidak mendengar dari Abul’Aliyah dan perantara antara keduanya adalah seorang rawi mubham. Karena itulah hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’y -rahimahullahu- dalam Ahadits Mu’allah Zhohiruha Ash-Shihhah hadits no. 395.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua : Hadits Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">قَرَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ سَجَدَةً ثُمَّ سَجَدَ فَسَمِعْتُهُ وَهُوَ يَقُوْلُ اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ بِهَا عِنْدَكَ أَجَرًا وَضَعْ عَنِّيْ بِهَا وِزْرًا وَاجْعَلْهَا لِيْ عِنْدَكَ ذَخَرًا وَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa salam membaca satu ayat dari ayat-ayat sajadah lalu beliau sujud kemudian beliau membaca doa : &#8220;Wahai Allah tulislah untukku dengannya disisiMu sebagai pahala dan letakkanlah dariku dengannya dosa dan jadikanlah untukku disisiMu sebagai modal dan terimalah dariku sebagaimana Engkau menerima dari hambaMu (Nabi) Daud</em>&#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzy 2/472 no.549 dan 5/455-456 no.3424, Ibnu Majah 1/334 no.1053, Ibnu Khuzaimah 1/282-283 no.572-573, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 6/473 no.2568 dan Al-Mawarid no.691, Al-Hakim 1/341, Al-Baihaqy 2/320, Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi’ar Ashhabul hadits no.84, Ath-Thobarany 11/104 no.11262, Al-â€˜Uqoily dalam Ad-Du’afa` 1/242-243, Al-Khalily dalam Al-Irsyad 1/353-354 dan Al-Mizzy dalam Tahdzib Al-Kamal 6/314.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Semuanya meriwayatkan dari jalan Muhammad bin Yazid bin Hunais dari Hasan bin Muhammad bin’Ubaidillah bin Abi Yazid berkata kepadaku Ibnu Juraij : &#8220;<em>Wahai Hasan, kakekmu’Ubaidillah bin Abi Yazid mengabarkan kepadaku dari Ibnu’Abbas&#8221;</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saya berkata : Dalam hadits ini ada dua cacat :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Muhammad bin Yazid bin Hunais. Abu Hatim berkomentar tentangnya : &#8220;Syaikhun sholihun (Seorang Syaikh yang sholeh)&#8221;. Dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqot maka rawi seperti ini tidak dipakai berhujjah kalau bersendirian karena itu Al-Hafidz menyimpulkan dari Taqrib At-Tahdzib : &#8220;Maqbul (diterima haditsnya kalau ada pendukungnya, kalau tidak ada pendukungnya ia adalah layyinul hadits (lembek haditsnya)&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Hasan bin Muhammad bin’Ubaidillah. Adz-Dzahaby berkomentar tentangnya : &#8220;<em>Berkata Al-‘Uqoily : &#8220;laa yutaba’u’alaihi (Ia tidak mempunyai pendukung)&#8221; dan berkata yang lainnya : &#8220;Padanya (Hasan bin Muhammad) ada Jahalah (tidak dikenal)&#8221;.</em> Maka rawi ini juga tidak dipakai berhujjah kalau bersendirian.. Apalagi Imam At-Tirmidzy menganggap bahwa hadits ini adalah hadits ghorib. Dan istilah hadits ghorib menurut Imam At-Tirmidzy adalah hadits lemah. Wallahu A’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kesimpulan:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tidak ada hadits yang shohih tentang doa sujud tilawah maka kalau seseorang membaca ayat dari ayat-ayat sajadah dalam sholat kemudian ia sujud <strong>maka ia membaca doa seperti yang ia baca dalam sujud sholat.</strong> Ini merupakan pendapat Imam Ahmad sebagaimana dalam Al-Mughny 2/362 dan Masail Imam Ahmad </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">riwayat Ibnu Hany 1/98.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun kalau sujud tilawahnya di luar sholat maka tidak ada syariat membaca doa apapun. Wallahu A’lam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun doa sujud sahwi kami tidak mengetahui ada doa yang khusus pada sujud sahwi tersebut mungkin karena itu Imam Ibnu Qudamah berkata bahwa <strong>yang dibaca dalam sujud sahwi adalah sama dengan apa yang dibaca pada sujud sholat.</strong></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:#333399;">Sumber: Baca : Al-Mughny 2/432-433. Wal ‘Ilmu’Indallah Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain, Sumber: <a href="http://an-nashihah.com/"><span style="color:#333399;">http://an-nashihah.com/</span></a> <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank">judul: Bacaan Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi</a></span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
0.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/bolehkah-menarik-seseorang-dari-shof-untuk-sholat-bersamanya/" target="_blank">Bolehkah Menarik Seseorang dari Shaff Untuk Sholat Bersamanya?</a><br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/11/janganlah-shaf-sholat-terputus-oleh-tiang-mesjid/" target="_blank">Janganlah Shaf Sholat Terputus Oleh Tiang Mesjid</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/10/wajibnya-meluruskan-shaf-dalam-shalat/" target="_blank">WAJIBNYA Meluruskan Shaf Dalam Shalat</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/24/jangan-engkau-shalat-kecuali-menghadap-sutrah-atau-pembatas/" target="_blank">Jangan Engkau Shalat Kecuali Menghadap Sutrah atau Pembatas</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/29/8-delapan-hal-wanita-sholat-berjam%e2%80%99ah-di-masjid/" target="_blank">8 (Delapan) Hal Wanita Sholat Berjam’ah di Masjid</a><br />
5.<a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/category/koreksi-shalat-kita/">KOREKSI SHOLAT-SHOLAT KITA</a><br />
6.<a title="Permanent link to Sujud Syukur dan Sujud Tilawah" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/sujud-syukur-dan-sujud-tilawah/">SUJUD SYUKUR DAN SUJUD TILAWAH</a><br />
7.<a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/bacaan-doa-sujud-tilawah-dan-sujud-sahwi/" rel="bookmark" title="Permanent link to Bacaan Doa Sujud Tilawah dan Sujud&nbsp;Sahwi">BACAAN DOA SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SAHWI</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2619/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2619/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2619/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2619&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/bacaan-doa-sujud-tilawah-dan-sujud-sahwi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sujud Syukur dan Sujud Tilawah</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/sujud-syukur-dan-sujud-tilawah/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/sujud-syukur-dan-sujud-tilawah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 12:59:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Koreksi Shalat Kita]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sujud sahwi sama]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan Sujud Syukur dan Sujud Tilawah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa yang dibaca sujud tilawah]]></category>
		<category><![CDATA[macam macam sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sujud tilawah disunnahkan takbir]]></category>
		<category><![CDATA[Tata cara sujud tilawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2615</guid>
		<description><![CDATA[Sujud Syukur dan Sujud Tilawah Untuk melengkapi pembahasan masalah sujud sahwi pada edisi sebelum ini, kali ini kami akan menerangkan tentang sujud tilawah dan sujud syukur. Hal ini agar tidak terkesan dalam benak kita bahwa sujud yang disyariatkan selain sujud yang biasa dalam shalat hanya sujud sahwi saja. a. Sujud Tilawah Sujud tilawah mempunyai kedudukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2615&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/sujud-syukur-dan-sujud-tilawah/" target="_blank"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sujud Syukur dan Sujud Tilawah</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Untuk melengkapi pembahasan masalah sujud sahwi pada edisi sebelum ini, kali ini kami akan menerangkan tentang sujud tilawah dan sujud syukur. Hal ini agar tidak terkesan dalam benak kita bahwa sujud yang disyariatkan selain sujud yang biasa dalam shalat hanya sujud sahwi saja.<span id="more-2615"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">a. Sujud Tilawah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sujud tilawah mempunyai kedudukan yang tinggi dalam sunnah. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dalam hadits yang shahih yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : <em>Dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda : “Jika Bani Adam membaca ayat sajdah maka setan menyingkir dan menangis lalu berkata : ‘Wahai celaka aku, Bani Adam diperintahkan untuk sujud, maka dia sujud, dan baginya Surga, sedangkan aku diperintahkan untuk sujud, tetapi aku mengabaikannya, maka neraka bagiku.</em>’ “ (Dikeluarkan oleh Muslim, lihat Fiqhul Islam halaman 23 karya Syaikh Abdul Qadir Syaibatul Hamdi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan hadits di atas jelas bagi kita bahwa sujud tilawah mempunyai arti yang agung bagi siapa saja yang mau mengamalkannya. Tentunya hal itu dilakukan dengan niat yang ikhlas hanya mencari wajah Allah Ta’ala dan sesuai dengan contoh Nabi kita, Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam. Karena amal tanpa kedua syarat tersebut akan tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, dari Ummul Mukminin, Aisyah Radhiallahu &#8216;anha :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Barangsiapa mengamalkan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal tersebut tertolak</em>. (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kemudian dalil yang menunjukkan agar kita ikhlas dalam beramal adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus …</em> .&#8221;(Al Bayyinah : 5)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sedangkan kalau tidak ikhlas, amal itu akan terhapus. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Jika engkau berlaku syirik kepada Allah, niscaya akan terhapus amalmu</em>. (Az Zumar : 65)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Definisi Sujud Tilawah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Secara bahasa tilawah berarti bacaan. Sedangkan secara istilah, sujud tilawah artinya <em><span style="text-decoration:underline;">sujud yang dilakukan tatkala membaca ayat sajdah di dalam atau di luar shalat.</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disyariatkannya Sujud Tilawah Dan Hukumnya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sujud tilawah termasuk amal yang disyariatkan. Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam telah menunjukkan hal tersebut. Dikuatkan lagi dengan kesepakatan ulama sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Syafi’i dan Imam Nawawi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di antara dalil-dalil dari hadits yang menunjukkan disyariatkannya adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu, beliau berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;Kami pernah sujud bersama Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam pada surat (idzas sama’un syaqqat) dan (iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq).</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (HR. Muslim dalam Shahih-nya nomor 578, Abu Dawud dalam Sunan-nya nomor 1407, Tirmidzi dalam Sunan-nya nomor 573, 574, dan Nasa’i dalam Sunan-nya juga 2/161)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Hadits Ibnu Abbas. Beliau radhiallahu &#8216;anhu bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam sujud pada surat An Najm</em>.&#8221; (HR. Bukhari dalam Shahih-nya 2/553, Tirmidzi 2/464)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari hadits-hadits di atas, para ulama bersepakat tentang disyariatkannya sujud tilawah. Hanya saja mereka berselisih tentang hukumnya. Jumhur ulama berpendapat tentang sunnahnya sujud tilawah bagi pembaca dan pendengarnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Umar radhiallahu &#8216;anhu pernah membaca surat An Nahl pada hari Jum’at. Tatkala sampai kepada ayat sajdah, beliau turun seraya sujud dan sujudlah para manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada hari Jum’at setelahnya, beliau membacanya (lagi) dan tatkala sampai pada ayat sajdah tersebut, beliau berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;Wahai <em><span style="text-decoration:underline;">manusia, sesungguhnya kita akan melewati ayat sujud. Barangsiapa yang sujud maka dia mendapatkan pahala dan barangsiapa yang tidak sujud, maka tidak berdosa</span></em>. [ Pada lafadh lain : <em>“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak mewajibkan sujud tilawah, melainkan jika kita mau.</em>” ] (HR. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Perbuatan Umar radhiallahu &#8216;anhu di atas dilakukan di hadapan para shahabat dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya. Hal ini menunjukkan ijma’ para shahabat bahwa sujud tilawah disunnahkan. Di antara ulama yang menyatakan demikian adalah Syaikh Ali Bassam dalam kitabnya Taudlihul Ahkam dan Sayid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Syaikh Abdurrahman As Sa’di menyatakan : “<em>Tidak ada nash yang mewajibkan sujud tilawah, baik dari Al Qur’an, hadits, ijma’, maupun qiyas … .”</em> (Taudlihul Ahkam, halaman 167)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendapat lain menyatakan bahwa sujud tilawah hukumnya wajib. Hal ini dinyatakan oleh Madzhab Hanbali. Mereka berdalil dengan surat Al Insyiqaq :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak sujud.</em> (Al Insyiqaq : 20-21)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan adanya ayat di atas, mereka mengatakan bahwa orang yang tidak beriman ketika dibacakan ayat Al Qur’an tidak mau bersujud. Dengan demikian mereka menyimpulkan bahwa sujud tilawah itu hukumnya wajib. Namun pendapat yang rajih (kuat) bahwa hukum sujud tilawah adalah sunnah sebagaimana telah diterangkan di depan. Wallahu A’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di antara dalil yang menunjukkan tidak wajibnya sujud tilawah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : <em>&#8220;Bahwasanya Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam sujud ketika membaca surat An Najm.</em> (HR. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada hadits yang lain, Zaid bin Tsabit berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Saya pernah membacakan kepada Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam surat An Najm, tetapi beliau tidak bersujud</em>. (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan adanya kedua hadits ini dapat diketahui bahwa sujud tilawah tidak wajib hukumnya. Karena Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam kadang-kadang bersujud pada suatu ayat dan disaat lain pada ayat yang sama beliau tidak sujud. Pada hadits ini juga dimungkinkan bahwa pembaca &#8211;dalam hal ini Zaid bin Tsabit&#8211; tidak bersujud sehingga Rasulullah pun tidak bersujud. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini didukung pula dengan perbuatan Umar di atas, beliau radhiallahu &#8216;anhu tidak bersujud ketika membaca ayat sajdah. Padahal yang ikut shalat bersama beliau radhiallahu &#8216;anhu adalah para shahabat dan mereka tidak mengingkarinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tempat-Tempat Disyariatkannya Sujud Tilawah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> beberapa pendapat mengenai tempat dalam Al Qur’an yang mengandung ayat-ayat sajdah sebagaimana dinyatakan oleh Imam Shan’ani dalam Subulus Salam juz 1, halaman 402-403 :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Pendapat Madzhab Syafi’i</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sujud tilawah terdapat pada sebelas tempat. Mereka tidak menganggap adanya sujud tilawah dalam surat-surat mufashal (ada yang berpendapat yaitu surat Qaaf sampai An Nas, ada juga yang berpendapat surat Al Hujurat sampai An Nas).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Pendapat Madzhab Hanafi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sujud tilawah terdapat pada empat belas tempat. Mereka tidak menghitung pada surat Al Hajj, kecuali hanya satu sujud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3. Pendapat Madzhab Hanbali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sujud tilawah terdapat pada lima belas tempat. Mereka menghitung dua sujud pada surat Al Hajj dan satu sujud pada surat Shad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendapat pertama berdalil dengan hadits Ibnu Abbas : “<em>Bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam tidak sujud pada surat-surat mufashal sejak berpindah ke Madinah.”</em> (HR. Abu Dawud, 1403)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnu Qayim Al Jauziyah berkata tentang hadits ini : “<em>Hadits ini dlaif, pada sanadnya terdapat Abu Qudamah Al Harits bin ‘Ubaid. Haditsnya tidak dipakai.” Imam Ahmad berkata : “Abu Qudamah haditsnya goncang.” Yahya bin Ma’in berkata : “Dia dlaif.” An Nasa’i berkata : “Dia jujur, tapi mempunyai hadits-hadits mungkar.” Abu Hatim berkata : “Dia syaikh yang shalih, namun banyak wahm-nya (keraguannya).”</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnul Qathan beralasan (men-jarh) dengan tulisannya dan berkata : “<em>Muhammad bin Abdurrahman menyerupainya dalam kejelekan hapalannya dan aib bagi seorang Muslim untuk mengeluarkan haditsnya.</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Padahal telah shahih dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu bahwasanya beliau sujud bersama Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam ketika membaca surat iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq dan idzas samaun syaqqat (keduanya termasuk surat-surat mufashal). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beliau masuk Islam setelah kedatangan Nabi ke Madinah selama enam atau tujuh tahun. Jika dua hadits di atas bertentangan dari berbagai segi dan sama dalam keshahihannya, niscaya akan jelas untuk mendahulukan hadits Abu Hurairah. Karena hadits ini tsabit (tetap) dan ada tambahan ilmu yang tersamarkan bagi Ibnu Abbas. Apalagi hadits Abu Hurairah sangat shahih, disepakati keshahihannya, sedangkan hadits Ibnu Abbas dlaif. Wallahu A’lam. (Zadul Ma’ad, juz 1 halaman 273)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendapat pertama juga berdalil dengan hadits Abi Darda : “<em>Aku sujud bersama Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam sebelas sujud yaitu, Al A’raaf, Ar Ra’d, An Nahl, Bani Israil, Al Hajj, Maryam, Al Furqan, An Naml, As Sajdah, Shad, dan Ha Mim As Sajdah. Tidak ada padanya surat-surat mufashal</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Abu Dawud berkata : “<em>Riwayat Abu Darda dari Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi  Wa Sallam tentang sebelas sujud ini sanadnya dlaif. Hadits ini tidak ada pada riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, sedangkan sanadnya tidak dapat dipakai.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendapat kedua terbantah dengan hadits ‘Amr bin ‘Ash : “<em>Bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam membacakan kepadanya lima belas (ayat) sajdah. Tiga di antaranya terdapat dalam surat-surat mufashal dan dua pada surat Al Hajj</em>.” (HR. Abu Dawud 1401 dan Hakim 1/811)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hadits ini sekaligus merupakan dalil bagi siapa saja yang menyatakan bahwa sujud tilawah ada lima belas (seperti pendapat ke-3 di atas). Dalam mengomentari hadits ini, Syaikh Al Albani berkata : “<em>Kesimpulannya, hadits ini sanadnya dlaif. Umat telah menyaksikan kesepakatannya. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun, meskipun hadits ini dlaif, tapi didukung oleh kesepakatan umat untuk beramal dengannya. Juga hadits-hadits shahih mendukungnya, hanya saja, sujud yang kedua pada surat Al Hajj tidak didapat pada hadits dan tidak didukung oleh kesepakatan. Akan tetapi shahabat bersujud ketika membaca surat ini. Dan hal ini termasuk hal yang dianggap masyru’, lebih-lebih tidak diketahui ada shahabat yang menyelisihinya. Wallahu A’lam.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (Tamamul Minnah, halaman 270)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun kelima belas ayat sajdah tersebut terdapat pada surat-surat :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Al A’raf ayat 206.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Ar Ra’d ayat 15.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3. An Nahl ayat 50.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4. Maryam ayat 58.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5. Al Isra’ ayat 109.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6. Al Hajj ayat 18.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">7. Al Hajj ayat 77.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">8. Al Furqan ayat 60.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">9. An Naml ayat 26.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">10. As Sajdah ayat 15.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">11. Shad ayat 24.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">12. An Najm ayat 62.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">13. Fushilat ayat 38.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">14. Al Insyiqaq ayat 21.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">15. Al ‘Alaq ayat 19.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tata Cara Sujud Tilawah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tata cara sujud tilawah dijelaskan oleh para ulama dengan mengambil contoh dari Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya. Di antara hadits yang diambil faedahnya adalah hadits Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhuma di atas. Juga atsar Ibnu Umar radhiallahu &#8216;anhuma yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Sa’id bin Jubair, beliau berkata : <em>“Ibnu Umar radhiallahu &#8216;anhuma pernah turun dari kendaraannya, kemudian menumpahkan air, lalu mengendarai kendaraannya. Ketika membaca ayat sajdah, beliau bersujud tanpa berwudlu.”</em> Demikian penukilan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/644. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beliau menambahkan, adapun atsar yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Laits dari Nafi dari Ibnu Umar bahwasanya beliau berkata : “<em>Janganlah seseorang sujud kecuali dalam keadaan suci.” Maka cara menggabungkannya adalah bahwa yang dimaksud dengan ucapannya suci adalah suci kubra (Muslim, tidak kafir) … . Ucapan ini dikuatkan dengan hadits : “Seorang musyrik itu najis.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketika mengomentari judul bab (yaitu bab Sujudnya kaum Muslimin bersama kaum musyrikin padahal seorang musyrik itu najis dan tidak memiliki wudlu) yang dibuat oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, Ibnu Rusyd berkata : “Pada dasarnya semua kaum Muslimin yang hadir di kala itu (ketika membaca ayat sajdah) dalam keadaan wudlu, tapi ada pula yang tidak. Maka siapa yang bersegera untuk sujud karena takut luput, ia sujud walaupun dia tidak berwudlu ketika ada halangan atau gangguan wudlu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini diperkuat dengan hadits Ibnu Abbas bahwa pernah sujud bersama Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, kaum Muslimin, musyrikin, dari golongan jin dan manusia. Di sini, Ibnu Abbas menyamakan sujud bagi semuanya, padahal pada waktu itu ada yang tidak sah wudlunya. Dari sini diketahui bahwa sujud tilawah tetap sah dilakukan, baik oleh orang yang berwudlu maupun yang tidak. Wallahu A’lam.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jadi, kesimpulannya bahwa sujud tilawah boleh dilakukan bagi yang berwudlu maupun yang tidak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Termasuk dari syarat sujud tilawah adalah takbir. Hanya saja terjadi ikhtilaf mengenai hukumnya. Demikian dibawakan oleh Syaikh Ali Bassam dalam kitabnya Taudlihul Ahkam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun yang rajih (lebih kuat) adalah disunnahkan takbir jika dilakukan dalam shalat. Hal ini berdasarkan keumuman hadits bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam takbir pada tiap pergantian rakaat. Adapun mengenai sujud tilawah diluar shalat, Abu Qilabah dan Ibnu Sirin berkata dalam Al Mushanaf yang diriwayatkan oleh Abdur Razaq : <em>“Apabila seseorang membaca ayat sajdah diluar shalat, hendaklah mengucapkan takbir.” </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beliau (Abdur Razaq) dan Baihaqi meriwayatkannya dari Muslim bin Yasar yang dikatakan Syaikh Al Albani bahwa : “<em>Sanadnya shahih</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun ketika bangkit dari sujud, tidak teriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bahwa beliau mengucapkan takbir. Hal ini diungkapkan oleh Ibnul Qayim dalam Zadul Ma’ad, juz 1 halaman 272. Wallahu A’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari kedua point di atas dapat disimpulkan bahwa pada saat hendak melakukan sujud tilawah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Tidak diharuskan berwudlu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Disunnahkan bertakbir, baik pada waktu shalat maupun diluar shalat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3. Menghadap kiblat dan menutup aurat, sebagaimana yang dinyatakan oleh para fuqaha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tentang masalah ini, terdapat riwayat yang dihasankan oleh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani yang berbunyi : “<em>Dari Abu Abdirrahman As Sulami berkata bahwa Ibnu Umar pernah membaca ayat sajdah kemudian beliau sujud tanpa berwudlu dan tanpa menghadap kiblat dan beliau dalam keadaan mengisyaratkan suatu isyarat.”</em> (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, lihat Fathul Bari juz 2 halaman 645)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun, untuk lebih selamat adalah mengikuti apa yang dinyatakan jumhur fuqaha, sedangkan atsar Ibnu Umar dipahami pada situasi darurat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4. Boleh dilakukan pada waktu-waktu dilarang shalat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5. Disunnahkan bagi yang mendengar bacaan ayat sajdah untuk sujud bila yang membaca sujud dan tidak bila tidak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6. Tidak dibenarkan dilakukan pada shalat sir (shalat dengan bacaan tidak nyaring) seperti pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan Syaikh Muqbil, serta Syaikh Al Albani. Sedangkan hadits yang menerangkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam sujud tilawah pada shalat dhuhur adalah munqathi’ (terputus sanadnya) dan tidak bisa dipakai sebagai dalil. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah, halaman 272.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">7. Doa yang dibaca pada waktu sujud tilawah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Wajahku sujud kepada Penciptanya dan Yang membukakan pendengaran dan penglihatannya dengan daya upaya dan kekuatan-Nya, Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta</em>. (HR. Tirmidzi 2/474, Ahmad 6/30, An Nasa’i 1128, dan Al Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Dzahabi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tidak ada hadits yang shahih tentang doa sujud tilawah kecuali hadits Aisyah (di atas) menurut Sayid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah 1/188, tanpa komentar dari Syaikh Al Albani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">b. Sujud Syukur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sujud syukur termasuk petunjuk Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya ketika mendapatkan nikmat yang baru (nikmat yang sangat besar dari nikmat yang lain) atau ketika tercegah dari musibah/adzab yang besar. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayim dalam Zadul Ma’ad 1/270 dan Syaikh Abdurrahman Ali Bassam dalam Taudlihul Ahkam 2/140 dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hukum Sujud Syukur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jumhur ulama berpendapat tentang sunnahnya sujud ini. Hal ini diungkapkan oleh Sayid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah 1/179 dan Syaikh Al Albani menyetujuinya. Di antara hadits-hadits yang digunakan adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">a. Hadits dari Abi Bakrah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam apabila datang kepadanya berita yang menggembirakannya, beliau tersungkur sujud kepada Allah</em>. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 7/20477, Abu Dawud 2774, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dalam Al Iqamah, Abdul Qadir Irfan menyatakan bahwa sanadnya shahih. Dihasankan pula oleh Syaikh Al Albani).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">b. Hadits :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Bahwasanya Ali radhiallahu &#8216;anhu menulis (mengirim surat) kepada Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi  Wa Sallam mengabarkan tentang masuk Islamnya Hamdan. Ketika membacanya, beliau tersungkur sujud kemudian mengangkat kepalanya seraya berkata : “Keselamatan atas Hamdan, keselamatan atas Hamdan</em>.” (HR. Baihaqi dalam Sunan-nya 2/369 dan Bukhari dalam Al Maghazi 4349. Lihat Al Irwa’ 2/226)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">c. Hadits Anas bin Malik :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bahwasanya Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam ketika diberi kabar gembira, beliau sujud syukur. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah 1392. Pada sanad hadits ini terdapat Ibnu Lahi’ah, dia jelek hapalannya, namun Syaikh Al Albani berkata : <em>“Sanad ini tidak ada masalah karena ada syawahidnya.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">d. Hadits Abdurrahman bin Auf :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : &#8220;<em>Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda, Jibril Alaihis Salam datang kepadaku dan memberi kabar gembira seraya berkata : “Sesungguhnya Rabbmu berkata kepadamu, ‘barangsiapa membaca shalawat kepadamu, Aku akan memberi shalawat kepadanya. Dan barangsiapa memberi salam kepadamu, Aku akan memberi salam kepadanya.’ “ Maka aku sujud kepada-Nya karena rasa syukur</em>. (HR. Ahmad 1/191, Hakim 1/550, dan Baihaqi 2/371)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hadits-hadits di atas dikomentari oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Salim Al Hilali sebagai berikut : “Kesimpulannya, tidak diragukan lagi bagi seorang yang berakal untuk menetapkan disyariatkannya sujud syukur setelah dibawakan hadits-hadits ini. Lebih-lebih lagi hal ini telah diamalkan oleh Salafus Shalih radhiallahu &#8216;anhum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di antara atsar-atsar para shahabat adalah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Sujud Ali radhiallahu &#8216;anhu ketika mendapatkan Dzutsadniyah pada kelompok khawarij. Atsar ini ada pada riwayat Ahmad, Baihaqi, dan Ibnu Abi Syaibah dari beberapa jalan yang mengangkat atsar ini menjadi hasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Sujud Ka’ab bin Malik karena syukur kepada Allah ketika diberi kabar gembira bahwa Allah menerima taubatnya. Dikeluarkan oleh Bukhari 3/177-182, Muslim 8/106-112, Baihaqi 2/370, 460, dan 9/33-36, dan Ahmad 3/456, 459, 460, 6/378-390.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menanggapi atsar-atsar ini Syaikh Salim berkata : “<em>Oleh karena itu, seorang yang bijaksana tidak meragukan lagi untuk menyatakan disyariatkannya sujud syukur</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Barangsiapa menyangka bahwa sujud syukur merupakan perkara bid’ah, maka janganlah menengok kepadanya setelah peringatan ini.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (Lihat Bahjatun Nadhirin, jilid 2 halaman 325)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bagaimana syarat-syarat dilaksanakannya sujud syukur?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Imam Shan’ani menyatakan setelah membawakan hadits-hadits masalah sujud syukur di atas : “<em>Tidak ada pada hadits-hadits tentang hal ini yang menunjukkan adanya syarat wudlu dan sucinya pakaian dan tempat</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Imam Yahya dan Abu Thayib juga berpendapat demikian. Adapun Abul ‘Abbas, Al Muayyid Billah, An Nakha’i, dan sebagian pengikut Syafi’i berpendapat bahwa syarat sujud syukur adalah seperti disyaratkannya shalat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Imam Yahya mengatakan pula : “<em>Tidak ada sujud syukur dalam shalat walaupun satu pendapat pun.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Abu Thayib tidak mensyaratkan menghadap kiblat ketika sujud ini. (Lihat Nailul Authar, juz 3 halaman 106)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Imam Syaukani merajihkan bahwa dalam sujud syukur tidak disyaratkan wudlu, suci pakaian dan tempat, juga tidak disyaratkan adanya takbir dan menghadap kiblat. Wallahu A’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari keterangan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Disyariatkannya sujud tilawah dalam shalat dan diluar shalat. Jika diluar shalat, bagi yang mendengar ayat sajdah sujud jika yang membacanya sujud. Sedangkan sujud syukur hanya dilakukan diluar shalat.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Hukum sujud tilawah dan sujud syukur adalah sunnah.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3. Sujud tilawah ada pada 15 tempat. <span style="text-decoration:underline;">Sedangkan sujud syukur dilakukan pada waktu mendapatkan kabar gembira yang besar. Bukan hanya pada setiap mendapatkan kenikmatan saja, karena nikmat Allah itu selalu diberi kepada kita. Juga dilakukan ketika terlepas dari mara bahaya.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4. Sujud tilawah dan sujud syukur boleh dilakukan pada waktu-waktu dilarang shalat.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5. Pada sujud tilawah disunnahkan takbir di dalam atau di luar shalat, sedangkan sujud syukur tidak.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6. Pada sujud tilawah dan sujud syukur tidak disyaratkan berwudlu terlebih dahulu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Wallahu A’lam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Zuhair bin Syarif dalam Majalah SALAFY/Edisi XXIV/1418/AHKAM)  Sumber:http://salafy.or.id offline<a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/category/koreksi-shalat-kita/" target="_blank"> Penulis : Ust. Zuhair bin Syarif Sujud Syukur Dan Sujud Tilawah</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
0.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/bolehkah-menarik-seseorang-dari-shof-untuk-sholat-bersamanya/" target="_blank">Bolehkah Menarik Seseorang dari Shaff Untuk Sholat Bersamanya?</a><br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/11/janganlah-shaf-sholat-terputus-oleh-tiang-mesjid/" target="_blank">Janganlah Shaf Sholat Terputus Oleh Tiang Mesjid</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/10/wajibnya-meluruskan-shaf-dalam-shalat/" target="_blank">WAJIBNYA Meluruskan Shaf Dalam Shalat</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/24/jangan-engkau-shalat-kecuali-menghadap-sutrah-atau-pembatas/" target="_blank">Jangan Engkau Shalat Kecuali Menghadap Sutrah atau Pembatas</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/29/8-delapan-hal-wanita-sholat-berjam%e2%80%99ah-di-masjid/" target="_blank">8 (Delapan) Hal Wanita Sholat Berjam’ah di Masjid</a><br />
5.<a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/category/koreksi-shalat-kita/">KOREKSI SHOLAT-SHOLAT KITA</a><br />
6.<a title="Permanent link to Bacaan Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/bacaan-doa-sujud-tilawah-dan-sujud-sahwi/">BACAAN DOA SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SAHWI</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2615&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/sujud-syukur-dan-sujud-tilawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengatakan Allah Ada Dimana-mana</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/04/mengatakan-allah-ada-dimana-mana/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/04/mengatakan-allah-ada-dimana-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 12:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Bersenda Gurau Menyebut Nama Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Mengaku Mengetahui Perkara Ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[Mengatakan Allah Ada Dimana-mana]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Berkeyakinan Rasulullah dari Cahaya Nur]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Darwin Manusia itu Berasal dari Kera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2611</guid>
		<description><![CDATA[Mengatakan Allah Ada dimana-mana Penulis: Syaikh Ibnu Utsaimin Bagaimana pandangan hukum terhadap jawaban sebagian orang:”Allah berada dimana-mana,” bila ditanya :”Dimana Allah?” Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar? Jawab : Jawaban seperti ini sepenuhnya batil. Apabila seseorang ditanya :”Allah dimana?” hendaklah ia menjawab:”Di langit,” seperti dikemukakan oleh seorang (budak) perempuan yang ditanya oleh Nabi Shalallahu alaihi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2611&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/04/mengatakan-allah-ada-dimana-mana/" target="_blank"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mengatakan Allah Ada dimana-mana </span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penulis: Syaikh Ibnu Utsaimin</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bagaimana pandangan hukum terhadap jawaban sebagian orang:”Allah berada dimana-mana,” bila ditanya :”<em><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/04/mengatakan-allah-ada-dimana-mana/" target="_blank">Dimana Allah?</a>” Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab :<span id="more-2611"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawaban seperti ini sepenuhnya batil. Apabila seseorang ditanya :”<em>Allah dimana?” hendaklah ia menjawab:”Di langit,” seperti dikemukakan oleh seorang (budak) perempuan yang ditanya oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :”Dimana Allah?</em>”  jawabnya: ”Di langit.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata:” Allah itu ada,” maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan. <em><span style="text-decoration:underline;">Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada dimana-mana dengan pengertian dzat Allah ada dimana-mana adalah <strong>kafir</strong></span></em><strong> </strong>karena <em>ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama, bahwa dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah.Allah berada diatas segala mahluk. Dia berada diatas semua langit, bersemayam diatas Arsy</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(Dikutip dari terjemah Majmu’ Fatawaa wa Rasaail, juz 1 halaman 132-133)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Sumber: http://salafy.or.id Penulis: Syaikh Ibnu Utsaimin Judul: Mengatakan Allah Ada dimana-mana </span></a></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/08/hukum-orang-yang-menyakini-teori-darwin-manusia-itu-berasal-dari-kera/" target="_blank">Hukum Orang yang Menyakini Teori Darwin, Manusia itu Berasal dari Kera</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/02/hukum-orang-yang-mengaku-mengetahui-perkara-ghaib-slam/" target="_blank">Hukum Orang Yang Mengaku Mengetahui Perkara Ghaib</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/10/mendatangi-tukang-ramaldukun-dan-bertanya-kepadanya-tentang-sesuatu/" target="_blank">Mendatangi Tukang Ramal/Dukun dan Bertanya Kepadanya Tentang Sesuatu</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/22/bersenda-gurau-dengan-menyebut-nama-allah-alqur%e2%80%99an-atau-rasulullah/" target="_blank">Bersenda Gurau Dengan Menyebut Nama Allah, Alqur’an Atau Rasulullah</a><br />
5.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/13/hukum-orang-berkeyakinan-bahwa-rasulullah-dari-cahaya-nur/" target="_blank">Hukum Orang Berkeyakinan bahwa Rasulullah dari Cahaya(Nur)</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2611&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/04/mengatakan-allah-ada-dimana-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM MEMPELAJARI ILMU SIHIR DENGAN TUJUAN UNTUK MEMBENTENGI DIRI</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/04/hukum-mempelajari-ilmu-sihir-dengan-tujuan-untuk-membentengi-diri/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/04/hukum-mempelajari-ilmu-sihir-dengan-tujuan-untuk-membentengi-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 01:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid dan Kesyirikan]]></category>
		<category><![CDATA[cara belajar sihir]]></category>
		<category><![CDATA[cara membuat mantera sihir]]></category>
		<category><![CDATA[cara menangkal menanggulangi sihir]]></category>
		<category><![CDATA[cara mudah menyihir orang]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi ilmu hitam sihir santet gangguan jin]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[penangkal ilmu sihir]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sihir jin dan manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2607</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Mempelajari Ilmu Sihir Dengan Tujuan Untuk Membentengi Diri Kondisi suatu negeri yang berlatar belakang animisme dan dinamisme ternyata sangat berpengaruh bagi masyarakatnya. Sisa-sisa ajaran tersebut nampak berbekas walau pun sudah berlalu sekian lama dari masa. Terlebih lagi di saat ilmu Dien yang bertumpu pada tauhid dan menjauhi kesyirikan mulai langka di masyarakat. Akibatnya, syirik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2607&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hukum Mempelajari Ilmu Sihir Dengan Tujuan Untuk Membentengi Diri</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kondisi suatu negeri yang berlatar belakang animisme dan dinamisme ternyata sangat berpengaruh bagi masyarakatnya. Sisa-sisa ajaran tersebut nampak berbekas walau pun sudah berlalu sekian lama dari masa. Terlebih lagi di saat ilmu Dien yang bertumpu pada tauhid dan menjauhi kesyirikan mulai langka di masyarakat. Akibatnya, syirik dikira tauhid dan tauhid dikira syirik, sunnah dikira bid’ah, dan bid’ah dikira sunnah, kebenaran dikira kebatilan, dan kebatilan dikira kebenaran.<span id="more-2607"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di antara warisan animisme dan dinamisme yang masih bercokol di tengah-tengah masyarakat adalah sihir. Bahkan semakin parah di saat kalangan yang beridentitas ”<em>Santri”</em> bahkan “<em>Kyai</em>” ada yang menekuni dan mengajarkannya dengan dihiasi wirid-wirid tertentu, seraya berkata: “<em>Ini ilmu putih bukan ilmu hitam”.</em> Padahal hakekatnya sama-sama hitamnya dan sama-sama sihirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Akibatnya orang-orang awam pun terpengaruh. Ada yang mempelajarinya dalam rangka membentengi diri (pagar diri) atau untuk memukul lawannya dengan sihir tersebut, ada pula yang berobat dari sakitnya (disihir) dengan mendatangi para tukang sihir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikianlah di antara sketsa kehidupan masyarakat kita. Namun di lain pihak ada orang-orang yang tidak percaya dengan adanya sihir, bahkan menyatakan bahwa sihir itu tidak ada hakekatnya, sebagai reaksi balik terhadap pihak yang pertama tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh karena itu dalam edisi kali ini, kami angkat topik seputar sihir, sebagai tambahan ilmu untuk masyarakat, sekaligus sebagai bimbingan agar terhindar dari bahaya sihir, kekufuran, dan kesyirikan, menuju tauhid dan jalan kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Pengertian Sihir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sihir secara lughowi (bahasa) adalah ungkapan tentang suatu perkara yang disebabkan oleh sesuatu yang samar dan lembut. Sedangkan menurut istilah syariat terbagi menjadi dua makna :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Yaitu buhul-buhul dan mantera-mantera, maksudnya adalah bacaan-bacaan dan mantera-mantera yang dijadikan perantara oleh tukang sihir untuk minta bantuan pada syaithon dalam rangka memberi kemudharatan kepada orang yang disihir. Akan tetapi Allah ? telah berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَ مَا هُمْ بِضَارِّيْنَ به من أَحَدٍ إَلاَّ بِإِذْنِ اللهِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Dan mereka itu (ahli sihir) tidak akan mampu memberikan mudharat dengan sihirnya kepada siapa pun, kecuali dengan idzin Allah</em>”. (QS. Al Baqarah :162)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> yaitu berupa obat-obatan atau jamu-jamuan yang berpengaruh terhadap orang yang disihir, baik secara fisik, mental, kemauan dan kecondongannya. Sehingga engkau dapati orang yang disihir tersebut berpaling dan berubah (dari kebiasaanya). (Al Qoulul Mufid karya Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin juz 1, hal. 489)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Hukum Sihir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sihir dalam bentuk apapun, diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan keharaman ini terbagi menjadi dua macam :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Sihir yang termasuk perbuatan syirik, jika menggunakan perantara para syaithon (jin-jin kafir), dimana para tukang sihir tersebut beribadah dan mendekatkan diri kepada para syaithon (jin-jin kafir) supaya bisa menguasai orang yang akan disihir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Sihir yang termasuk perbuatan permusuhan dan kefasikan, jika tukang sihir hanya sebatas menggunakan perantara obat-obatan (jejamuan) dan sejenisnya</em>. (Al Qoulul Mufid juz 1, hal. 489)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kafirkah Tukang Sihir ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Para Ulama berbeda pendapat tentang tukang sihir. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa tukang sihir itu kafir, dan di antara yang berpendapat demikian adalah Al Imam Malik, Al Imam Abu Hanifah dan Al Imam Ahmad bin Hanbal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Al Imam Ahmad rahimahullah kepada para muridnya: <em>“…..kecuali sihirnya dengan obat-obatan, asap dupa dan menyiram sesuatu yang bisa memberikan mudharat, maka tidaklah kafir.</em> (Fathul Majid hal. 336)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin berkata: “…<em>akan tetapi dengan pembagian yang telah kami sebutkan tentang hukum permasalahan ini menjadi jelaslah barangsiapa yang sihirnya dengan perantara syaithon (jin-jin kafir-red) maka dia telah kafir. Karena kebanyakannya tidak mungkin terjadi kecuali dengan adanya unsur kesyirikan (penyembahan terhadap syaithon tersebut -red). Hal ini didasarkan pada firman Allah ? :</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَ اتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِيْنُ على مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَ مَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَ لَكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَرُوا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَ مَا أُنْزِلَ على الْمَلَكَيْنِ بِبَابِيْلَ هرُوْتَ وَ مرُوْتَ, وَ مَا يُعَلِّمَانِ من أَحَدٍ حَتَّى يَقُوْلآ إَنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh para syaithon pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), hanya para syaithon itulah yang kafir (karena mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak akan mengajarkan sesuatu kepada siapa pun, sebelum keduanya mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah engkau kafir”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (QS. Al Baqarah :102)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sedangkan tukang sihir yang menggunakan obat-obatan (jamu-jamuan/ramu-ramuan) dan sejenisnya maka dia tidak kafir, akan tetapi dia telah berbuat dosa yang sangat besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apakah Sihir Ada Hakekatnya ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ya! Sihir ada hakekatnya dan terjadi dengan sebenarnya, akan tetapi segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan idzin Allah ? dan ini merupakan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang didasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Abu Muhammad Al Maqdisi di dalam Al Kaafi setelah menyebutkan ayat : </span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَ من شَرِّ النَّفَاثَاتِ فى الْعُقَدِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>…dan dari kejelekan hembusan-hembusan para tukang sihir pada buhul-buhul”.</em> (QS. Al Falaq : 4)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Kalau sihir tidak ada hakekatnya niscaya Allah tidak akan memerintahkan agar memohon perlindungan kepada-Nya dari bahaya sihir”.</em> (Fathul Majid hal. 335)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian pula Rasulullah ? sendiri pernah disihir oleh seorang Yahudi yang bernama Labid bin Al A’shom. Sebagaimana hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhori rahimahullah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَنَّ النَّبِيَّ ? سُحِرَ حَتَّى لَيُخَيَّلَ إلَيْهِ أنَّهُ يَفْعَلُ الشَيْءَ وَ مَا يَفْعَلُهُ وَ أنَّهُ قَالَ لَهَا ذَاتَ يَوْمٍ : أَتَاني مَلَكَانِ وجَلَسَ أَحَدُهما عِنْدَ رَأْسِي وَ الأخَرُ عِنَدَ رِجْلي, فَقَالَ : ما وَجَعُ الرَّجُلِ ؟ قَالَ : مَطْبُوْبٌ وَ مَنْ طَبَِّهُ ؟ قَالَ : لَبِيْد بن الأَعْصَم …</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Sesungguhnya Nabi ? disihir sehingga dikhayalkan padanya bahwa beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Dan beliau ? pada suatu hari berkata kepada Aisyah : “Telah datang padaku dua malaikat, salah satunya duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya di dekat kakiku. Salah satu malaikat tersebut berkata kepada yang lainnya: “Apa penyakit laki-laki ini (Rasulullah)?. Yang satunya menjawab terkena sihir”. “Siapa yang menyihirnya ?”. Satunya menjawab “Labid bin Al A’shom …” </em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Ibnul Qoyyim : “<em>Dan telah mengingkari hal ini (disihirnya Rasulullah ? -red) sekelompok manusia. Mereka mengatakan: “Tidak boleh ini menimpa diri Rasul, bahkan mereka menganggap ini sebagai suatu kekurangan dan aib “. Dan perkaranya tidak seperti yang mereka duga, akan tetapi sihir tersebut adalah dari jenis perkara (penyakit) yang berpengaruh terhadap diri Rasulullah ?, hal ini termasuk dari jenis-jenis penyakit yang menimpanya sebagaimana beliau ? juga tertimpa racun, dimana tidak ada perbedaan antara pengaruh sihir dengan racun</em>”. (Zaadul Ma’ad juz 4, hal. 124)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al Imam Ibnul Qoyyim Juga menyebutkan dari Al Qodhi ‘Iyadh, bahwasanya beliau berkata: “<em>Kejadian disihirnya Rasulullah ? tidak menodai kenabian beliau. Adapun keberadaan atau kejadian beliau ? dikhayalkan melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya, hal ini tidaklah mengurangi sifat shiddiq yang ada pada diri beliau ? . dikarenakan adanya dalil bahkan ijma’ atas kemaksuman beliau ? dari hal tersebut, akan tetapi hal ini suatu perkara duniawi yang mungkin bisa menimpanya. Yang beliau ? tidak diutus karena sebab tersebut dan tidak diberi keutamaan, karenanya pula beliau dalam hal ini seperti manusia yang lainya, maka tidak mustahil untuk dikhayalkan kepada beliau ? dari perkara-perkara yang tidak ada hakekatnya baginya, kemudian hilang dari beliau dan kembali seperti keadaan semula</em>. (Zaadul Ma’ad juz 4, hal. 124)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ancaman Allah Dan Rosul-Nya Terhadap Tukang Sihir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di antara ancaman-ancaman Allah ? di dalam Al Qur’an adalah firman-Nya: </span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَ لَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَالَهُ فى الأخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“…dan sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tidaklah ada keuntungan baginya di akhirat</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">”. (QS. Al Baqarah : 102)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat tersebut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">( من خَلاَقٍ yaitu مِنْ نَصِيْبٍ ) “<em>Tidak ada baginya bagian di akhirat</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Al Hasan : ( فَلَيْسَ له دِيْنٌ ) : “ <em>Tidak ada agama baginya</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun ancaman dari Allah ? adalah sebagaimana di dalam riwayat Al Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Hurairoh, beliau ? bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المَُوْبِقَاتِ ؟ قَالُوا يَارَسُوْلَ اللهِ وَ مَا هُنَّ ؟ قَالَ الشِرْكُ بِاللهِ وَ السِّحْرُ وَ قَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَ أَكْلُ الرِّبَا وَ أَكْلُ ماَلِ الْيَتِيْمِ وَ التَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَ قَذْفُ الْمحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan, para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa tujuh perkara tersebut?. Beliau ? menjawab: “Berbuat syirik kepada Allah ?, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh kecuali dengan haq (benar), makan riba, makan harta anak yatim, lari dari pertempuran dan menuduh zina wanita mukminah yang terhormat serta menjaga kehormatan”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apa Hukum Mempelajari Ilmu Sihir Dengan Tujuan Untuk Membentengi Diri ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mempelajari ilmu sihir hukumnya haram,</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> baik untuk diamalkan maupun sekedar untuk membentengi diri dari sihir. Karena Allah ? telah menyebutkan di dalam Al Qur’an bahwa belajar ilmu sihir merupakan salah satu bentuk kekufuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَ لَكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَرُوا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَ مَا أُنْزِلَ على الْمَلَكَيْنِ بِبَابِيْلَ هرُوْتَ وَ مرُوْتَ, وَ مَا يُعَلِّمَانِ من أَحَدٍ حَتَّى يَقُوْلآ إَنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Mereka (syaithon-syaithon) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu) oleh sebab itu janganlah kamu kafir”.</em> (QS. Al Baqarah : 102)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan juga sebagaimana disebutkan pada hadits yang sebelumnya bahwa sihir merupakan bagian dari tujuh perkara yang membinaskan (المُوْبِقَات).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bagi yang membolehkan belajar ilmu sihir hanya sekedar untuk memenbentengi diri, mereka berdalil dengan hadits : </span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">تَعَلَّمُوا السِّحْرَ وَلاَ تَعْمَلُوا بِهِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Belajarlah kalian ilmu sihir dan jangan mengamalkannya”. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Perlu diketahui bahwa hadits tersebut adalah <strong>hadits palsu.</strong> (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah jilid 1, hal. 38)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bagaimana Pergi Ke Tukang Sihir Untuk Mengobati Atau Menghilangkan Sihir ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tidak boleh bagi orang yang terkena sihir pergi ke tukang sihir untuk menghilangkan sihir yang menimpa dirinya, berdasarkan pada keumuman sabda Rasulullah ? </span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">: لَيْسَ مِنَّا من تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ له أو تَكَهَّنَ أو تُكُهِّن له أو سَحَرَ أو سُحِرَ له</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Bukan dari golonganku (Rasulullah) orang yang mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya atau minta diundikan untuknya, meramal sesuatu yang ghaib (dukun) atau minta diramalkan untuknya atau melakukan sihir atau minta disihirkan untuknya</em>”. (HR. At Thabrani)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan didasarkan pula pada sabda Rasulullah ? tatkala ditanya tentang An Nusyroh (menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir dengan sihir yang sama). Rasulullah ? menjawab:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">هَي من عَمَلِ الشَّيْطَانِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">”<em>Itu adalah perbuatan syaithon”.</em> (HR. Ahmad, Abu Daud dan Al Baihaqi) serta sabda Rasulullah ? :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> “<em>Berobatlah kalian dan jangan kalian berobat dengan sesuatu yang haram, karena sesungguhnya tidaklah Allah ? menurunkan suatu penyakit kecuali Allah ? telah menurunkan obatnya pula”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Cara Yang Syar’i Dalam Mengobati Sihir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">1. Mengeluarkan sihir tersebut dan membatalkannya, sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang shohih dari Nabi ? bahwasanya beliau ? berdo’a kepada Allah ? dalam perkara sihir tersebut. Maka Allah tunjukkan kepada beliau ? (tempat buhul-buhul tersebut), kemudian beliau mengeluarkannya (mengambil buhul-buhul tersebut) dari suatu sumur. Maka hilanglah apa yang ada pada beliau, seakan-seakan beliau lepas dari ikatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">2. Dengan dirukyah, yaitu dengan dibacakan Al Qur’an dan do’a-do’a (yang bersumber dari Rasulullah ?) kepada yang terkena sihir. Misalnya dengan dibacakan surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, dan yang lainnya dari ayat-ayat Al Qur’an kemudian ditiupkan kepada yang sakit, maka insya Allah akan sembuh. (Zaadul Ma’ad juz 4, hal. 124-127)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">Wallahu A’lam bish Showab</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/semua-artikel-islam/" target="_blank"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=13 Judul: Mewaspadai Bahaya Sihir</span></a></p>
<p>Baca Risalah terkait :<br />
1.<a title="Taut Tetap ke Tata Cara Menangkal dan Menanggulangi Sihir" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/20/tata-cara-menangkal-dan-menanggulangi-sihir/">TATA CARA MENANGKAL DAN MENANGGULANGI SIHIR</a><br />
2.<a title="Taut Tetap ke Tata Cara Pengobatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/12/tata-cara-pengobatan-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wassalam/">Tata Cara Pengobatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam</a><br />
3. <a title="Taut Tetap ke Mengetahui Perbedaan Antara JIN, SETAN dan IBLIS" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/09/mengetahui-perbedaan-antara-jin-setan-dan-iblis/">Mengetahui Perbedaan Antara JIN, SETAN dan IBLIS</a><br />
4.<a title="Taut Tetap ke Tahukah Anda bahwa Malaikat, Manusia dan Jin Tidak Dapat Mengetahui yang Ghaib" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/01/tahukah-anda-bahwa-malaikat-manusia-dan-jin-tidak-dapat-mengetahui-yang-ghaib/">Tahukah Anda bahwa Malaikat, Manusia dan Jin Tidak Dapat Mengetahui yang Ghaib</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qurandansunnah.wordpress.com/2607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qurandansunnah.wordpress.com/2607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qurandansunnah.wordpress.com/2607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qurandansunnah.wordpress.com/2607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2607/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&amp;blog=7391573&amp;post=2607&amp;subd=qurandansunnah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/04/hukum-mempelajari-ilmu-sihir-dengan-tujuan-untuk-membentengi-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
