Qur'an dan Sunnah

Agama itu Nasehat

6 (Enam) Hal Menjadikan Sebab KEKUFURAN

Posted by Admin pada 16/03/2010

Kekafiran atau kufur dalam bahasa Arab asalnya berarti penutup. Adapun dalam istilah syariat berarti lawan dari iman.

Kufur bisa terjadi karena beberapa sebab antara lain:

1. Mendustakan atau tidak mempercayai.

2. Ragu terhadap sesuatu yang jelas dalam syari’at.

3. Berpaling dari agama Allah.

4. Kemunafikan yakni menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman.

5. Sombong terhadap perintah Allah `Azza wa Jalla seperti yang dilakukan iblis.

6. Tidak mau mengikrarkan kebenaran agama Allah bahkan terkadang dibarengi dengan memeranginya, padahal hatinya yakin kalau itu benar, seperti yang terjadi pada Fir’aun.

Keenam hal ini termasuk dalam kufur akbar (kufur besar) yang menjadikan pelakunya keluar dari Islam atau murtad. Terkadang kufur besar terjadi dengan ucapan atau perbuatan yang sangat bertolak belakang dengan iman seperti mencela Allah dan Rasul-Nya atau menginjak al Qur’an dalam keadaan tahu kalau itu adalah Al Qur’an dan tidak terpaksa.

Di samping yang tersebut di atas, ada pula kufur ashghar (kufur kecil), yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama atau tidak menjadikan murtad. Kufur ashghar yaitu perbuatan-perbuatan dosa yang disebut dengan istilah kekafiran dalam Al Qur’an maupun As Sunnah tapi belum mencapai derajat kufur besar. Misalnya kufur nikmat sebagaimana tersebut dalam surat An-Nahl ayat 112, atau membunuh seorang muslim.

Kesalahan memahami makna kufur:

Terdapat beberapa kesalahan dalam memahami makna kufur dalam penggunaan syariat, antara lain:

1. golongan orang memahami bahwa kekafiran hanya terbatas pada takdzib (pendustaan atau tidak percaya). Hal ini seperti diyakini oleh kelompok Murji’ah. Menurut mereka orang yang melakukan kekafiran dengan lisan atau amal seperti mencela Allah misalnya, dalam keadaan tahu dan tidak terpaksa, jika hatinya masih beriman maka ia tetap mukmin. Ini jelas salah.

2. golongan orang memahami bahwa kufur hanya terbatas pada kufur besar yang mengeluarkan dari agama saja. Dari sini mereka memahami (menafsirkan) semua lafadz kufur dalam Al Qur’an maupun hadits dengan makna ini (kufur besar). Akhirnya orang yang membunuh dianggap oleh mereka kafir, orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dianggap pula kafir secara mutlak. Ini juga salah karena walaupun perbuatan-perbuatan tersebut terdapat dalam syariat namun ada dalil lain yang menunjukan bahwa semua itu belum mencapai tingkatan kufur besar. Perbuatan tersebut digolongkan sebagai kufur kecil atau diistilahkan oleh ulama dengan kufrun duna kufrin, yakni kekafiran di bawah kekafiran yang besar.

Sumber bacaan:

1. Al Haqiqatus Syar’iyyah, Muhammad Umar Bazmuul, hal.148

2. Mujmal Masa’il Al Iman, Ali Hasan, Salim Hilali dll., hal. 7

3. Kitabut Tauhid, Shalih Al Fauzan, hal. 14-15

4. Al Hukmu Bighairi ma Anzalallah, Khalid Al Anbari, hal. 28-29

Sumber: http://www.asysyariah.com Penulis : Al Ustadz Qomar Suaidi, Lc Judul: KUFUR

Baca Artikel Berikut ini :
1.Hakikat Sombong adalah Menolak Kebenaran dan Meremehkan Orang lain
2.Jangan Berprasangka Buruk Terhadap Orang Lain dan Jangan Pula Mendengarkan Ucapan Orang Lain Dalam Keadaan Mereka Tidak Suka
3.Janganlah Kalian Takut Kepada Manusia dan Takutlah Kalian Kepada Allah
4.Nasehat-Nasehat Para Ulama Salaf
5.Akankah Amalku Diterima ?
6.22 Perkara Yang Membatalkan Amalan Seseorang

Iklan

2 Tanggapan to “6 (Enam) Hal Menjadikan Sebab KEKUFURAN”

  1. 4Ndik said

    …”Keenam hal ini termasuk dalam kufur akbar (kufur besar) yang menjadikan pelakunya keluar dari Islam atau murtad.””
    pernyataan diatas memang bener.., tapi kondisional muslim sekarang ini beda dengan waktu jaman para sahabat. banyak sekali sekarang orang yang tahu /memahami syariat tapi ia berpaling ..
    apakah hal seperti ini dengan mudah sesama muslim mengklaim kafir.. benarkah seperti itu… ????

    ———————-
    ummat semakin jauh dari kurun para sahabat .. makin jelek /buruk kondisi ummat dalam beragama,
    Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم Bersabda:
    خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
    “Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim)

  2. tryzer said

    assalumalaikum…. saya setuju dengan yg tertulis diatas. hanya saja terkadang semakin saya mempelajari tentang agama. dan kemudian saya mempelajari filsafat terkadang ada kejanggalan-kejanggalan yang saya tidak tahu mana yg benar dan mana yg salah. karena jika kita belajar filsafat kita selalu mengedepankan akal rasional. dan agama tidak selalu akal yg dikedepankan. ada saja persoalan yg tidak bisa kita pecahkan dan ujung-ujung nya kembali pada iman dan keyakinan. jadi bagaimana kita menanggapi hal yg seperti itu. mohon saranya bagi semua yg membacanya. trimss… wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: