<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Qur&#039;an dan Sunnah</title>
	<atom:link href="http://qurandansunnah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qurandansunnah.wordpress.com</link>
	<description>Agama itu Nasehat</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Nov 2009 04:11:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='qurandansunnah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/75865d3bd544ff2a7a407d8557ab7f9f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Qur&#039;an dan Sunnah</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan &#8216;Iedul Adha</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 03:44:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[seksologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2006</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas adab-adab dan hukum-hukum tentang hari raya :
1. Mandi dan mengenakan wewangian
Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan,

Hukum-hukum dalam merayakan Iedhul Adha
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah mempertemukan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=2006&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas adab-adab dan hukum-hukum tentang hari raya :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Mandi dan mengenakan wewangian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan,</span></p>
<p><span id="more-2006"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Hukum-hukum dalam merayakan Iedhul Adha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah mempertemukan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan hari dan bulan berlalu dan mempersembahkan kepada kita perbuatan dan ucapan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.  Hari Raya qurban, termasuk kekhususan umat ini dan termasuk tanda-tanda agama yang tampak, juga termasuk syi’ar-syi’ar Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (Al Hajj 32).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas adab-adab dan hukum-hukum tentang hari raya :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Mandi dan mengenakan wewangian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan, tanpa isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki), tidak mencukur janggut karena hal tersebut haram hukumnya. Sedang-kan wanita disyari’atkan baginya keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan hendak-lah seorang muslimah berhati-hati berang-kat dalam rangka ta’at kepada Allah dan shalat sedang dia melakukan maksiat kepada-Nya dengan tabarruj, membuka aurat dan memakai wewangian di hadapan orang laki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Pergi ke tempat shalat Id </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berjalan kaki jika memungkin-kan dan disunnahkan shalat Id di lapangan terbuka, kecuali jika terdapat uzur seperti hujan misalnya, maka pada saat itu sebaiknya shalat di masjid berdasarkan perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3. Takbir (an)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disyari’atkan bertakbir sejak terbit fajar pada hari Arafah hingga waktu Ashar hari tasyrik terakhir, yaitu pada tanggal tinggal belas Dzul Hijjah . Allah ta’ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan berzikirlah (dengan menyebut) dalam beberapa hari yang terbilang</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (Al Baqarah 203)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Caranya dengan membaca:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“ <em>Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian</em> “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disunnahkan mengeraskan suaranya bagi orang laki di masjid-masjid, pasar-pasar dan rumah-rumah setelah melaksanakan shalat, sebagai pernyataan atas pengagungan kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan mensyukuri-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4. Shalat bersama kaum muslimin dan mendengarkan khutbah. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun yang dikuatkan oleh para ulama seperti Syekh Islam Ibnu Taimiyah bahwa shalat Id hukumnya wajib berdasarkan firman Allah ta’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">perbuatan tersebut tidak gugur kecuali dengan uzur syar’i. Adapun wanita tetap diperintahkan menghadiri shalat Id bersama kaum muslimin, bahkan sekalipun yang haid dan para budak dan bagi mereka yang haidh di jauhkan dari tempat shalat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5. Menyembelih binatang korban. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal tersebut dilakukan setelah selesai shalat Id, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ [رواه البخاري ومسلم] </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan hewan kurban yang lain, dan siapa yang belum menyembelih, maka hendaklah dia menyembelih</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (Riwayat Bukhori dan Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Waktu menyembelih kurban adalah empat hari, hari raya dan tiga hari tasyrik, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Semua hari tasyrik adalah (wak-tu) menyembelih (Lihat Silsilah Shahihah no. 2476)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6. Menempuh jalan yang berbeda. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disunnahkan untuk berangkat ke tempat shalat Id lewat satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain berdasarkan perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">7. Makan daging korban.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">RasulullahShalallahu ‘alaihi wassalam tidak makan daging korban sebelum pulang dari shalat Id, setelah itu baru dia memakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">8. Ucapan selamat </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tidak mengapa saling mengucapkan selamat seperti : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Semoga Allah menerima (amal) kita dan anda sekalian</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Akhi muslim…..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Ada</span></em><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;"> beberapa hal yang patut kita hindari saat hari raya :</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">1. Takbir secara berbarengan : Dengan satu suara atau mengikuti bersama-sama dibelakang seseorang yang bertakbir. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">2. Lalai pada hari Id. Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan seperti mendengarkan lagu-lagu, menonton film, ikhtilath antar laki dan wanita yang bukan muhrim dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">3. Mencabut rambut atau memotong kuku sebelum melaksanakan penyembelihan korban, karena ada larangan Nabi dalam masalah ini. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">4. Berlebih-lebihan atas sesuatu yang tidak perlu dan berfaedah berdasar-kan firman Allah ta’ala:</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;"> “ (Al A’raf 31)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Akhirulkalam …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Janganlah anda lupa wahai akhi muslim untuk selalu berupaya men-dapatkan kebaikan seperti bersilatur-rahim, berkunjung kepada sanak saudara, meninggalkan permusuhan, kedengkian serta mensucikan hati dan penuh kasih kepada fakir miskin serta anak yatim serta membantu mereka dan mendatangkan kegembiraan kepada mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kita mohon kepada Allah agar memberi kita taufiq-Nya atas apa yang Dia cintai dan ridhoi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">(Dinukil dari فضل عشر ذي الحجة أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك , Edisi Indonesia &#8220;Keutamaan sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah &amp; Hukum berkurban dan ‘Iedhul Adha yang berbarakah&#8221;. Seksi Terjemah Kantor Sosial, Dakwah &amp; Penyuluhan Bagi Pendatang, Pemerintah Saudi Arabia)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Dikutip dari darussalaf.or.id offline Penulis: Depag Saudi Arabia Judul: Hukum-hukum dalam merayakan Iedhul Adha (disesuaikan urutkan nomor)</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini :<br />
0. <a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/09/14/7-tujuh-hal-yang-dikerjakan-di-hari-raya-iedul-fitri/" target="_blank">7 (Tujuh) HAL YANG DIKERJAKAN DI HARI RAYA &#8216;IEDUL FITRI</a><br />
1. <a title="Taut Tetap ke 28 (Duapuluh Delapan) Tuntunan Dalam Manasik Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/">28 (Duapuluh Delapan) TUNTUNAN MANASIK HAJI</a><br />
2. <a title="Taut Tetap ke Mengenal 3 (Tiga)Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/">Mengenal 3 Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji</a><br />
3. <a title="Taut Tetap ke 15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/">15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban</a><br />
4.<a title="Taut Tetap ke Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/">TATA CARA MENYEMBELIH HEWAN KURBAN</a><br />
5. <a title="Taut Tetap ke 10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/">10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha</a><br />
6.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/beberapa-kesalahan-yang-sering-terjadi-di-musim-haji/" target="_blank">Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji</a><br />
7.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/hadits-hadits-dha%E2%80%99if-seputar-ibadah-haji/" target="_blank">Hadits-hadits Dha’if Seputar Ibadah Haji</a><br />
8.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/08/haji-ke-baitullah-bukan-untuk-mencari-gelar-atau-menaikkan-status-sosial/" target="_blank">Haji ke Baitullah Bukan Untuk Mencari Gelar atau Menaikkan Status Sosial</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2006/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=2006&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tata Cara MENYEMBELIH HEWAN KURBAN</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 03:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[seksologi]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=2004</guid>
		<description><![CDATA[-Menajamkan Pisau Dan Memperlakukan Binatang Kurban Dengan Baik 
-Menjauhkan Pisaunya Dari Pandangan Binatang Kurban 
-Menghadapkan Binatang Kurban Kearah Kiblat &#8230;.
Berqurban Menurut Sunnah Nabi
Beberapa ulama menyatakan bahwa berkurban itu lebih utama daripada sedekah yang nilainya sepadan. Bahkan lebih utama daripada membeli daging yang seharga atau bahkan yang lebih mahal dari harga binatang kurban tersebut kemudian daging [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=2004&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Menajamkan Pisau Dan Memperlakukan Binatang Kurban Dengan Baik </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Menjauhkan Pisaunya Dari Pandangan Binatang Kurban </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Menghadapkan Binatang Kurban Kearah Kiblat &#8230;.<span id="more-2004"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Berqurban Menurut Sunnah Nabi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beberapa ulama menyatakan bahwa berkurban itu lebih utama daripada sedekah yang nilainya sepadan. Bahkan lebih utama daripada membeli daging yang seharga atau bahkan yang lebih mahal dari harga binatang kurban tersebut kemudian daging tersebut disedekahkan. Sebab, tujuan yang terpenting dari berkurban itu adalah taqarrub kepada Allah melalui penyembelihan. (Asy Syarhul Mumti&#8217; 7/521 dan Tuhfatul Maulud hal. 65) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hukum Berkurban </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban, ada yang berpendapat wajib dan ada pula yang berpendapat sunnah mu&#8217;akkadah. Namun mereka sepakat bahwa amalan mulia ini memang disyariatkan. (Hasyiyah Asy Syarhul Mumti&#8217; 7/519). Sehingga tak sepantasnya bagi seorang muslim yang mampu untuk meninggalkannya, karena amalan ini banyak mengandung unsur penghambaan diri kepada Allah, taqarrub, syiar kemuliaan Islam dan manfaat besar lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkurban Lebih Utama Daripada Sedekah </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beberapa ulama menyatakan bahwa berkurban itu lebih utama daripada sedekah yang nilainya sepadan. Bahkan lebih utama daripada membeli daging yang seharga atau bahkan yang lebih mahal dari harga binatang kurban tersebut kemudian daging tersebut disedekahkan. Sebab, tujuan yang terpenting dari berkurban itu adalah taqarrub kepada Allah melalui penyembelihan. (Asy Syarhul Mumti&#8217; 7/521 dan Tuhfatul Maulud hal. 65) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Perihal Binatang Kurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">a. Harus Dari Binatang Ternak </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Binatang ternak tersebut berupa unta, sapi, kambing ataupun domba. Hal ini sebagaimana firman Allah (artinya): </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka</em>.&#8221; (Al Hajj: 34) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jika seseorang menyembelih binatang selain itu -walaupun harganya lebih mahal- maka tidak diperbolehkan. (Asy Syarhul Mumti&#8217; 7/ 477 dan Al Majmu&#8217; 8/222) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">b. Harus Mencapai Usia Musinnah dan Jadza&#8217;ah </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini didasarkan sabda Nabi : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">لاَ تَذْبَحُوْا إِلاَّ مُسِنَّةً إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوْا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Janganlah kalian menyembelih kecuali setelah mencapai usia musinnah (usia yang cukup bagi unta, sapi dan kambing untuk disembelih, pen). Namun apabila kalian mengalami kesulitan, maka sembelihlah binatang yang telah mencapai usia jadza&#8217;ah (usia yang cukup, pen) dari domba</em>.&#8221; (H.R. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh karena tidak ada ketentuan syar&#8217;i tentang batasan usia tersebut maka terjadilah perselisihan di kalangan para ulama. Akan tetapi pendapat yang paling banyak dipilih dan dikenal di kalangan mereka adalah: unta berusia 5 tahun, sapi berusia 2 tahun, kambing berusia 1 tahun dan domba berusia 6 bulan. Pendapat ini dipilih oleh Asy Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin rahimahullah di dalam Asy Syarhul Mumti&#8217; 7/ 460. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">c. Tidak Cacat </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Klasifikasi cacat sebagaimana disebutkan Nabi dalam sabdanya: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">أَرْبَعٌ لاَتَجُوْزُ فِيْ اْلأَضَاحِي: اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوْرُهاَ وَاْلمَرِيْضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَاْلعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ضِلْعُهَا وَاْلكَسِيْرُ -وَفِي لَفْظٍ- اَلْعَجْفَاءُ اَلَّتِي لاَ تُنْقِيْ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Empat bentuk cacat yang tidak boleh ada pada binatang kurban: buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya dan kurus yang tidak bersumsum</em>.&#8221; (H.R. Abu Dawud dan selainnya dengan sanad shahih) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lantas, diantara para ulama memberikan kesimpulan sebagai berikut: </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">o Kategori cacat (didalam As Sunnah) yang tidak boleh ada pada binatang kurban adalah empat bentuk tadi. Kemudian dikiaskan kepadanya, cacat yang semisal atau yang lebih parah dari empat bentuk tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">o Kategori cacat yang hukumnya makruh seperti terbakar atau robek telinga dan patah tanduk yang lebih dari setengah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">o Adapun cacat yang tidak teriwayatkan tentang larangannya -walaupun mengurangi kesempurnaan- maka ini masih diperbolehkan. (Asy Syarhul Mumti&#8217; 7/476-477 dan selainnya) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Walaupun kategori yang ketiga ini diperbolehkan, namun sepantasnya bagi seorang muslim memperhatikan firman Allah (artinya): </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;Kalian tidak akan meraih kebaikan sampai kalian menginfakkan apa-apa yang kalian cintai</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.&#8221; (Ali Imran : 92) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">d. Jenis Binatang Apa Yang Paling Utama? </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> ulama berbeda pendapat tentang jenis binatang yang paling utama untuk dijadikan kurban. Hal ini disebabkan tidak adanya dalil yang shahih dan jelas yang menentukan jenis binatang yang paling utama, wallahu a&#8217;lam. Asy Syaikh Muhammad Amin Asy Syanqithi rahimahullah tidak menguatkan salah satu pendapat para ulama yang beliau sebutkan dalam kitab Adwa&#8217;ul Bayan 5/435, karena nampaknya masing-masing mereka memiliki alasan yang cukup kuat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hanya saja seseorang yang mau berkurban hendaknya memberikan yang terbaik dari apa yang dia mampu dan tidak meremehkan perkara ini. Allah mengingatkan (artinya): </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Wahai orang-orang yang beriman, berinfaklah dengan sebagian yang baik dari usaha kalian dan sebagian yang Kami tumbuhkan di bumi ini untuk kalian. Janganlah kalian memilih yang buruk lalu kalian infakkan padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata. Ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji</em>.&#8221; (Al Baqarah: 267) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jumlah Binatang Kurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">a. Satu Kambing Mewakili Kurban Sekeluarga </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu&#8217;anhu menuturkan: &#8220;Dahulu ada seseorang dimasa Rasulullah menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya.&#8221; (H.R. At Tirmidzi dan selainnya dengan sanad shahih) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">b. Satu Unta Atau Sapi Mewakili Kurban Tujuh Orang Dan Keluarganya </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini dikemukakan Jabir bin Abdillah: &#8220;<em>Kami dulu bersama Rasulullah pernah menyembelih seekor unta gemuk untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang pula pada tahun Al Hudaibiyyah.&#8221; </em>(H.R. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Waktu Penyembelihan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">a. Awal Waktu </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yaitu setelah penyembelihan kurban yang dilakukan oleh imam (penguasa) kaum muslimin ditanah lapang</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. (H.R. Muslim). <em>Apabila imam tidak melaksanakannya maka setelah ditunaikannya shalat ied</em>. (Muttafaqun &#8216;alaihi) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">b. Akhir waktu </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> ulama berbeda pendapat tentang akhir penyembelihan kurban. Ada yang berpendapat dua hari setelah ied, tiga hari setelah ied tersebut, hari ied itu sendiri (tentunya setelah tengelamnya matahari) dan hari akhir bulan Dzulhijjah. Perbedaan pendapat ini berlangsung seiring tidak adanya keterangan shahih dan jelas dari Nabi tentang batas akhir penyembelihan. Namun tampaknya dua pendapat pertama tadi cukuplah kuat. Wallahu a&#8217;lam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sunnah Yang Dilupakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">o Bagi orang yang hendak berkurban, tidak diperkenankan baginya untuk mengambil (mencukur) segala rambut/bulu, kuku dan kulit yang terdapat pada tubuhnya (orang yang berkurban tersebut, pen) setelah memasuki tanggal 1 Dzulhijjah sampai disembelih binatang kurbannya, sebagaimana hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh Muslim. Namun bila sebagian rambut/bulu, kulit dan kuku cukup mengganggu, maka boleh untuk mengambilnya sebagaimana keterangan Asy Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin dalam Asy Syarhul Mumti&#8217; 7/ 532. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">o Diantara sunnah yang dilupakan bahkan diasingkan mayoritas kaum muslimin adalah pelaksanaan kurban di tanah lapang setelah shalat ied oleh imam (penguasa) kaum muslimin. Wallahul musta&#8217;an. Padahal Rasulullah menunaikan amalan agung ini. Abdullah bin Umar Radhiallahu&#8217;anhu berkata: &#8220;Dahulu Rasulullah menyembelih binatang kurban di Mushalla (tanah lapang untuk shalat ied, pen).&#8221; (H.R. Bukhari). Dan tidaklah Rasulullah melakukan sesuatu kecuali pasti mengandung manfaat yang besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tata Cara Penyembelihan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">a. Menajamkan Pisau Dan Memperlakukan Binatang Kurban Dengan Baik </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rasulullah bersabda (artinya): &#8220;Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik terhadap segala sesuatu. Apabila kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik pula. Hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan (tidak menyiksa) sesembelihannya.&#8221; (H.R. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">b. Menjauhkan Pisaunya Dari Pandangan Binatang Kurban </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Cara ini seperti yang diceritakan Ibnu Abbas Radhiallahu&#8217;anhu bahwa Rasulullah pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya didekat leher seekor kambing, sedangkan dia menajamkan pisaunya. Binatang itu pun melirik kepadanya. Lalu beliau bersabda (artinya): &#8220;Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini (sebelum dibaringkan, pen)?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.&#8221; (H.R. Ath Thabrani dengan sanad shahih) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">c. Menghadapkan Binatang Kurban Kearah Kiblat</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebagaimana hal ini pernah dilakukan Ibnu Umar Radhiallahu&#8217;anhu dengan sanad yang shahih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">d. Tata Cara Menyembelih Unta, Sapi, Kambing Atau Domba </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apabila sesembelihannya berupa unta, maka hendaknya kaki kiri depannya diikat sehingga dia berdiri dengan tiga kaki. Namun bila tidak mampu maka boleh dibaringkan dan diikat. Setelah itu antara pangkal leher dengan dada ditusuk dengan tombak, pisau, pedang atau apa saja yang dapat mengalirkan darahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sedangkan bila sesembelihannya berupa sapi, kambing atau domba maka dibaringkan pada sisi kirinya, kemudian penyembelih meletakkan kakinya pada bagian kanan leher binatang tersebut. Seiring dengan itu dia memegang kepalanya dan membiarkan keempat kakinya bergerak lalu menyembelihnya pada bagian atas dari leher. (Asy Syarhul Mumti&#8217; 7/478-480 dengan beberapa tambahan) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">e. Berdoa Sebelum Menyembelih </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lafadz doa tersebut adalah: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">- بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar</em>.&#8221; (H.R. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">- بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar, Ya Allah ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu.</em>&#8221; (H.R. Abu Dawud dengan sanad shahih) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tidak Memberi Upah Sedikitpun Kepada Penyembelih Dari Binatang Sembelihannya </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Larangan ini dipaparkan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu&#8217;anhu: &#8220;Aku pernah diperintah Rasulullah untuk mengurus kurban-kurban beliau dan membagikan apa yang kurban itu pakai (pelana dan sejenisnya pen) serta kulitnya. Dan aku juga diperintah untuk tidak memberi sesuatu apapun dari kurban tersebut (sebagai upah) kepada penyembelihnya. Kemudian beliau mengatakan: &#8220;Kami yang akan memberinya dari apa yang ada pada kami.&#8221; (Mutafaqun &#8216;alaihi) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Boleh Memanfaatkan Sesuatu Dari Binatang Kurban </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Diperbolehkan untuk memanfaatkan sesuatu dari binatang tersebut seperti kulit untuk sepatu, tas, tanduk untuk perhiasan dan lain sebagainya. Hal ini didasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiallahu&#8217;anhu tadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tidak Boleh Menjual Sesuatupun Dari Binatang Kurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Larangan ini berlaku untuk seorang yang berkurban, dikarenakan menjual sesuatu dari kurban tersebut keadaannya seperti mengambil kembali sesuatu yang telah disedekahkan, yang memang dilarang Rasulullah . Beliau bersabda (artinya): </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Permisalan seseorang yang mengambil kembali sedekahnya seperti anjing yang muntah kemudian menjilatinya lalu menelannya</em>.&#8221; (H.R. Muslim dan Al Bukhari dengan lafadz yang hampir sama) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Disyariatkan Pemilik Kurban Memakan Daging Kurbannya </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Diantara dalil yang mendasari perbuatan ini secara mutlak (tanpa ada batasan waktu) adalah firman Allah (yang artinya): </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Maka makanlah daging-daging binatang tersebut dan berilah makan kepada orang fakir</em>.&#8221; (Al Hajj : 28) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian juga sabda Nabi (yang artinya): </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Makanlah kalian, berilah makan (baik sebagai sedekah kepada fakir atau hadiah kepada orang kaya) dan simpanlah (untuk kalian sendiri).</em>&#8221; (H.R. Bukhari) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun ketentuan jumlah yang dimakan, diinfaqkan maupun yang disimpan maka tidak ada dalil yang sah tentang hal itu. Wallahu a&#8217;lam. Hanya saja, alangkah mulianya apa yang pernah dikerjakan Rasulullah ketika beliau hanya mengambil sebagian saja dari kurban sebanyak 100 unta. (H.R. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mutiara Hadits Shahih </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hadits Abu Qatadah Al Anshari : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ اْلمَاضِيَةَ وَاْلبَاقِيَةَ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">Bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang puasa Arafah (9 Dzulhijjah). Maka beliau menjawab: &#8220;Menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang</span></em>.&#8221; (H.R. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Dikutip dari http://assalafy.org/al-ilmu.php?tahun3=34 Penulis: Buletin A-Ilmu Jember Judul: Berqurban Menurut Sunnah Nabi</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini :<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/beberapa-kesalahan-yang-sering-terjadi-di-musim-haji/" target="_blank">Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/hadits-hadits-dha%E2%80%99if-seputar-ibadah-haji/" target="_blank">Hadits-hadits Dha’if Seputar Ibadah Haji</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/08/haji-ke-baitullah-bukan-untuk-mencari-gelar-atau-menaikkan-status-sosial/" target="_blank">Haji ke Baitullah Bukan Untuk Mencari Gelar atau Menaikkan Status Sosial</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini :<br />
1. <a title="Taut Tetap ke 28 (Duapuluh Delapan) Tuntunan Dalam Manasik Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/">28 (Duapuluh Delapan) TUNTUNAN MANASIK HAJI</a><br />
2. <a title="Taut Tetap ke Mengenal 3 (Tiga)Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/">Mengenal 3 Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji</a><br />
3. <a title="Taut Tetap ke 15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/">15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban</a><br />
4.<a title="Taut Tetap ke Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/">TATA CARA MENYEMBELIH HEWAN KURBAN</a><br />
5. <a title="Taut Tetap ke 10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/">10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha</a><br />
6.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/beberapa-kesalahan-yang-sering-terjadi-di-musim-haji/" target="_blank">Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji</a><br />
7.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/hadits-hadits-dha%E2%80%99if-seputar-ibadah-haji/" target="_blank">Hadits-hadits Dha’if Seputar Ibadah Haji</a><br />
8.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/08/haji-ke-baitullah-bukan-untuk-mencari-gelar-atau-menaikkan-status-sosial/" target="_blank">Haji ke Baitullah Bukan Untuk Mencari Gelar atau Menaikkan Status Sosial</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2004/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2004/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2004/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=2004&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Penyembelih Hewan Kurban</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 03:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[seksologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Asy Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari
Ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hewan kurban. Sepantasnyalah bagi seorang muslim untuk mengetahuinya agar ia berada di atas ilmu dalam melakukan ibadahnya, dan di atas keterangan yang nyata dari urusannya. berikut ini aku sebutkan hukum-hukum tersebut secara ringkas.
Pertama : Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam berkurban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=2003&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Penulis: Asy Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> beberapa hukum yang berkaitan dengan hewan kurban. Sepantasnyalah bagi seorang muslim untuk mengetahuinya agar ia berada di atas ilmu dalam melakukan ibadahnya, dan di atas keterangan yang nyata dari urusannya. berikut ini aku sebutkan hukum-hukum tersebut secara ringkas.<span id="more-2003"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam berkurban dengan dua ekor domba jantan (Akan datang dalilnya pada point ke delapan) yang disembelihnya setelah shalat Ied. Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam mengabarkan (yang artinya) : “ <em>Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka tidaklah termasuk kurban sedikitpun, akan tetapi hanyalah daging sembelihan biasa yang diberikan untuk keluarganya</em>&#8221; (Riwayat Bukhari (5560) dan Muslim (1961) dan Al-Bara&#8217; bin Azib)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam memerintahkan kepada para sahabatnya agar mereka menyembelih jadza&#8217; dari domba, dan tsaniyya dari yang selain domba (Berkata Al-Hafidzh dalam &#8220;Fathul Bari&#8221; (10/5) : Jadza&#8217; adalah gambaran untuk usia tertentu dari hewan ternak, kalau dari domba adalah yang sempurna berusia setahun, ini adalah ucapan jumhur. Adapula yang mengatakan : di bawah satu tahun, kemudian diperselisihkan perkiraannya, maka ada yang mengatakan 8 dan ada yang mengatakan 10. Tsaniyya dari unta adalah yang telah sempurna berusia 5 tahun, sedang dari sapi dan kambing adalah yang telah sempurna berusia 2 tahun. Lihat &#8220;Zadul Ma&#8217;ad&#8221; (2/317).) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mujasyi bin Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu mengabarkan bahwa Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda (yang artinya) : “ <em>Sesungguhnya jadza&#8217; dari domba memenuhi apa yang memenuhi tsaniyya dari kambing</em>&#8221; (&#8216;Shahihul Jami&#8217; (1592), lihat &#8221; Silsilah Al-Ahadits Adl-Dlaifah&#8221; (1/87-95).)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketiga :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Boleh mengakhirkan penyembelihan pada hari kedua dan ketiga setelah Idul Adha, karena hadits yang telah tsabit dari Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam : (bahwa) beliau bersabda : (yang artinya) : “ <em><span style="text-decoration:underline;">Setiap hari Tasyriq ada sembelihan</span></em>&#8221; ( Dikeluarkan oleh Ahmad (4/8), Al-Baihaqi (5/295), Ibnu Hibban (3854) dan Ibnu Adi dalam &#8220;Al-Kamil&#8221; (3/1118) dan pada sanadnya ada yang terputus. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabari dalam &#8216;Mu&#8217;jamnya&#8221; dengan sanad yang padanya ada kelemahan (layyin). Hadits ini memiliki pendukung yang diriwayatkan Ibnu Adi dalam &#8220;<em>Al-Kamil&#8221; dari Abi Said Al-Khudri dengan sanad yang padanya ada kelemahan. Hadits ini hasan Insya Allah, lihat &#8216;Nishur Rayah</em>&#8221; (3/61).) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata ibnul Qayyim rahimahullah &#8220;Ini adalah madzhabnya Ahmad, Malik dan Abu Hanifah semoga Allah merahmati mereka semua. Berkata Ahmad : Ini merupakan pendapatnya lebih dari satu sahabat Muhammad Shalallahu’alaihi Wassallam. Al-Atsram menyebutkannya dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhum&#8221;( Zadul Ma&#8217;ad (2/319))</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keempat :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Termasuk petunjuk Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bagi orang yang ingin menyembelih kurban agar tidak mengambil rambut dan kulitnya walau sedikit, bila telah masuk hari pertama dari sepuluh hari yang awal bulan Dzulhijjah. Telah pasti larangan yang demikian itu. (Telah lewat takhrijnya pada halaman 66, lihat &#8216;Nailul Authar&#8221; (5/200-203).)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata An-Nawawi dalam &#8220;Syarhu Muslim&#8221; (13/138-39). &#8220;<em>Yang dimaksud dengan larangan mengambil kuku dan rambut adalah larangan menghilangkan kuku dengan gunting kuku, atau memecahkannya, atau yang selainnya. Dan larangan menghilangkan rambut dengan mencukur, memotong, mencabut, membakar atau menghilangkannya dengan obat tertentu (Campuran tertentu yang digunakan untuk menghilangkan rambut.) atau selainnya. Sama saja apakah itu rambut ketiak, kumis, rambut kemaluan, rambut kepala dan selainnya dari rambut-rambut yang berada di tubuhnya</em>&#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Ibnu Qudamah dalam &#8220;Al-Mughni&#8221; (11/96) &#8220;<em>Kalau ia terlanjur mengerjakannya maka hendaklah mohon ampunan pada Allah Ta&#8217;ala dan tidak ada tebusan karenanya berdasarkan ijma, sama saja apakah ia melakukannya secara sengaja atau karena lupa</em>&#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku katakan : Penuturan dari beliau rahimahullah mengisyaratkan haramnya perbuatan itu dan sama sekali dilarang (sekali kali tidak boleh melakukannya -ed) dan ini yang tampak jelas pada asal larangan nabi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kelima :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam <em><span style="text-decoration:underline;">memilih hewan kurban yang sehat, tidak cacat</span></em>. <em><span style="text-decoration:underline;">Beliau melarang untuk berkurban dengan hewan yang terpotong telinganya atau patah tanduknya</span></em> (Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad (1/83, 127,129 dan 150), Abu Daud (2805), At-Tirmidzi (1504), An-Nasa&#8217;i (7/217) Ibnu Majah (3145) dan Al-Hakim (4/224) dari Ali radhiyallahu &#8216;anhu dengan isnad yang hasan.). <em>Beliau memerintahkan untuk memperhatikan kesehatan dan keutuhan (tidak cacat) hewan kurban, dan tidak boleh berkurban dengan hewan yang cacat matanya, tidak pula dengan muqabalah, atau mudabarah, dan tidak pula dengan syarqa&#8217; ataupun kharqa&#8217; semua itu telah pasti larangan nya.( Muqabalah adalah hewan yang dipotong bagian depan telinganya. Mudabarah : hewan yang dipotong bagian belakang telinganya. Syarqa : hewan yang terbelah telinganya dan Kharqa : hewan yang sobek telinganya</em>. Hadits tentang hal ini isnadnya hasan diriwayatkan Ahmad (1/80 dan 108) Abu Daud (2804), At-Tirmidzi (4198) An-Nasa&#8217;i (7/216) Ibnu Majah (3143) Ad-Darimi (2/77) dan Al-Hakim (4/222) dari hadits Ali radhiyallahu &#8216;anhu.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Boleh berkurban dengan domba jantan yang dikebiri karena ada riwayat dari Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam yang dibawakan Abu Ya&#8217;la (1792) dan Al-Baihaqi (9/268) dengan sanad yang dihasankan oleh Al-Haitsami dalam &#8221; Majma&#8217;uz Zawaid&#8221; (4/22).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keenam </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam <em><span style="text-decoration:underline;">menyembelih kurban di tanah lapang tempat dilaksanakannya shalat. </span></em>(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5552) An-Nasai 97/213) dan Ibnu Majah (3161) dari Ibnu Umar.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketujuh :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Termasuk petunjuk Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam <em><span style="text-decoration:underline;">bahwa satu kambing mencukupi sebagai kurban dari seorang pria dan seluruh keluarganya walaupun jumlah mereka banyak</span></em>. Sebagaimana yang dikatakan oleh Atha&#8217; bin Yasar (Wafat tahun (103H) biografisnya bisa dibaca dalam &#8220;Tahdzibut Tahdzib&#8221; (7/217).) : Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari : &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">Bagaimana hewan-hewan kurban pada masa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam?&#8221; Ia menjawab : &#8220;Jika seorang pria berkurban dengan satu kambing darinya dan dari keluarganya, maka hendaklah mereka memakannya dan memberi makan yang lain</span></em>&#8221; (Diriwayatkan At-Tirmidzi (1505) Malik (2/37) Ibnu Majah (3147) dan Al-Baihaqi (9/268) dan isnadnya hasan.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedelapan :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Disunnahkan bertakbir dan mengucapkan basmalah ketika menyembelih kurban</span></em>, karena ada riwayat dari Anas bahwa ia berkata : (yang artinya) : “ <em>Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam berkurban dengan dua domba jantan yang berwarna putih campur hitam dan bertanduk. beliau menyembelihnya dengan tangannya, dengan mengucap basmalah dan bertakbir, dan beliau meletakkan satu kaki beliau di sisi-sisi kedua domba tersebut</em>&#8221; (Diriwayatkan oleh Bukhari (5558), (5564), (5565), Muslim (1966) dan Abu Daud (2794).)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kesembilan :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Hewan kurban yang afdhal (lebih utama) berupa domba jantan (gemuk) bertanduk yang berwarna putih bercampur hitam di sekitar kedua matanya dan di kaki-kakinya, karena demikian sifat hewan kurban yang disukai Rasulullah</span></em> (Sebagaimana dalam hadits Aisyah yang diriwayatkan Muslim (1967) dan Abu Daud (2792).)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kesepuluh :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Disunnahkan seorang muslim untuk bersentuhan langsung dengan hewan kurbannya (menyembelihnya sendiri) dan dibolehkan serta tidak ada dosa baginya untuk mewakilkan pada orang lain dalam menyembelih hewan kurbannya</em>. (Aku tidak mengetahui adanya perselisihan dalam permasalahan ini di antara ulama, lihat point ke 13 ). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kesebelas :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Disunnahkan bagi keluarga yang menyembelih kurban untuk ikut makan dari hewan kurban tersebut dan menghadiahkannya serta bersedekah dengannya</em>. Boleh bagi mereka untuk menyimpan daging kurban tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam (yang artinya) : “ <em><span style="text-decoration:underline;">Makanlah kalian, simpanlah dan bersedekahlah</span></em>&#8221; (Diriwayatkan oleh Bukhari (5569), Muslim (1971) Abu Daud (2812) dan selain mereka dari Aisyah radhiyallahu &#8216;anha. <em>Adapun riwayat larangan untuk menyimpan daging kurban mansukh (dihapus),</em> lihat &#8216;Fathul Bari&#8217; (10/25-26) dan &#8220;AlI&#8217;tibar&#8221; (120-122). Lihat Al-Mughni (11/108) oleh Ibnu Qudamah.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua belas :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Badanah (unta yang gemuk) dan sapi betina mencukupi sebagai kurban dari tujuh orang</span></em>. Imam Muslim telah meriwayatkan dalam &#8220;Shahihnya&#8221; (350) dari Jabir radhiyallahu &#8216;anhu ia berkata (yang artinya) : “ <em>Di Hudaibiyah kami menyembelih bersama Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam satu unta untuk tujuh orang dan satu sapi betina untuk tujuh orang</em>&#8220;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketiga belas :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Upah bagi tukang sembelih kurban atas pekerjaannya tidak diberikan dari hewan kurban tersebut, karena ada riwayat dari Ali radhiyallahu ia berkata. (yang artinya) : “ <em>Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam memerintahkan aku untuk mengurus kurban-kurbannya, dan agar aku bersedekah dengan dagingnya, kulit dan apa yang dikenakannya (Dalam Al-Qamus yang dimaksud adalah apa yang dikenakan hewan tunggangan untuk berlindung dengannya.) dan aku tidak boleh memberi tukang sembelih sedikitpun dari hewan kurban itu. Beliau bersabda : Kami akan memberikannya dari sisi kami&#8221;</em> (Diriwayatkan dengan lafadh ini oleh Muslim (317), Abu Daud (1769) Ad-Darimi (2/73) Ibnu Majah (3099) Al-baihaqi (9/294) dan Ahmad (1/79,123,132 dan 153) Bukhari meriwayatkannya (1716) tanpa lafadh : &#8220;<em>Kami akan memberinya dari sisi kami</em>&#8220;.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keempat belas :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Siapa di antara kaum muslimin yang tidak mampu untuk menyembelih kurban, ia akan mendapat pahala orang-orang yang menyembelih dari umat Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam karena Nabi berkata ketika menyembelih salah satu domba (yang artinya) : “ Ya Allah ini dariku dan ini dari orang yang tidak menyembelih dari kalangan umatku</em>&#8221; ( Telah lewat takhrijnya pada halaman 70)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kelima belas :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Berkata Ibnu Qudamah dalam &#8220;Al-Mughni&#8221; (11/95) : &#8220;<em>Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam dan Al-Khulafaur rasyidun sesudah beliau menyembelih kurban. Seandainya mereka tahu sedekah itu lebih utama niscaya mereka menuju padanya. Dan karena mementingkan/ mendahulukan sedekah atas kurban mengantarkan kepada ditinggalkannya sunnah yang ditetapkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">(Dikutip dari Ahkaamu Al&#8217; Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Haura&#8217;, penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Hussein) Muroja’ah : Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid, Sumber : Buletin Dakwah Al-Atsary, Edisi Perdana/1426 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Dikutip dari darussalaf.or.id offline Penulis: Asy Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Judul: Hukum sekitar menyembelih hewan kurban</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini :<br />
1. <a title="Taut Tetap ke 28 (Duapuluh Delapan) Tuntunan Dalam Manasik Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/">28 (Duapuluh Delapan) TUNTUNAN MANASIK HAJI</a><br />
2. <a title="Taut Tetap ke Mengenal 3 (Tiga)Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/">Mengenal 3 Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji</a><br />
3. <a title="Taut Tetap ke 15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/">15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban</a><br />
4.<a title="Taut Tetap ke Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/">TATA CARA MENYEMBELIH HEWAN KURBAN</a><br />
5. <a title="Taut Tetap ke 10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/">10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha</a><br />
6.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/beberapa-kesalahan-yang-sering-terjadi-di-musim-haji/" target="_blank">Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji</a><br />
7.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/hadits-hadits-dha%E2%80%99if-seputar-ibadah-haji/" target="_blank">Hadits-hadits Dha’if Seputar Ibadah Haji</a><br />
8.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/08/haji-ke-baitullah-bukan-untuk-mencari-gelar-atau-menaikkan-status-sosial/" target="_blank">Haji ke Baitullah Bukan Untuk Mencari Gelar atau Menaikkan Status Sosial</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/2003/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=2003&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal 3 Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 04:28:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[seksologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=1998</guid>
		<description><![CDATA[Seorang calon jamaah haji, sudah seharusnya mengenali jenis-jenis haji dan miqatnya. Agar dia bisa melihat dan memilih, jenis haji apakah yang paling tepat baginya dan dari miqat manakah dia harus melakukannya.
Jenis-jenis Haji
Berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih dari Nabi shallallah ‘alahi wa sallam, ada tiga jenis haji yang bisa diamalkan. Masing-masingnya mempunyai nama dan sifat (tatacara) yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1998&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Seorang calon jamaah haji, sudah seharusnya mengenali jenis-jenis haji dan miqatnya. Agar dia bisa melihat dan memilih, jenis haji apakah yang paling tepat baginya dan dari miqat manakah dia harus melakukannya.<span id="more-1998"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jenis-jenis Haji</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih dari Nabi shallallah ‘alahi wa sallam, ada tiga jenis haji yang bisa diamalkan. Masing-masingnya mempunyai nama dan sifat (tatacara) yang berbeda. <em><span style="text-decoration:underline;">Tiga jenis haji tersebut adalah sebagai berikut:</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Haji Tamattu’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Haji Tamattu’ adalah</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>berihram untuk menunaikan umrah di bulan-bulan haji (Syawwal, Dzul Qa’dah, 10 hari pertama dari Dzul Hijjah), dan diselesaikan umrahnya (bertahallul) pada waktu-waktu tersebut1. Kemudian pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah) berihram kembali dari Makkah untuk menunaikan hajinya hingga sempurna. Bagi yang berhaji Tamattu’, wajib baginya menyembelih hewan kurban (seekor kambing/sepertujuh dari sapi/sepertujuh dari unta) pada tanggal 10 Dzul Hijjah atau di hari-hari tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzul Hijjah). Bila tidak mampu menyembelih, maka wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji (boleh dilakukan di hari tasyriq2. Namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Haji Qiran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Haji Qiran adalah</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>berihram untuk menunaikan umrah dan haji sekaligus, dan menetapkan diri dalam keadaan berihram (tidak bertahallul) hingga hari nahr (tanggal 10 Dzul Hijjah). Atau berihram untuk umrah, dan sebelum memulai thawaf umrahnya dia masukkan niat haji padanya (untuk dikerjakan sekaligus bersama umrahnya). Kemudian melakukan thawaf qudum (thawaf di awal kedatangan di Makkah), lalu shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim. Setelah itu bersa’i di antara Shafa dan Marwah untuk umrah dan hajinya sekaligus dengan satu sa’i (tanpa bertahallul), kemudian masih dalam kondisi berihram hingga datang masa tahallulnya di hari nahr (tanggal 10 Dzul Hijjah). Boleh pula baginya untuk mengakhirkan sa’i dari thawaf qudumnya yang nantinya akan dikerjakan setelah thawaf haji (ifadhah). Terlebih bila kedatangannya di Makkah agak terlambat dan khawatir tidak bisa tuntas mengerjakan hajinya bila disibukkan dengan sa’i. Untuk haji Qiran ini, wajib menyembelih hewan kurban (seekor kambing, sepertujuh dari sapi, atau sepertujuh dari unta) pada tanggal 10 Dzul Hijjah atau di hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzul Hijjah). Bila tidak mampu menyembelih, maka wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji (boleh dilakukan di hari tasyriq, namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3. Haji Ifrad</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Haji Ifrad adalah</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>melakukan ihram untuk berhaji saja (tanpa umrah) di bulan-bulan haji. Setiba di Makkah, melakukan thawaf qudum (thawaf di awal kedatangan di Makkah), kemudian shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim. Setelah itu bersa’i di antara Shafa dan Marwah untuk hajinya tersebut (tanpa bertahallul), kemudian menetapkan diri dalam kondisi berihram hingga datang masa tahallulnya di hari nahr (tanggal 10 Dzul Hijjah). Boleh pula baginya untuk mengakhirkan sa’i dari thawaf qudumnya, dan dikerjakan setelah thawaf hajinya (ifadhah). Terlebih ketika kedatangannya di Makkah agak terlambat dan khawatir tidak bisa tuntas mengerjakan hajinya bila disibukkan dengan kegiatan sa’i, sebagaimana haji Qiran. Untuk haji Ifrad ini, tidak ada kewajiban menyembelih hewan kurban.</em> (Disarikan dari Dalilul Haajji wal Mu’tamir, terbitan Departemen Agama Saudi Arabia hal. 15,16, &amp; 19, dan www.attasmeem.com, Manasik Al-Hajj wal ‘Umrah, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jenis Haji Apakah yang Paling Utama (Afdhal)?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “<em>Berdasarkan penelitian, maka keutamaan tersebut tergantung pada kondisi orang yang akan melakukannya. Jika dia safar untuk umrah secara tersendiri (lalu pulang), kemudian safar kembali untuk berhaji, atau dia bersafar ke Makkah sebelum bulan-bulan haji untuk berumrah lalu tinggal di sana, maka para ulama sepakat bahwa yang afdhal baginya adalah haji Ifrad. Adapun jika dia bersafar ke Makkah pada bulan-bulan haji untuk melakukan umrah dan haji (sekali safar) dengan membawa hewan kurban, maka yang afdhal baginya adalah <strong>haji Qiran</strong>. Dan bila tidak membawa hewan kurban maka yang afdhal baginya adalah <strong>haji Tamattu’</strong>.” (Lihat Taudhihul Ahkam juz 4, hal. 60)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa haji Tamattu’ lebih utama dari semua jenis haji secara mutlak. Bahkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berpendapat bahwa hukum haji Tamattu’ adalah wajib, sebagaimana dalam kitab beliau Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (hal. 11-17, cet. ke-4). Namun demikian, beliau rahimahullah mengatakan: “Mungkin ada yang berkata, ‘Sesungguhnya apa yang engkau sebutkan tentang wajibnya haji Tamattu’ dan bantahan terhadap yang mengingkarinya, sangatlah jelas dan bisa diterima. Namun masih ada ganjalan manakala ada yang mengatakan bahwa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun justru melakukan haji Ifrad. Bagaimanakah solusinya?’ Jawabannya: ‘Dalam bahasan yang lalu telah kami jelaskan bahwasanya haji Tamattu’ itu hukumnya wajib, bagi seseorang yang tidak membawa hewan kurban. Adapun bagi seseorang yang membawa hewan kurban, maka tidak wajib baginya berhaji Tamattu’. Bahkan (dalam kondisi seperti itu) tidak boleh baginya untuk berhaji Tamattu’. Yang afdhal baginya adalah haji Qiran atau haji Ifrad. Sehingga apa yang telah disebutkan bahwa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun berhaji Ifrad, dimungkinkan karena mereka membawa hewan kurban. Dengan demikian masalahnya bisa dikompromikan, walhamdulillah</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.” (Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal. 18-19)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Miqat Haji</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Miqat haji ada dua macam:</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Miqat zamani</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Yaitu <em>batasan-batasan waktu di mana dilakukan ibadah haji. Batasan waktu tersebut adalah bulan-bulan haji (Syawwal, Dzul Qa’dah, dan 10 hari pertama dari bulan Dzul Hjjah).</em> Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُوْمَاتٌ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Haji itu pada bulan-bulan yang telah ditentukan</em>.” (Al-Baqarah: 197)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Miqat makani:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Yaitu <em>sebuah tempat yang telah ditentukan dalam syariat, untuk memulai niat ihram haji dan umrah.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Miqat Makani tersebut ada lima3, yaitu:</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Dzul Hulaifah (sekarang dinamakan Abyar ‘Ali atau Bir ‘Ali)</span></em>. Tempat ini adalah miqat bagi penduduk kota Madinah dan yang datang melalui rute mereka. Jaraknya dengan kota Makkah sekitar 420 km.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Al-Juhfah</span></em>. Tempat ini adalah miqat penduduk Saudi Arabia bagian utara dan negara-negara Afrika Utara dan Barat, serta penduduk negeri Syam (Lebanon, Yordania, Syiria, dan Palestina). Jaraknya dengan kota Makkah kurang lebih 208 km. Namun tempat ini telah ditelan banjir, dan sebagai gantinya adalah daerah Rabigh yang berjarak kurang lebih 186 km dari kota Makkah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketiga:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Qarnul Manazil (sekarang dinamakan As-Sail)</span></em>, yang berjarak kurang lebih 78 km dari Makkah, atau Wadi Muhrim (bagian atas Qarnul Manazil) yang berjarak kurang lebih 75 km dari kota Makkah. Tempat ini merupakan miqat penduduk Najd dan yang setelahnya dari negara-negara Teluk, Irak (bagi yang melewatinya), Iran, dll. Demikian pula penduduk bagian selatan Saudi Arabia yang berada di seputaran pegunungan Sarat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keempat:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Yalamlam (sekarang dinamakan As-Sa’diyyah)</em>, yang berjarak kurang lebih 120 km dari kota Makkah (bila diukur lewat jalur selatan Tihamah). <strong><em><span style="text-decoration:underline;">Ini adalah miqat penduduk negara Yaman, Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya</span></em></strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kelima: </span></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dzatu ‘Irqin (sekarang dinamakan Adh-Dharibah),</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> yang berjarak kurang lebih 100 km dari kota Makkah. Ini adalah miqat penduduk negeri Irak (Kufah dan Bashrah) dan penduduk negara-negara yang melewatinya. Awal mula direalisasikannya Dzatu ‘Irqin sebagai miqat adalah di masa khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab. Yaitu ketika penduduk Kufah dan Bashrah merasa kesulitan untuk pergi ke miqat Qarnul Manazil, dan mengeluhkannya kepada khalifah. Mereka pun diperintah untuk mencari tempat yang sejajar dengannya. Dan akhirnya dijadikanlah Dzatu ‘Irqin sebagai miqat mereka dengan kesepakatan dari khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, yang ternyata mencocoki sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma. (Lihat Taudhihul Ahkam juz 4, hal. 43-48, Asy-Syarhul Mumti’ juz 4, hal. 49-50, Irwa`ul Ghalil, juz 4 hal. 175)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Wallahu a’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “<em>Seseorang dikatakan berhaji tamattu’, ketika dia datang ke Baitullah untuk berumrah (di bulan-bulan haji, pen.) kemudian tinggal di sana (di Makkah) untuk menunaikan hajinya (di tahun itu).</em>” (Mansak Al-Imam Ibni Baz, hal. 39)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2 Berdasarkan riwayat Al-Bukhari, dari ‘Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membolehkan bershaum di hari Tasyriq kecuali bagi seseorang yang berhaji (Tamattu’/Qiran, pen.) dan tidak mampu menyembelih hewan kurban. (Lihat Irwa`ul Ghalil, juz 4 hal. 132, dan keterangan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Manasik Al-Hajji wal ‘Umrah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3 Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan Al-Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1811, dan penentuan khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tentang Dzatu ‘Irqin yang terdapat dalam riwayat Al-Bukhari no. 1531 yang mencocoki sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma. (Lihat Irwa`ul Ghalil, juz 4 hal. 175)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Dikutip dari: http://www.asysyariah.com Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc. Judul: Mengenal Jenis-jenis Haji dan Miqatnya</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini :<br />
1. <a title="Taut Tetap ke 28 (Duapuluh Delapan) Tuntunan Dalam Manasik Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/">28 (Duapuluh Delapan) TUNTUNAN MANASIK HAJI</a><br />
2. <a title="Taut Tetap ke Mengenal 3 (Tiga)Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/">Mengenal 3 Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji</a><br />
3. <a title="Taut Tetap ke 15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/">15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban</a><br />
4.<a title="Taut Tetap ke Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/">TATA CARA MENYEMBELIH HEWAN KURBAN</a><br />
5. <a title="Taut Tetap ke 10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/">10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha</a><br />
6.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/beberapa-kesalahan-yang-sering-terjadi-di-musim-haji/" target="_blank">Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji</a><br />
7.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/hadits-hadits-dha%E2%80%99if-seputar-ibadah-haji/" target="_blank">Hadits-hadits Dha’if Seputar Ibadah Haji</a><br />
8.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/08/haji-ke-baitullah-bukan-untuk-mencari-gelar-atau-menaikkan-status-sosial/" target="_blank">Haji ke Baitullah Bukan Untuk Mencari Gelar atau Menaikkan Status Sosial</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/1998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/1998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/1998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/1998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/1998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/1998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/1998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/1998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/1998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/1998/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1998&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>28 (Duapuluh Delapan) Tuntunan Dalam Manasik Haji</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 03:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[seksologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=1997</guid>
		<description><![CDATA[Kita sering dihadapkan pada ragam ibadah yang berbeda satu dengan lainnya. Namun ketika telah mengikrarkan syahadat Muhammadarrasulullah, maka yang semestinya terpatri di benak kita adalah meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segenap aspek dan tata cara ibadah, termasuk berhaji.
Pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1997&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kita sering dihadapkan pada ragam ibadah yang berbeda satu dengan lainnya. Namun ketika telah mengikrarkan syahadat Muhammadarrasulullah, maka yang semestinya terpatri di benak kita adalah meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segenap aspek dan tata cara ibadah, termasuk berhaji.<span id="more-1997"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi dambaan setiap muslim. Predikat ‘Haji Mabrur’ yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah (surga) tak urung menjadi target utama dari kepergiannya ke Baitullah. Namun, mungkinkah semua yang berhaji ke Baitullah dapat meraihnya? Tentu jawabannya mungkin, bila terpenuhi dua syarat:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Di dalam menunaikannya benar-benar ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena mencari pamor atau ingin menyandang gelar ‘Pak haji’ atau ‘Bu haji/hajjah’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Ditunaikan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> pembaca, sebagaimana disebutkan dalam bahasan yang lalu bahwa ibadah haji ada tiga jenis; Tamattu’, Qiran, dan Ifrad. Bagi penduduk Indonesia, haji yang afdhal adalah haji Tamattu’. Hal itu dikarenakan mayoritas mereka tidak ada yang berangkat haji dengan membawa hewan kurban. Walhamdulillah, selama ini mayoritas jamaah haji Indonesia berhaji dengan jenis haji tersebut. Maka dari itu akan sangat tepat bila kajian kali ini lebih difokuskan pada tatacara menunaikan haji Tamattu’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saudaraku, jamaah haji Indonesia –menurut kebiasaan– terbagi menjadi dua kelompok. <strong><em><span style="text-decoration:underline;">Kelompok pertama</span></em></strong><em><span style="text-decoration:underline;"> akan berangkat ke kota Madinah terlebih dahulu, dan setelah tinggal beberapa hari di sana, barulah berangkat ke kota suci Makkah. Sehingga untuk jamaah haji kelompok pertama ini, start ibadah hajinya dari kota Madinah dan miqatnya adalah Dzul Hulaifah.</span></em> <strong><em><span style="text-decoration:underline;">Adapun kelompok kedua</span></em></strong><em><span style="text-decoration:underline;">, mereka akan langsung menuju kota Makkah, dan miqatnya adalah Yalamlam yang jarak tempuhnya sekitar 10 menit sebelum mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sehingga start ibadah hajinya (niat ihramnya) sejak berada di atas pesawat terbang.</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun manasik haji Tamattu’ yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Bila anda telah berada di miqat, maka mandilah sebagaimana mandi janabat, dan pakailah wewangian pada tubuh anda bila memungkinkan.</span></em> Mandi tersebut juga berlaku bagi wanita yang haidh dan nifas. Untuk kelompok kedua yang niat ihramnya dimulai ketika di atas pesawat terbang, maka mandinya bisa dilakukan di tempat tinggal terakhirnya menjelang penerbangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Kemudian pakailah kain ihram yang terdiri dari dua helai (yang afdhal berwana putih); sehelai disarungkan pada tubuh bagian bawah dan yang sehelai lagi diselempangkan pada tubuh bagian atas</em>. Untuk kelompok kedua yang niat ihramnya dimulai ketika di atas pesawat terbang, maka pakaian ihramnya bisa dikenakan menjelang naik pesawat terbang atau setelah berada di atas pesawat terbang, dengan jeda waktu yang agak lama dengan miqatnya agar ketika melewati miqat dalam kondisi telah mengenakan pakaian ihramnya. Adapun wanita, tidaklah mengenakan pakaian ihram tersebut di atas, akan tetapi mengenakan pakaian yang biasa dikenakannya dengan kriteria menutup aurat dan sesuai dengan batasan-batasan syar’i.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <strong>Kemudian (ketika berada di miqat) berniatlah ihram untuk melakukan umrah dengan mengatakan</strong>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">لَبَّيْكَ عُمْرَةً</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umrah</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kemudian dilanjutkan dengan ucapan talbiyah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Perbanyaklah bacaan talbiyah (umrah) ini dengan suara yang lantang1 sepanjang perjalanan ke Makkah, dan berhentilah dari talbiyah ketika menjelang thawaf. Hindarilah talbiyah secara bersama-sama (berjamaah), karena yang demikian itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di antara hal-hal yang harus diperhatikan ketika berihram adalah sebagai berikut:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Menjalankan segala apa yang telah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti shalat lima waktu dan kewajiban-kewajiban yang lainnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di antaranya; kesyirikan, perkataan kotor, kefasikan, berdebat dengan kebatilan, dan kemaksiatan lainnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Tidak boleh mencabut rambut atau pun kuku, namun tidak mengapa bila rontok atau terkelupas tanpa sengaja.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Tidak boleh mengenakan wewangian baik pada tubuh ataupun kain ihram. Dan tidak mengapa adanya bekas wewangian yang dikenakan sebelum melafazhkan niat ihram.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Tidak boleh berburu atau pun membantu orang yang berburu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Tidak boleh mencabut tanaman yang ada di tanah suci, tidak boleh meminang wanita, menikah, atau pun menikahkan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Tidak boleh menutup kepala dengan sesuatu yang menyentuh (kepala tersebut) dan tidak mengapa untuk memakai payung, berada di bawah pohon, ataupun atap kendaraan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Tidak boleh memakai pakaian yang sisi-sisinya melingkupi tubuh (baju, kaos), imamah (sorban), celana, dan lain sebagainya. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Diperbolehkan untuk memakai sandal, cincin, kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpan uang, data penting dan yang lainnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Diperbolehkan juga untuk mengganti kain yang dipakai atau mencucinya, sebagaimana pula diperbolehkan membasuh kepala dan anggota tubuh lainnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">-Tidak boleh (bagi yang sudah berniat haji) melewati miqatnya dalam keadaan tidak mengenakan pakaian ihram.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Apabila larangan-larangan ihram tersebut dilanggar, maka dikenakan dam (denda) dengan menyembelih hewan kurban (seekor kambing/sepertujuh unta/sepertujuh sapi).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Bila telah tiba di Makkah (di Masjidil Haram) maka pastikan telah bersuci dari hadats (sebagai syarat thawaf, menurut madzhab yang kami pilih</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Lalu selempangkanlah pakaian atas ke bawah ketiak kanan, dengan menjadikan pundak kanan terbuka dan pundak kiri tetap tertutup</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Kemudian lakukanlah thawaf sebanyak 7 putaran</em>. Dimulai dari Hajar Aswad dengan memosisikan Ka’bah di sebelah kiri anda, sambil mengucapkan “<em><span style="text-decoration:underline;">Bismillahi Allahu Akbar</span></em>.” Dari Hajar Aswad sampai ke Hajar Aswad lagi, terhitung 1 putaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Disunnahkan berlari-lari kecil (raml) pada putaran ke-1 hingga ke-3 pada thawaf qudum.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Disunnahkan pula setiap kali mengakhiri putaran (ketika berada di antara 2 rukun: Yamani dan</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Hajar Aswad) untuk membaca:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat, serta jagalah kami dari adzab api nerak</em>a.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Disunnahkan pula setiap kali tiba di Hajar Aswad untuk mencium atau memegangnya lalu mencium tangan yang digunakan untuk memegang tersebut, atau pun berisyarat saja dengan tangan (tanpa dicium), sambil mengucapkan: “<span style="text-decoration:underline;">Allahu Akbar</span>”2 atau “<span style="text-decoration:underline;">Bismillahi Allahu Akbar</span>”3.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Disunnahkan pula setiap kali tiba di Rukun Yamani untuk menyentuh/ mengusapnya tanpa dicium dan tanpa bertakbir. Dan bila tidak dapat mengusapnya maka tidak disyariatkan mengusapnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Bila terjadi keraguan tentang jumlah putaran Thawaf, maka ambillah hitungan yang paling sedikit.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">7.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Seusai Thawaf, tutuplah kembali pundak kanan dengan pakaian atas anda, kemudian lakukanlah shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah) walaupun agak jauh darinya.</em> Dan bila kesulitan (tidak memungkinkan) mendapatkan tempat di belakang Maqam Ibrahim maka tidak mengapa shalat di bagian mana saja dari Masjidil Haram. Disunnahkan pada rakaat pertama membaca surat Al-Fatihah dan Al-Kafirun, sedangkan pada rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlash.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">8.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Kemudian minumlah air zam-zam dan siramkan sebagiannya pada kepala</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">9.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Lalu ciumlah/peganglah Hajar Aswad bila memungkinkan, dan tidak dituntunkan untuk berisyarat kepadanya</em>.4</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">10.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Setelah itu pergilah ke bukit Shafa untuk bersa’i. Setiba di Shafa bacalah</em>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِاللهِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk dari syi’ar-syi’ar Allah</em>.” (Al-Baqarah: 158)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Aku memulai (Sa’i) dengan apa yang dimulai oleh Allah (yakni Shafa dahulu kemudian Marwah</em>, pen.).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">11.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Kemudian menghadaplah ke arah Ka’bah (dalam keadaan posisi masih di Shafa), lalu ucapkanlah:</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, Dzat yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, yang telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya dan menghancurkan orang-orang bala tentara kafir tanpa bantuan siapa pun</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ini dibaca sebanyak 3 kali</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Setiap kali selesai dari salah satunya, disunnahkan untuk berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang kita inginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">12. </span></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Setelah itu berangkatlah menuju Marwah, dan ketika lewat di antara dua tanda hijau percepatlah jalan anda lebih dari biasanya</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Setiba di Marwah lakukanlah seperti apa yang dilakukan di Shafa (sebagaimana yang terdapat pada point ke-11 di atas). Dengan demikian telah terhitung satu putaran. Lakukanlah yang seperti ini sebanyak 7 kali (dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">13.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Seusai Sa’i, lakukanlah tahallul dengan mencukur rambut kepala secara merata (bagi pria) dan bagi wanita dengan memotong sepanjang ruas jari dari rambut yang telah disatukan</em>. Dengan bertahallul semacam ini, maka anda telah menunaikan ibadah umrah dan diperbolehkan bagi anda segala sesuatu dari mahzhuratil Ihram (hal-hal yang dilarang ketika berihram).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">14.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Tanggal 8 Dzul Hijjah (hari Tarwiyah), merupakan babak kedua untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji anda</em>. Maka mandilah dan pakailah wewangian pada tubuh serta kenakan pakaian ihram.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">15.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Setelah itu berniatlah ihram untuk haji dari tempat tinggal anda di Makkah, seraya mengucapkan</em>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">لَبَّيْكَ حَجًّا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan ibadah haji.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kemudian lantunkanlah ucapan talbiyah5:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan masuknya ke dalam niat ihram haji ini, berarti anda harus menjaga diri dari segala mahzhuratil ihram sebagaimana yang terdapat pada point ke-3.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">16.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Kemudian berangkatlah menuju Mina untuk mabit (menginap) di sana. Setiba di Mina kerjakanlah shalat-shalat yang 4 rakaat (Dzuhur, Ashar, dan ‘Isya) menjadi 2 rakaat (qashar) dan dikerjakan pada waktunya masing-masing (tanpa dijama’)</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">17.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Ketika matahari telah terbit di hari 9 Dzul Hijjah, berangkatlah menuju Arafah (untuk wukuf). Perbanyaklah talbiyah, dzikir dan istighfar selama perjalanan anda menuju Arafah.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">18.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Setiba di Arafah (pastikan bahwa anda benar-benar berada di dalam areal Arafah), manfaatkanlah waktu anda dengan memperbanyak doa sambil menghadap kiblat dan mengangkat tangan, serta dzikrullah. Karena saat itu anda sedang berada di tempat yang mulia dan di waktu yang mulia (mustajab) pula</em>. Sebaik-baik bacaan yang dibaca pada hari itu adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu</em>.” (HR. At-Tirmidzi no. 3585, dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.1503)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Untuk selebihnya anda bisa membaca tuntunan doa-doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang anda kehendaki. Lakukanlah amalan-amalan mulia di atas hingga matahari terbenam. Adapun shalat Dzuhur dan Ashar di Arafah, maka keduanya dikerjakan di waktu Dzuhur (jama’ taqdim) 2 rakaat &#8211; 2 rakaat (qashar), dengan satu adzan dan dua iqamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">19.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Ketika matahari terbenam, berangkatlah menuju Muzdalifah dengan tenang sambil selalu melantunkan talbiyah. Setiba di Muzdalifah, kerjakanlah shalat Maghrib dan ‘Isya di waktu ‘Isya (jama’ ta`khir) dan diqashar (Maghrib 3 rakaat, ‘Isya 2 rakaat), dengan satu adzan dan dua iqamat</em>. <em>Kemudian bermalamlah di sana hingga datang waktu shubuh. Seusai mengerjakan shalat shubuh, perbanyaklah doa dan dzikir sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan, hingga hari nampak mulai terang (sebelum matahari terbit).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">20.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Kemudian (sebelum matahari terbit), berangkatlah menuju Mina sambil terus bertalbiyah. Bila ada para wanita atau pun orang-orang lemah yang bersama anda, maka diperbolehkan bagi anda untuk mengiringi mereka menuju Mina di pertengahan malam. Namun melempar jumrah tetap dilakukan setelah matahari terbit</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">21.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Ketika tiba di Mina (tanggal 10 Dzul Hijjah) kerjakanlah hal-hal berikut ini:</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Lemparlah jumrah Aqabah dengan 7 batu kerikil (sebesar kotoran kambing) dengan bertakbir pada tiap kali lemparan. Pastikan setiap lemparan yang anda lakukan mengenai sasarannya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Sembelihlah Hadyu (hewan kurban), makanlah sebagian dagingnya serta shadaqahkanlah kepada orang-orang fakir yang ada di sana. Boleh juga penyembelihan ini diwakilkan kepada petugas resmi dari pemerintah Saudi Arabia yang ada di Makkah dan sekitarnya. Bila tidak mampu membeli atau menyembelih hewan kurban, maka wajib puasa tiga hari di hari-hari haji (boleh dilakukan di hari-hari Tasyriq, namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah6) dan tujuh hari setelah pulang ke kampung halaman.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">-Potong atau cukurlah seluruh rambut kepala anda secara merata, dan mencukur habis lebih utama. Adapun wanita cukup memotong sepanjang ruas jari dari rambut kepalanya yang telah disatukan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikianlah urutan paling utama dari sekian amalan yang dilakukan di Mina pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, namun tidak mengapa bila didahulukan yang satu atas yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">22<em>.</em></span></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Bila anda telah melempar jumrah Aqabah dan menggundul (atau mencukur rambut), maka berarti anda telah bertahallul awal. Sehingga diperbolehkan bagi anda untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika berihram, kecuali satu perkara yaitu menggauli isteri.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">23.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Pakailah wewangian, kemudian pergilah ke Makkah untuk melakukan thawaf ifadhah/thawaf haji (tanpa lari-lari kecil pada putaran ke-1 hingga ke-3), berikut Sa’i-nya. Dengan selesainya amalan ini, berarti anda telah bertahallul tsani dan diperbolehkan kembali bagi anda seluruh mahzhuratil ihram.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Catatan Penting:</span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Thawaf ifadhah boleh diakhirkan, dan sekaligus dijadikan sebagai thawaf wada’ (thawaf perpisahan) yang dilakukan ketika hendak meninggalkan kota suci Makkah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">24. </span></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Setelah melakukan thawaf ifadhah pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, kembalilah ke Mina untuk mabit (bermalam) di sana selama tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah (hari-hari tasyriq).</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Tidak mengapa bagi anda untuk bermalam 2 malam saja (tanggal 11 dan 12-nya/nafar awal).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">25.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Selama 2 atau 3 hari dari keberadaan anda di Mina tersebut, lakukanlah pelemparan pada 3 jumrah yang ada; Sughra, Wustha, dan Aqabah (Kubra). Pelemparan jumrah pada hari-hari itu dimulai setelah tergelincirnya matahari (setelah masuk waktu Dzuhur), hingga waktu malam.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Caranya:</span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Sediakan 21 butir batu kerikil (sebesar kotoran kambing). Kemudian pergilah ke jumrah Sughra dan lemparkanlah ke arahnya 7 butir batu kerikil (satu demi satu) dengan bertakbir pada setiap kali pelemparan. Pastikan lemparan tersebut masuk ke dalam sasaran. Bila ternyata tidak masuk, maka ulangilah lemparan tersebut walaupun dengan batu yang didapati di sekitar anda. Setelah selesai, majulah sedikit ke arah kanan, lalu berdirilah menghadap kiblat dan angkatlah kedua tangan anda untuk memohon (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang diinginkan. Lalu pergilah menuju jumrah Wustha. Setiba di jumrah Wustha, lakukanlah seperti apa yang anda lakukan di jumrah Sughra. Setelah selesai, majulah sedikit ke arah kiri, berdirilah menghadap kiblat, dan angkatlah kedua tangan anda untuk memohon (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang diinginkan. Lalu pergilah menuju jumrah Aqabah. Setiba di jumrah Aqabah, lakukanlah seperti apa yang anda lakukan di jumrah Sughra dan Wustha. Setelah itu, tinggalkanlah jumrah Aqabah tanpa melakukan doa padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">26.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Bila anda ingin mabit 2 malam saja di Mina (tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah), maka keluarlah dari Mina sebelum terbenamnya matahari tanggal 12 Dzul Hijjah, tentunya setelah melempar 3 jumrah yang ada. Namun jika matahari telah terbenam dan anda masih berada di Mina, maka wajib untuk bermalam lagi dan melempar 3 jumrah di hari ke-13-nya (yang afdhal adalah mabit 3 malam di Mina/nafar tsani). Diperbolehkan bagi orang yang sakit atau pun lemah yang benar-benar tidak mampu melakukan pelemparan untuk mewakilkan pelemparannya kepada yang dapat mewakilinya. Sebagaimana diperbolehkan pula bagi orang yang mewakili, melakukan pelemparan untuk dirinya kemudian untuk orang yang diwakilinya diwaktu dan tempat yang sama (dengan batu yang berbeda).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">27.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Dengan selesainya anda dari kegiatan melempar 3 jumrah pada hari-hari tersebut (baik mengambil nafar awwal atau pun nafar tsani), berarti telah selesai pula dari kewajiban mabit di Mina. Sehingga diperbolehkan bagi anda untuk meninggalkan kota Mina dan kembali ke hotel atau maktab masing-masing yang ada di kota Makkah.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">28.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Bila anda hendak meninggalkan kota Makkah (baik yang akan melanjutkan perjalanan ke kota Madinah atau pun yang akan melanjutkan perjalanan ke tanah air), maka lakukanlah thawaf wada’ dengan pakaian biasa saja/bukan pakaian ihram dan tanpa Sa’i, kecuali bagi anda yang menjadikan thawaf ifadhah sebagai thawaf wada’nya maka harus bersa’i</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikianlah bimbingan manasik haji Tamattu’ yang kami ketahui berdasarkan dalil-dalilnya yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keterangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga taufiq dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengiringi kita semua, sehingga diberi kemudahan untuk meraih predikat haji mabrur, yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah. Amin Ya Mujibas Sa`ilin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">Sumber Bacaan:</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">1. At-Tahqiq wal-Idhah Lilkatsir Min Masa`ilil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">2. Hajjatun Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam Kama Rawaha ‘Anhu Jabir radhiyallahu ‘anhu, karya Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">3. Manasikul Hajji Wal ‘Umrah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">4. Al-Manhaj limuridil ‘Umrah wal Hajj, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">5. Shifat Hajjatin Nabi, karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">6. Dalilul Haajji wal Mu’tamir wa Zaa‘iri Masjidir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Majmu’ah minal ‘Ulama, terbitan</span></em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Departemen Agama Saudi Arabia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">1 Para ulama sepakat bahwasanya kaum wanita tidak diperbolehkan (makruh) mengeraskan talbiyahnya, sebagaimana yang dinukilkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi. Lihat Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal. 51, catatan kaki no. 10.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">2 Ini merupakan pendapat Asy-Syaikh Al-Albani. Lihat Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal.57, catatan kaki no. 23.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">3 Ini merupakan pendapat Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Lihat At-Tahqiq wal-Idhah hal. 39.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">4 Sebagaimana penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin dalam Manasikul Hajji wal ‘Umrah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">5 Perbanyaklah bacaan talbiyah ini selama perjalanan haji anda, hingga akan melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzul Hijjah (hari Idul Adha)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">6 Berdasarkan riwayat Al-Bukhari, dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhum bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membolehkan bershaum di hari Tasyriq kecuali bagi seseorang yang berhaji (Tamattu’/Qiran, pen.) dan tidak mampu menyembelih hewan kurban.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> (Lihat Irwa`ul Ghalil, juz 4 hal. 132, dan keterangan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Manasik Al-Hajji wal ‘Umrah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Dikutip dari www.asysyariah.com offline Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc. Judul: Manasik Haji Untuk Anda</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini :<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/beberapa-kesalahan-yang-sering-terjadi-di-musim-haji/" target="_blank">Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/hadits-hadits-dha%E2%80%99if-seputar-ibadah-haji/" target="_blank">Hadits-hadits Dha’if Seputar Ibadah Haji</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/08/haji-ke-baitullah-bukan-untuk-mencari-gelar-atau-menaikkan-status-sosial/" target="_blank">Haji ke Baitullah Bukan Untuk Mencari Gelar atau Menaikkan Status Sosial</a><br />
4. <a title="Taut Tetap ke 28 (Duapuluh Delapan) Tuntunan Dalam Manasik Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/">28 (Duapuluh Delapan) TUNTUNAN MANASIK HAJI</a><br />
5. <a title="Taut Tetap ke Mengenal 3 (Tiga)Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/">Mengenal 3 Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji</a><br />
6. <a title="Taut Tetap ke 15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/">15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban</a><br />
7.<a title="Taut Tetap ke Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/">TATA CARA MENYEMBELIH HEWAN KURBAN</a><br />
8. <a title="Taut Tetap ke 10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/">10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/1997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/1997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/1997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/1997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/1997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/1997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/1997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/1997/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/1997/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/1997/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1997&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Sah Akad Nikah Ketika Sedang Haid?</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/apakah-sah-akad-nikah-ketika-sedang-haid/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/apakah-sah-akad-nikah-ketika-sedang-haid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[seksologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/apakah-sah-akad-nikah-ketika-sedang-haid/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu
Tanya: Apakah sah akad nikah yang dilakukan ketika si mempelai wanita sedang haid?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjawab:
“Akad nikah wanita yang sedang haid adalah sah, tidak mengapa. Karena hukum asal dalam akad adalah halal dan sah kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Sementara tidak ada dalil yang menyatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1990&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tanya: Apakah sah akad nikah yang dilakukan ketika si mempelai wanita sedang haid?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab:<span id="more-1990"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjawab:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em><span style="text-decoration:underline;">Akad nikah wanita yang sedang haid adalah sah, tidak mengapa</span></em>. Karena hukum asal dalam akad adalah halal dan sah kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Sementara tidak ada dalil yang menyatakan haramnya akad nikah saat si wanita haid. Perlu diketahui adanya perbedaan antara akad nikah dengan talak. Talak tidak boleh dijatuhkan ketika istri sedang haid, bahkan haram hukumnya. Karena itulah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam marah ketika sampai berita kepada beliau bahwa Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu &#8216;anhuma mentalak istrinya yang sedang haid, dan beliau perintahkan Abdullah untuk rujuk kepada istrinya dan membiarkannya tetap berstatus sebagai istri sampai suci dari haid, kemudian haid kembali, kemudian suci dari haid. Setelah itu terserah Abdullah, apakah ingin tetap mempertahankan istrinya atau ingin mentalaknya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللهَ رَبَّكُمْ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Wahai Nabi, apabila kalian mentalak istri-istri kalian maka hendaklah kalian mentalak mereka pada waktu mereka dapat menghadapi ‘iddahnya yang wajar dan hitunglah waktu ‘iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Rabb kalian</em>….” (At-Thalaq: 1)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan demikian tidak halal bagi seorang suami mentalak istrinya dalam keadaan haid dan tidak boleh pula mentalaknya di waktu suci namun ia telah menggauli istrinya dalam masa suci tersebut, kecuali bila istrinya jelas hamil. Bila jelas hamilnya, ia boleh mentalak istrinya kapan saja dalam masa kehamilan tersebut.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Syaikh mengakhiri fatwa beliau dengan menyatakan, “<em>Bila telah jelas bahwa akad nikah yang dilangsungkan dalam keadaan si wanita haid adalah akad yang boleh dan sah, namun aku memandang hendaknya si mempelai lelaki tidak masuk kepada mempelai wanita (seperti tidur bersamanya, pent.) hingga si mempelai wanita suci dari haidnya. Karena kalau masuk sebelum istrinya suci dikhawatirkan ia akan jatuh ke dalam perkara terlarang saat seorang wanita sedang haid (yaitu jima’), sementara terkadang ia tidak dapat menahan dan menguasai dirinya, terlebih lagi bila masih muda. Hendaklah ia menunggu hingga istrinya suci. Setelah itu baru masuk ke istrinya dalam keadaan tidak ada penghalangnya untuk istimta’ (bersenang-senang) dengan istrinya pada kemaluannya. Wallahu a’lam</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">(Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin, 2/767, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 2/712-713)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Dikutip dari Darussalaf.or.id offline dinukil dari Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah Judul: Akad Nikah Ketika Sedang Haid</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:</p>
<p>1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/29/pernikahan-menurut-islam-dari-mengenal-calon-sampai-proses-akad-nikah/" target="_blank">Pernikahan Menurut Islam dari Mengenal Calon Sampai Proses Akad Nikah</a></p>
<p>2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/18/rukun-dan-syarat-akad-nikah/" target="_blank">Rukun dan Syarat Akad Nikah</a></p>
<p>3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/29/pernikahan-menurut-islam-dari-mengenal-calon-sampai-proses-akad-nikah/" target="_blank">CARA MENGUCAPKAN IJAB KABUL SAAT AKAD NIKAH</a></p>
<p>4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/21/menuju-pernikahan-mawaddah-dan-rahmah/" target="_blank">Menuju Pernikahan Mawaddah dan Rahmah</a></p>
<p>5.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/17/nasehat-bagi-wanita-yang-terlambat-menikah/" target="_blank">NASEHAT BAGI WANITA YANG TERLAMBAT NIKAH</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/1990/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/1990/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/1990/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/1990/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/1990/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/1990/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/1990/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/1990/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/1990/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/1990/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1990&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/apakah-sah-akad-nikah-ketika-sedang-haid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berapakah Jarak Perjalanan Seorang Musafir yang Diperbolehkan Melakukan Qashor?</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/berapakah-jarak-perjalanan-seorang-musafir-yang-diperbolehkan-melakukan-qashor/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/berapakah-jarak-perjalanan-seorang-musafir-yang-diperbolehkan-melakukan-qashor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 03:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Koreksi Shalat Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[seksologi]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/berapakah-jarak-perjalanan-seorang-musafir-yang-diperbolehkan-melakukan-qashor/</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Berapakah jarak perjalanan seorang musafir sehingga ia diperbolehkan melakukan qashor? Dan apakah dibolehkan menjama’ tanpa mengqoshor? 
Jawab: Sebagian ulama berpendapat bahwa jarak perjalanan yang diperbolehkan untuk mengqashor sholat yaitu sejauh 80 KM. Ulama yang lain berpendapat jaraknya sesuai dengan adapt yang berlaku (dinegeri itu, pent). Yaitu jika ia melakukan perjalanan yang menurut adat sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1988&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan: <em>Berapakah jarak perjalanan seorang musafir sehingga ia diperbolehkan melakukan qashor? Dan apakah dibolehkan menjama’ tanpa mengqoshor</em>? <span id="more-1988"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab: Sebagian ulama berpendapat bahwa jarak perjalanan yang diperbolehkan untuk mengqashor sholat yaitu sejauh 80 KM. Ulama yang lain berpendapat jaraknya sesuai dengan adapt yang berlaku (dinegeri itu, pent). <em><span style="text-decoration:underline;">Yaitu jika ia melakukan perjalanan yang menurut adat sudah disebut safar, maka ia telah melakukan safar meskipun jaraknya belum sampai 80 KM. Adapun jika perjalanannya menurut adapt belum dikatakan safar meskipun jaraknya 100 KM, maka ia belum disebut safar</span></em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah. Yang demikian ini karena Allah dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam <em>tidak menentukan jarak tertentu untuk diperbolehkan melakukan qoshor.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:”<em><span style="text-decoration:underline;">Apabila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi sejarak 3 mil atau farsakh, maka beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengqoshor sholat, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sholat dua rokaat”</span></em> (HR. Muslim no. 691).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendapat Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah ini lebih dekat kepada kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan tidak mengapa saat terjadi perbedaan pendapat tentang batasan adapt, ia mengambil pendapat tentang batasan jarak, karena hal ini juga dikatakan oleh sebagian ulama dan para imam mujtahid. Namun jika masalahnya jelas, maka menggunakan batasan adapt kebiasaan adalah yang tepat</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun pertanyaan apakah boleh menjama’ jika dibolehkan mengqoshor? Kami katakana: Jama’ itu tidak terkait dengan qoshor tetapi terkait dengan kebutuhan. Kapan saja seseorang butuh melakukan sholat jama’ baik saat muqim (=tinggal) ataupun saat safar, maka ia boleh menjama’. Oleh karena itu manusia melakukan jama’ saat hujan yang menyulitkan mereka untuk kembali ke masjid juga melakukan jama’ bila terjadi angin kencang di musim dingin yang menyulitkan mereka keluar menuju Masjid juga melakukan jama’ jika ia takut keselamatan hartanya atau yang semisalnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">جمع رسول الله صلى الله عليه و سلم بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء بالمدينة في غير خوف ولا مطر (رواه مسلم: 705). </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em><span style="text-decoration:underline;">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar, Maghrib dan ‘Isya di Madinah bukan karena ketakutan ataupun hujan</span></em>” (HR. Muslim no. 705).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mereka bertanya: Apa yang diinginkan beliau? Beliau menjawab: Agar tidak menyulitkan ummatnya, maksudnya: agar tidak kesulitan dengan meninggalkan jama’.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Inilah rambu-rambunya, setiap kali seseorang merasa repot dengan tidak melakukan jama’ maka ia boleh melakukannya. Namun jika ia tidak menghadapi kesulitan maka ia tidak usah menjama’, namun safar adalah tempat kesulitan jika ia tidak melakukan jama’. Untuk itu dibolehkan bagi musafir (=orang yang bepergian) untuk menjama’ sholat baik saat dalam perjalanan atau saat singgah, hanya saja jika ia sedang dalam perjalanan maka menjama’nya lebih utama sedangkan saat singgah meninggalkan jama’ lebih utama. Kecuali jika orang itu singgah di suatu tempat yang ditegakkan padanya sholat jama’ah, maka ia wajib menghadiri sholat jama’ah. Saat itu ia tidak boleh menjama’ dan mengqoshor. Namun jika ia ketinggalan jama’ah ia mengqoshor sholatnya tanpa menjama’, kecuali jika dibutuhkan untuk menjama’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no: 311.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Surat</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Kepada Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin semoga Allah menjaga dan memelihara anda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada masa lalu kami memperhatikan manusia banyak melakukan jama’ dan mempermudahnya. Menurut pendapat anda apakah pada kondisi dingin seperti sekarang ini dibolehkan untuk menjama’? semoga Allah membalas kebaikan anda.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab:</span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Manusia tidak boleh mempermudah dalam menjama’. Karena Allah Ta’ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">…إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا (103) سورة النساء </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em><span style="text-decoration:underline;">Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman</span></em>” (QS. An-Nisa: 103).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan juga firman-Nya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (78) سورة الإسراء.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)</em>” (QS. Al-Isro: 78).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jika sholat adalah kewajiban yang waktunya tertentu, maka menjadi keharusan untuk melakukan kewajiban ini pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan keumuman ayat: <em>Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir</em> (QS. Al-Isro: 78)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal ini dengan rinci, sebagaimana sabdanya (artinya):”<em>Waktu Dhuhur, yaitu jika matahari telah tergelincir sampai bayangan seseorang sama dengan panjang tubuhnya saat Ashar belum tiba. Waktu Ashar, yaitu saat matahari belum menguning. Waktu Maghrib selama mega belum hilang, dan waktu ‘Isya sampai pertengahan malam</em>” (HR. Muslim, no: 612).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi batasan waktunya dengan terperinci, maka melakukan sholat tidak pada waktunya termasuk melampaui batasan-batasan Allah.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka barangsiapa sholat sebelum waktunya dengan sengaja dan tahu, maka ia berdosa dan harus mengulanginya, namun jika tidak sengaja dan tidak tahu ia tidak berdosa tetapi harus mengulanginya. Dan hal ini berlaku juga bagi jama’ taqdim yang tanpa sebab syar’iy karena sholat yang maju waktunya tidak sah dan harus mengulanginya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Barangsiapa yang mengakhirkan sholat dari waktunya dengan sengaja dan ia tahu, tanpa halangan, maka ia berdosa dan sholatnya tidak diterima menurut pendapat yang kuat. Hal ini juga berlaku bagi jama’ takhir tanpa sebab syar’iy karena sholat yang diakhirkan dari waktunya, menurut pendapat yang yang kuat tidak diterima.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka hendaknya setiap muslim takut kepada Allah Azza wa Jalla dan jangan menganggap mudah urusan yang bear ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun riwayat dalam Shahih Muslim dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar, Maghrib dan ‘Isya di Madinah bukan karena ketakutan dan bukan karena hujan. Ini bukan dalil untuk mempermudah masalah ini, karena Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma ditanya: Apa maksud dari hal iyu? Beliau menjawab: Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam ingin untuk tidak menyulitkan ummatnya. Ini adalah dalil bahwa alasan dibolehkannya jama’ karena ada kesulitan untuk melakukan setiap sholat pada waktunya. Maka jika seorang Muslim menemui kesulitan untuk melakukan setiap sholat pada waktunya, ia dibolehkan atau disunnahkan untuk menjama’nya. Namun jika tidak ada ia wajib melakukan setiap sholat pada waktunya.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh karena itu jika hanya disebabkan karena dingin saja, tidak diperbolehkan menjama’ kecuali diiringi dengan udara yang membuat orang terganggu jika harus keluar menuju Masjid atau juga diiringi dengan salju yang mengganggu manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka nasehatku untuk saudara-saudaraku kaum Muslimin utamanya para imam, hendaknya berhati-hati dalam masalah ini (menjama’ sholat, pent). Dan hendaknya ia memohon pertolongan Allah Azza wa Jalla untuk melaksanakan kewajiban ini sesuai dengan yang diridloi-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ditulis oleh sekretaris Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin pada tanggal 8/7/1423 H.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Sumber: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no. 314. Dikutip dari Darussalaf.or.id offline dinukil dari http://abdurrahman.wordpress.com/2007/09/01/beberapa-fatwa-ttg-menjama-mengqoshor-sholat/ , Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah Judul: jarak perjalanan seorang musafir sehingga ia diperbolehkan melakukan qashor</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/08/mempunyai-dua-rumah-di-dua-tempat-apakah-shalatnya-boleh-di-qashar/" target="_blank">Mempunyai Dua Rumah Di Dua Tempat Apakah Shalatnya Boleh di Qashar?</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/17/4-empat-keringanan-dalam-safar-atau-bepergian/" target="_blank">4 (Empat) Keringanan dalam Safar atau Bepergian</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/08/07/bagaimana-cara-bertayammum-dalam-keadaan-sakit-atau-di-saat-berpergian-safar/" target="_blank">Bagaimana Cara Bertayammum Dalam Keadaan Sakit atau di Saat Berpergian (Safar)?</a><br />
5.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/26/macet-berjam-jam-hingga-keluar-waktu-shalat-bolehkah-menjamaknya/" target="_blank">MACET BERJAM-JAM Hingga Keluar Waktu Shalat, Bolehkah Menjamaknya?</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/1988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/1988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/1988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/1988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/1988/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1988&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/berapakah-jarak-perjalanan-seorang-musafir-yang-diperbolehkan-melakukan-qashor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Menarik Seseorang dari Shof Untuk Sholat Bersamanya?</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/bolehkah-menarik-seseorang-dari-shof-untuk-sholat-bersamanya/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/bolehkah-menarik-seseorang-dari-shof-untuk-sholat-bersamanya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 03:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Koreksi Shalat Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=1985</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan: ”Terjadi perdebatan antara jama’ah sholat, yaitu jika ada seseorang masuk masjid dan mendapati shof telah penuh sehingga ia tidak mendapatkan shof, maka bolehkah ia menarik seseorang dari shof yang telah sempurna tadi untuk sholat bersamanya? Ataukah ia harus sholat sendirian di belakang shof? Atau apakah yang harus dikerjakannya?
Jawab: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1985&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan: ”<em>Terjadi perdebatan antara jama’ah sholat, yaitu jika ada seseorang masuk masjid dan mendapati shof telah penuh sehingga ia tidak mendapatkan shof, maka bolehkah ia menarik seseorang dari shof yang telah sempurna tadi untuk sholat bersamanya? Ataukah ia harus sholat sendirian di belakang shof? Atau apakah yang harus dikerjakannya</em>?<span id="more-1985"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab:</span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Masalah ini mengandung tiga kemungkinan. Apabila seseorang mendapati shof telah sempurna, maka bisa jadi ia sholat sendiri di belakang shof atau ia menarik seseorang dari shof dan sholat bersamanya atau ia maju ke depan di samping kanan imam. Inilah tiga keadaan jika ia ikut sholat. Atau boleh jadi ia tidak ikut sholat berjama’ah. Lalu manakah yang dipilih dari empat hal ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kami katakan bahwa yang kita pilih dari hal-hal tersebut adalah hendaknya ia membuat shof sendiri dibelakang shof yang ada dan melakukan sholat bersama imam</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Hal ini karena yang wajib yaitu melakukan sholat berjama’ah dan berada dalam shof. Ini adalah dua kewajiban, jika sesuatu ada halangannya yaitu berada dalam shof, maka yang lain tetap wajib, yaitu sholat berjama’ah. <em><span style="text-decoration:underline;">Pada kondisi seperti ini kami katakan</span>: Sholatlah bersama jama’ah dibelakang shof agar engkau mendapatkan keutamaan berjama’ah. Sedangkan berdiri dalam shof pada kondisi seperti ini tidak wajib bagimu karena tidak dapat dilakukan</em>. Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:“<em><span style="text-decoration:underline;">Maka bertaqwalah kepada Allah semampumu”.</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebagai penguat tentang hal ini</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, bahwa wanita berdiri sendirian dibelakang shof jika tidak ada wanita lain bersamanya, karena ia tidak diperkenankan satu shof bersama kaum laki-laki. Ketika ia ada halangan syar’i untuk satu shof bersama kaum laki-laki maka iapun sholat sendirian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Begitu juga laki-laki ini yang datang ke masjid dan mendapati shof telah penuh, sehingga tidak ada tempat baginya untuk masuk shof, maka gugurlah kewajibannya untuk masuk shof, tetapi ia tetap wajib berjama’ah. Maka hendaklah ia tetap sholat di belakang shaf. <em><span style="text-decoration:underline;">Adapun harus menarik agar orang lain agar sholat di sampingnya, hal ini tidak layak, karena hal ini akan menyebabkan tiga hal, </span></em>yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama:</span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Membuat celah dalam shof</span></em>. Hal ini bertentangan dengan yang diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang merapatkan dan menutup celah dalam shof.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: <em><span style="text-decoration:underline;">Memindahkan orang yang ditarik tadi dari tempatnya yang utama ke tempat yang kurang utama. Hal ini termasuk kejahatan kepadanya</span></em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketiga:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Mengganggu sholat orang yang ditarik tadi, sebab bila ia ditarik tentunya hatinya akan terganggu kosentrasinya</span></em>. Dan hal ini termasuk kejahatan kepadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun bentuk ketiga, yaitu <em><span style="text-decoration:underline;">berdiri bersama imam, hal ini juga tidak tepat</span></em>. Karena kedudukan imam harus berbeda dengan tempat makmum. Sebagaimana ia juga memiliki kekhususan dalam ucapan maupun gerakan yang lebih dahulu dibanding makmum. Maka imam bertakbir sebelum lainnya bertakbir, imam rukuk sebelum lainnya rukuk dan juga sujud sebelum yang lainnya sujud. Maka sudah wajar jika tempatnya juga khusus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Posisi imam yang berada di depan para makmum adalah petunjuk dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Dan inilah hal yang nyata bahwa tempat imam adalah tempatnya khusus secara sendirian. Sehingga jika makmum berdiri bersama imam tentu akan hilang kekhususannya yang memang tidak layak kecuali bagi imam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun bentuk ke empat yang mana ia meninggalkan sholat berjama’ah tetntunya lebih tidak berdasar lagi.</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Karena berjama’ah itu wajib. Bershof juga wajib</em>. Jika ada salah satu yang tidak dapat dikerjakan, maka yang lainnya tidak terhapus karena yang satu tadi tidak dapat dikerjakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:navy;">Sumber: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no. 308. Dikutip dari Darussalaf.or.id offline dinukil dari http://abdurrahman.wordpress.com, Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah Judul: Etika Masuk Shof Ketika Sholat</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/11/janganlah-shaf-sholat-terputus-oleh-tiang-mesjid/" target="_blank">Janganlah Shaf Sholat Terputus Oleh Tiang Mesjid</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/10/wajibnya-meluruskan-shaf-dalam-shalat/" target="_blank">WAJIBNYA Meluruskan Shaf Dalam Shalat</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/24/jangan-engkau-shalat-kecuali-menghadap-sutrah-atau-pembatas/" target="_blank">Jangan Engkau Shalat Kecuali Menghadap Sutrah atau Pembatas</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/29/8-delapan-hal-wanita-sholat-berjam%e2%80%99ah-di-masjid/" target="_blank">8 (Delapan) Hal Wanita Sholat Berjam’ah di Masjid</a><br />
5.<a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/category/koreksi-shalat-kita/">KOREKSI SHOLAT-SHOLAT KITA</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/1985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/1985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/1985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/1985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/1985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/1985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/1985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/1985/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/1985/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/1985/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1985&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/bolehkah-menarik-seseorang-dari-shof-untuk-sholat-bersamanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>20 (Dua Puluh) Soal-Jawab Tentang Sholat Subuh</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/20-dua-puluh-soal-jawab-tentang-sholat-subuh/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/20-dua-puluh-soal-jawab-tentang-sholat-subuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 03:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Koreksi Shalat Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/?p=1983</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin
Banyaknya manusia yang lalai dari sholat Subuh, baik dalam pelaksaannya maupun dalam mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengannya, telah menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan masyarakat muslim. 
Maka berikut ini kami ketengahkan beberapa fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin -Salah seorang ulama besar Saudi Arabia- rahimahullâh berkaitan dengan sholat Subuh. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1983&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Banyaknya manusia yang lalai dari sholat Subuh, baik dalam pelaksaannya maupun dalam mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengannya, telah menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan masyarakat muslim. <span id="more-1983"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka berikut ini kami ketengahkan beberapa fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin -Salah seorang ulama besar Saudi Arabia- rahimahullâh berkaitan dengan sholat Subuh. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 1</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Apakah lebih baik memanjangkan sholat shubuh, khususnya (memanjangkan) bacaannya ?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab:</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Ya, termasuk sunnah dalan sholat shubuh hendaknya memanjangkan bacaannya. Dan hendaknya dari bacaan yang panjang diambil dari surat-surat Mufashshal yaitu dari surah Qaaf sampai Amma (An-Naba`,-pent) kemudian memanjangkan bacaannya, demikian pula memanjangkan ruku’ dan sujudnya lebih dari yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 2</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Seorang lelaki terkena junub beberapa menit sebelum sholat shubuh, apakah dia tayamum atau mandi ? Jika mandi, barangkali dia akan kehilangan sholat shubuh (berjama’ah, -pent), perlu diketahui bahwa sholat telah ditegakkan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Wajib baginya untuk mandi sekalipun kehilangan sholat berjama’ah, karena mandi dari junub termasuk syarat sahnya sholat menurut kesepakatan (para ulama). Adapun sholat berjama’ah wajib dan tidak mungkin bertentangan dengan syarat yang wajib.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 3</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Jika sekelompok orang dalam perjalanan (safar), kemudian salah satu dari mereka terkena junub, apakah dia harus mandi atau tayamum, perlu diketahui bahwa waktunya pendek dan saat itu musim dingin yang sangat menusuk, apa yang mesti dilakukan</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Jika mengkhawatirkan akan dirinya dari bahaya jika harus mandi, atau air hanya sedikit yang mereka butuhkan untuk minum dan masak, maka dia boleh tayamum. Dan jika air itu banyak atau mungkin bisa menjaga dingin dengan menjerangnya dan mandi di tempat yang terjaga dari hawa dingin, maka wajib baginya untuk mandi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 4</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: <em>Banyak dari para imam yang terus menerus membaca beberapa surah yang di dalamnya ada ayat sajadah khususnya hari jum’at, apakah hal itu ada dasarnya atau tidak</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : Adapun membaca ayat-ayat yang di dalamnya ada ayat sajadah maka tidak mengapa untuk membacanya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur`ân</em>.&#8221; (QS. Al-Muzzammil : 20)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun membaca ayat sajadah pada hari jum’at, maka yang disyari’atkan adalah hendaknya seseorang membaca, Alif Laam Miim Tanzil yakni surah As-Sajadah pada raka’at pertama dan Hal Atâ ‘Alal Insân (Yaitu surah Al-Insân,-pent.) pada raka’at yang kedua. Bukanlah yang dimaksud dengan Alif Laam Miim Tanzil adalah surah yang di dalamnya ada ayar sajadah tapi yang dimaksudkan adalah surah (As-Sajadah) itu sendiri. Jika mudah baginya untuk membaca (surah As-Sajadah) pada raka’at pertama dan pada Hal Atâ ‘Alal Insân raka’at kedua, maka inilah yang disyari’atkan. Kalau tidak, maka janganlah menyengaja membaca surat yang di dalamnya ada ayat sajadah sebagai ganti dari surat As Sajadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 5</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Banyak orang yang mereka memiliki kesiapan yang sempurna untuk menunaikan sholat subuh, kemudian meletakkan semua sebab namun tidak juga menunaikan sholat, maka apa yang mesti kita nasehatkan terhadap orang-orang seperti mereka? Apa hukum sholatnya setelah dia bangun? Apa dia berdosa</em>?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Wajib baginya untuk mengerjakan semua sebab yang menjadikannya dia mengikuti sholat shubuh dengan berjama’ah, diantaranya dengan tidur lebih awal, karena sebagian orang suka terlambat tidur dan mereka tidak tidur kecuali menjelang shubuh kemudian tidak mampu untuk bangun sekalipun sudah memasang jam weker dan menyuruh orang untuk membangunkannya. Oleh karena itu, kami menasehati dia dan orang yang seperti dia agar mereka tidur lebih awal sehingga bisa bangun dengan mudah dan mengikuti sholat berjama’ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun apakah dia berdosa ? Ya, dia berdosa jika sebabnya adalah hal seperti ini, baik karena keterlambatan tidur atau karena meninggalkan kehati-hatian untuk bisa bangun maka dia berdosa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 6</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Sekelompok orang dalam rihlah atau safar, kemudian mereka semua tertidur dari sholat shubuh dan tidak bangun kecuali setelah matahari terbit, apakah mereka mengqadha’ sholat dengan berjama’ah atau sendiri-sendiri ? Apakah imam mengeraskan bacaannya, sementara mereka menunaikannya pada saat seperti ini</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Ya, jika ditaqdirkan mereka sekelompok orang dalam safar dan semua tertidur dan tidak bangun kecuali setelah matahri terbit, maka hendaknya mereka berjalan dulu dari tempat mereka berada, kemudian wajib dikumandangkan adzan dan sholat sunnah rawatib fajar kemudian iqamah dan mereka menunaikan sholat secara berjama’ah dan imam mengeraskan bacaannya sebagaimana telah dikerjakan oleh Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa sallam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 7</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Ada</em><em> sebagian orang yang memberi perhatian khusus sholat shubuh berjama’ah hanya di bulan Ramadhan saja dan tidak mengerjakannya di bulan yang lain, apa nasehat anda kepada mereka </em>?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Saya nasehatkan kepada mereka agar bertaqwa kepada Allah Ta’âlâ dalam semua waktunya baik di bulan Ramadhan atau di bulan yang lainnya karena manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah Ta’âlâ sampai maut mendatanginya, Allah Ta’âlâ berfirman,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8221; <em>Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).&#8221; </em>(QS. Al Hijr : 99)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 8</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Apa hukum orang yang luput baginya sholat shubuh secara berjama’ah karena membangunkan anak-anaknya ? Apa nasehat anda</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Saya nasehatkan agar membangunkan anak-anaknya sebelum adzan sehingga bisa menunaikan sholat berjama’ah, tidak halal baginya untuk meninggalkan sholat berjama’ah lantaran membangunkan anak-anaknya. Jalan keluarnya adalah dengan membangunkan mereka lebih awal dalam tempo yang bisa untuk membangunkan mereka dan mendapatkan sholat berjama’ah. Adapun membiarkan mereka sampai terdengar adzan kemudian bangkit membangunkan mereka, maka terkadang anaknya banyak dan tidurnya lelap maka ini berarti sikap ceroboh darinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 9</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>: Apa hukum orang yang menunaikan semua sholat (dengan berjama’ah) kecuali sholat shubuh </em>?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Dia berdosa dengan meninggalkan sholat shubuh berjama’ah, wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’âlâ dan menunaikan sholat shubuh dengan berjama’ah. Maka dikhawatirkan dengan kumunafikan pada orang yang seperti itu keadaannya karena Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">أَثْقَلُ الصَّلَوَاتِ عَلَى الْمُنَافِقِيْنَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Sholat yang paling berat terhadap orang-orang munafiqin adalah sholat Isya’ dan sholat Subuh, jika mereka mengetahui (keutamaan) apa yang ada pada keduanya (yakni sholat Isya’ dan sholat Subuh) pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak</em>.&#8221; (Muttafaq ‘alaih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 10</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Apakah imam masjid bertanggung jawab dengan sholat berjawab ? Apa nasehat anda kepadanya</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : Tidaklah imam masjid bertanggung jawab dengan jama’ahnya, namun hendaknya dia mengingatkan mereka dengan nasehat dan bimbingan. Baik nasehat itu bersifat umum yang dia berbicara terhadap mereka di masjid atau secara khusus dimana ketika melihat sesorang menggampangkan (sholat berjama’ah) kemudian dia datangi dan menasehatinya, maka dia bertanggung jawab terhadap mereka dalam hal yang berkaitan dengan sholat. Artinya hendaknya dia mengerjakan dalam sholatnya dengan cara yang lebih sempurna, tidak terburu-buru yang menghalangi mereka untuk melakukan hal-hal yang disyari’atkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 11</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Apa hukum orang yang tertidur dari sholat Isya’ kemudian bangun untuk sholat shubuh dan menunaikannya, namun di tengah-tengah sholatnya dia ingat belum mengerjakan sholat Isya’, apakah dia menyempurnakan sholat subuhnya atau apa yang musti dikerjakan</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Ya, dia menyempurnakan sholat shubuhnya kemudian sholat Isya’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 12</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <strong>Apakah cukup dengan adzan pertama untuk mengerjakan sholat shubuh sebelum waktunya </strong>?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : Tidak cukup dengan adzan pertama untuk mengerjakan sholat shubuh, karena adzan untuk sholat itu tidak dikerjakan kecuali setelah masuk waktunya, karena Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">إِذَا حَضَرَتِ الصّلَاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدَكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرَكُمْ قُرْآنًا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Jika sudah tiba waktu sholat maka hendaknya salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan mengimami kalian yang paling banyak (hafalan) Al-Qur`annya</em>.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 13</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Apa hukum orang yang memasang jadwal waktu kerja resmi dan sholat shubuh dalam waktu tersebut, baik itu jam tujuh atau jam setengah tujuh, apakah dia berdosa, bagaimana hukum sholatnya</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : Dia berdosa dalam perbuatannya itu tanpa ada keraguan dan dia termasuk orang yang lebih mementingkan dunia mengalahkan akhiratnya. Allah Ta’âlâ telah mengingkarinya dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal</em>.&#8221; (QS. Al-A’lâ : 16-17)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sholatnya yang seperti ini tidak akan diterima dan bisa lepas dari tanggung jawabnya, kelak dia akan dihisab karenanya pada hari kiamat maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’âlâ dan hendaknya sholat bersama kaum muslimin kemudian tidur setelah itu sampai waktu kerja resminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 14</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Apa nasehat anda secara umum kepada semua laki-laki dan perempuan</em>?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Saya nasehatkan kepada setiap muslim untuk menjaga sholat shubuhnya dan sholat-sholatnya yang lain karena sholat merupakan tiang agama yang merupakan ibadah yang paling pokok setelah mengucapkan dua kalimah syahadat. Barang siapa meninggalkannya maka dia telah kafir dan barang siapa yang menyia-nyiakannya maka dia dalam bahaya. Allah Ta’âlâ berfirman,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dantidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun</em>.&#8221; (QS. Maryam : 59-60)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maka jika mereka bertaubat dan beramal shalih, diharapkan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan janji dari Allah Ta’âlâ dengan firman-Nya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun</em>.&#8221; (QS. Maryam : 60)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 15</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Seorang laki-laki luput baginya sholat subuh berjama’ah bersama kaum muslimin, apakah dia sholat rawatib atau cukup sholat shubuh saja ? Perlu diketahui bahwa jama’ah sudah keluar dari masjid</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Dia dahulukan sunnah (rawatib) dari sholat yang wajib (shubuh) karena rawatibnya sholat shubuh adalah sebelum mengerjakan sholat shubuh, sekalipun orang-orang yang sholat telah keluar dan sekalipun telah keluar dari waktunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 16</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Jika orang-orang menunaikan sholat ‘Idul Fitri di tempat sholat shubuh maka apakah makan beberapa butir kurma sebelum sholat shubuh atau lebih utama pulang kepada keluarganya kemudian membuat langkah baru untuk menunaikan sholat ‘ied</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Jika tidak mungkin untuk pulang, kita katakan : Jangan keluar dari rumah sampai makan dahulu karena keluarmu dari rumah dengan menunaikan sholat shubuh dan sholat ‘ied.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 17</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Jika seorang muadzin lupa mengucapkan &#8220;Ash-Sholâtu Khairun Minan Naum&#8221; apa yang mesti dia lakukan</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Jika seorang muadzin lupa mengucapkan &#8220;Ash-Sholâtu Khairun Minan Naum&#8221; maka yang dikenal oleh para ulama bahwa adzannya sah, karena ucapan &#8220;Ash-Sholâtu Khairun Minan Naum&#8221; dalam adzan shubuh itu hukumnya sunnah bukan wajib dengan dalil bahwa Abdullah bin Zaid radhiyallâhu ‘anhu ketika melihat adzan dalam tidurnya, beliau melihatnya dan tidak ada lafadz ini maka ucapan ini adalah tidak wajib dan jika dikumandangkan oleh sesorang dalam adzan shubuh setelah masuk waktu shubuh maka itu lebih utama dan jika tidak melafadzkannya maka tidak mengapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 18</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Sesorang ketinggalan satu raka’at dari sholat shubuh, apakah dia menyempurnakan dengan jahr (bacaan keras) atau sirr (bacaan pelan) </em>?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Dia boleh memilih, namun lebih utama untuk menyempurnakannya dengan sirr karena barangkali ada orang lain yang menunaikannya maka akan mengganggunya jika dikeraskan bacaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 19</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : <em>Saya duduk (di dalam masjid,-pent) sampai terbit matahari dan belum mengerjakan sholat sunnah sebelum shubuh, apakah cukup dengan mengerjakan sholat sunnah Isyraq tanpa mengerjakan sholat sunnah sebelum shubuh</em> ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Apakah kita katakan sampai Isyraq atau sampai Syuruq? Syuruq adalah terbitnya matahari sebelum naik sampai sepenggalah dan Isyraq adalah menyebarnya cahaya matahari. Yang jelas jika kamu menunaikan sholat Isyraq maka itu belum mencukupi dari mengerjakan sholat sunnah sebelum shubuh dan jika mengerjakan sholat sunnah sebelum shubuh ini juga tidak mencukupi, karena zhahirnya adalah seorang muslim mengerjakan dua raka’at khusus untuk Isyraq dan hal ini lebih hati-hati. Maka dia mengerjakan sholat sunnah fajar kemudian sholat sunnah Isyraq.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Soal 20</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> : Saya mendengar hadits –Wallähu A’lam- yakni,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِيْ جَمَاعَةٍ ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةً تَامَّةً تَامَّةً</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;<em>Barang siapa yang sholat shubuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian sholat dua raka’at maka baginya seperti pahala haji dan umrah sempurna, sempurna dan sempurna</em>.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: <em>Apakah hadits ini shahih atau lemah? Mudah-mudahan Allah membalas anda dengan kebaikan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">: Hadits ada syahidnya dalam shahih Muslim bahwa Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam jika sholat shubuh beliau duduk di tempat sholatnya sampai terbit matahari adalah hasan, namun yang ada dalam shahih tidak menyebutkan bahwa Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam sholat sesudah itu. Dan hadits yang disebutkan oleh penanya adalah tidak mengapa dan sanadnya adalah hasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:#333399;">Sumber :http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=395 dinukil dari http://an-nashihah.com Penulis: Oleh Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin Judul: Fiqih Shalat Subuh</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/08/04/keutamaan-qabliyah-shubuh-sholat-2-raka%e2%80%99at-sebelum-sholat-subuh/" target="_blank">Keutamaan Qabliyah Shubuh, Sholat 2 Raka’at Sebelum Sholat Subuh</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/24/terus-menerus-qunut-dalam-sholat-subuh/" target="_blank">Terus Menerus Qunut Dalam Sholat Subuh</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/10/antara-shalat-shubuh-nampak-cahaya-terang-gelap-diakhir-akhir-malam-gholas-dan-shalat-diawal-waktu/" target="_blank">Antara Shalat Shubuh nampak cahaya terang, Gelap diakhir-akhir malam (Gholas) dan Shalat diawal waktu</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/05/bagaimana-pakaian-yang-seharusnya-dikenakan-ketika-waktu-sholat/" target="_blank">Bagaimana Pakaian yang Seharusnya Dikenakan Ketika Waktu Sholat?</a><br />
5.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/17/bagaimana-cara-agar-sholat-menjadi-khusyu%e2%80%99/" target="_blank">AGAR SHOLAT MENJADI KHUSYU&#8217;</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/1983/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/1983/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/1983/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/1983/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/1983/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/1983/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/1983/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/1983/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/1983/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/1983/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1983&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/19/20-dua-puluh-soal-jawab-tentang-sholat-subuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Menolak Menikahkan Anak Perempuannya Karena Alasan Study</title>
		<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/16/orang-tua-menolak-menikahkan-anak-perempuannya-karena-alasan-study/</link>
		<comments>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/16/orang-tua-menolak-menikahkan-anak-perempuannya-karena-alasan-study/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 03:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keanehan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[seksologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/16/orang-tua-menolak-menikahkan-anak-perempuannya-karena-alasan-study/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Alu Fauzan 
Soal: Ada adat yang terjadi, yaitu orang tua yang menolak anak perempuannya untuk dinikahi (ketika ada yang melamarnya) dengan alasan menyelesaikan studi di Universitas atau belajar untuk beberapa tahun. Apa hukumnya? Bagaimana nasehat Syaikh bagi mereka? karena terkadang ada sebagian muslimah yang belum menikah pada umur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1981&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;">Penulis: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Alu Fauzan </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Soal: Ada adat yang terjadi, yaitu <em><span style="text-decoration:underline;">orang tua yang menolak anak perempuannya untuk dinikahi (ketika ada yang melamarnya) dengan alasan menyelesaikan studi di Universitas atau belajar untuk beberapa tahun.</span></em> Apa hukumnya? Bagaimana nasehat Syaikh bagi mereka? <em><span style="text-decoration:underline;">karena terkadang ada sebagian muslimah yang belum menikah pada umur 30 tahun atau lebih</span></em>.<span id="more-1981"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Jawab : Hukum perkara yang demikian adalah menyelisihi perintah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, karena beliau bersabda: ”<em><span style="text-decoration:underline;">Apabila datang kepada kalian seseorang yang diridhai (baik) agamanya maka nikahkanlah</span></em>.” (HR. At-Tirmidzi, beliau berkata: Hadits hasan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">“<em>Wahai para pemuda barangsiapa di antara kalian yang telah mampu memberikan ba’ah (mahar, nafkah, dll.) maka menikahlah, karena sesungguhnya menikah itu menundukkan pandangan, dan menjaga farj (kemaluan)</em>.(HR.Al-Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Melarang menikah mengakibatkan seseorang tidak mendapatkan maslahat nikah (kebaikan-kebaikan yang didapat dalam pernikahan). Oleh sebab itu <em><span style="text-decoration:underline;">saya nasehatkan kepada para wali perempuan dan para muslimah agar tidak melarang seseorang yang akan menikah dengan alasan menyelesaikan studi atau belajar</span></em>. <em>Memungkinkan bagi seorang perempuan mensyaratkan pada suaminya untuk menemani sampai selesai studinya dengan syarat tidak disibukkan dengan anak-anaknya. Yang seperti ini boleh. Akan tetapi, keberadaan perempuan yang belajar pada tingkat universitas adalah suatu hal yang tidak perlu</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Saya pandang, sesungguhnya apabila seorang perempuan telah selesai studinya pada tingkat Ibtidaiyah (di Makkah) yang menjadikannya mampu membaca dan menulis, kemudian diamalkan untuk membaca kitabullah dan tafsirnya, hadits-hadits Rasulullah dengan syarah-nya (penjelasannya), maka sudah cukup baginya. Kecuali apabila ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu yang dibutuhkan manusia, seperti ilmu kedokteran. Meskipun demikian, tetap dengan syarat tidak adanya ikhthilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan di satu tempat) atau yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;">(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu &#8216;Isa Nurwahid dari Kitab As ilah Muhimmah) Sumber: Buletin Al Atsary, Semarang Edisi 22/1428. Dikirim via email oleh Al Akh Dadik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:#333399;">Dikutip dari darussalaf.or.id offline Penulis: Fadhilatu Asy Syaikh ‘Allamah Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Alu Fauzan, Judul: Tanya jawab</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini:<br />
1.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/17/nasehat-bagi-wanita-yang-terlambat-menikah/" target="_blank">Nasehat Bagi Wanita yang Terlambat Menikah</a><br />
2.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/27/hukum-nikah-dalam-keadaan-hamil/" target="_blank">NIKAH DALAM KEADAAN HAMIL- HAMIL DI LUAR PERNIKAHAN</a><br />
3.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/bila-jodoh-tak-kunjung-tiba/" target="_blank">Bila Jodoh… tak Kunjung Tiba !</a><br />
4.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/14/janganlah-ingkar-janji/" target="_blank">JANGANLAH INGKAR JANJI</a><br />
5.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/17/hukum-memakai-cincin-pertunangan-atau-cincin-kawin/" target="_blank">Memakai Cincin Pertunangan atau Cincin Kawin</a><br />
6.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/15/menggugurkan-janin-kandungan-aborsi/" target="_blank">Aborsi, Menggugurkan Janin (Kandungan)</a><br />
7.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/18/rukun-dan-syarat-akad-nikah/" target="_blank">CARA MENGUCAPKAN IJAB KABUL</a><br />
8.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/29/pernikahan-menurut-islam-dari-mengenal-calon-sampai-proses-akad-nikah/" target="_blank">Pernikahan Menurut Islam dari Mengenal Calon Sampai Proses Akad Nikah</a><br />
9.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/09/arti-sebuah-cinta/" target="_blank">ARTI SEBUAH CINTA !</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qurandansunnah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qurandansunnah.wordpress.com/1981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qurandansunnah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qurandansunnah.wordpress.com/1981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qurandansunnah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qurandansunnah.wordpress.com/1981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qurandansunnah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qurandansunnah.wordpress.com/1981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qurandansunnah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qurandansunnah.wordpress.com/1981/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qurandansunnah.wordpress.com&blog=7391573&post=1981&subd=qurandansunnah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/16/orang-tua-menolak-menikahkan-anak-perempuannya-karena-alasan-study/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ada200a4d0fa1ebe5381bacceb797bc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>